
...Part 01...
Adara mendengus, dia menatap marah lurus ke depan. Udara AC di atasnya sama sekali tidak mendinginkan hati dan pikirannya, apalagi cat pink kesukaannya di kedai es krim itu. Dengan kesal, Adara meletakkan sendoknya ke dalam mangkuk es krim choco mintnya yang tersisa setengah. Tangan Adara mengepal dengan erat saat melihat tangan itu saling bersentuhan dengan erat.
"Damn, jadi gue beneran diselingkuhin?" gumam Adara
Adara masih diam di kursinya, hatinya memberontak memintanya berdiri dan memberi bogeman pada Jason yang sialan brengs*k itu namun Adara memilih menunggu waktu yang tepat. Sebenarnya, otak Adara tengah berfikir untuk mencari cara untuk menghukum pacarnya itu dan Adara menemukannya tepat saat kedua orang yang sedari tadi menjadi santapan pengamatannya berdiri hendak meninggalkan kedai.
"Dasar manusia murahan," desis Adara
Mangkuk es krim Adara yang tersisa setengah digotong oleh Adara sendiri, dan Adara mulai melangkah dengan langkah angkuhnya mendekati kedua orang itu. Dan dengan keras, Adara dengan sengaja menabrak tubuh gadis di samping Jason dan tidak lupa menumpahkan es krim di dalam mangkuknya ke dress murahan gadis itu.
Argh...
Adara menutup mulutnya dengan gaya meledeknya. "Ops, sorry. I really don't mean that."
Dan Adara segera menatap lurus ke arah Jason yang terlihat begitu terkejut, bahkan Adara merasa ingin menusuk mata Jason yang membesar itu dengan garpu agar pemuda itu bisa melihat dengan jelas perbedaannya dengan gadis di samping Jason itu.
"Dara? Kenapa lo bisa di sini?" tanya Jason
"Buat kasih hukuman ke cewek nggak tahu diri ini," kata Adara
Adara bisa melihat Jason tengah gelagapan saat itu, mata Jason terlihat bergerak melihat ke arah sekitar kedai. Adara tahu jika mereka menjadi pusat perhatian sejak dirinya dengan lancang menumpahkan setengah mangkuk es krim ke dress gadis itu. Tapi, Adara malah senang karna Adara akan menunjukkan hukuman ke gadis itu karena sudah berani mengambil milik Adara dengan lancang.
"What's wrong with you, Dara?" tanya Jason geram
Adara menangkapnya dengan cepat, dia tahu Jason tengah bermain aman di sini. Adara yakin Jason sengaja berbicara dengan bahasa inggris agar pengunjung di sana tidak menghiraukan mereka lagi.
"Seharusnya, gue yang tanya sama lo," Adara berjalan mendekati Jason, "apa yang lo lakuin sama cewek ini? Lo selingkuh!"
Dan Adara tersenyum miring, ketika seluruh pengunjung bahkan staff kedai di sana menoleh ke arah mereka. Adara tidak peduli lagi dengan kemungkinan terburuk yang akan dia tanggung seperti Jason memilih gadis itu dan memutuskannya, setidaknya Adara akan membuat gadis sialan di samping Jason itu malu seumur hidupnya.
"Adara!" bentak Jason
Adara menutup telinga beberapa detik lalu menatap nyalang ke arah Jason, selama Adara mengenal Jason pemuda itu tidak pernah membentaknya dan baru saja Jason membentaknya karena gadis itu?
"Kenapa? Lo mau lindungin dia, yang jelas-jelas udah rebut lo dari gue?"Adara menatap marah ke arah Jason dan gadis itu, "benar-benar gila. Gue nggak nyangka lo bakal segila ini, Jason."
"Gue bisa jelasin ke lo, Dara." Tiba-tiba, gadis itu membuka suaranya.
Dan Adara hanya menatapnya datar seolah tidak mempedulikan pembelaan yang akan dilontarkan gadis sialan itu. "Jelasin kalo lo dan Jason saling cinta dan gue yang salah di sini? Dan jangan sebut nama gue, gue bahkan nggak kenal dan nggak mau kenal sama lo."
Adara menang telak, gadis itu kembali membungkam mulutnya. Dan Adara memilih untuk menatap penuh sangsi ke arah Jason yang terlihat bimbang di saat itu, bahkan Adara yakin Jason tengah gugup karena tangan pemuda itu terlihat tremor.
"Gue memang cinta sama Tiara, dan kita saling mencintai juga. Dan gue mau kita putus," kata Jason dengan sedikit keras walaupun tangan pemuda itu masih tremor.
Adara sudah tidak menahan amarahnya lagi, dia bahkan menghiraukan telinganya yang berdenging karena suara keras telapak tangannya yang sudah menampar pipi Jason. Bahkan, Adara juga merasakam panas pada telapak tangannya tetapi Adara tidak mempedulikannya setidaknya darahnya yang mendidih sudah sedikit mendingin dengan tamparan itu.
"Ok, kita putus. Lo emang nggak sebanding dengan gue seperti kata mama gue," balas Adara
Dan Adara puas melihat dua orang di depannya itu terlihat mengeraskan rahang mereka. Adara melangkah selangkah mendekati Jason dengan tenang lalu menepuk bahu Jason sekali. "I hope you'll happy with her, cause i'm not reuse a trash."
Setelahnya, Adara menyingkirkan tangannya dari bahu Jason dan membersihkannya dengan tisu yang ada di atas meja di dekat dia berdiri lalu melenggang pergi begitu saja. Dan Adara mulai merasakan sesak di dadanya ketika menemukan fakta jika Jason sama sekali tidak mengejarnya.
"That's bastard!" maki Adara pelan
***
Pening, Adara merasakan kepalanya hampir pecah setelah dirinya menyelesaikan tegukan terakhir dari segelas vodka yang dia pesan beberapa menit tadi. Sialan, Adara tidak pernah berfikir jika mabuk akan seperti ini bahkan Adara mulai membenci bau mulutnya sendiri yang sangat menyengat akan bau vodka.
"Sialan, Jason sialan," maki Adara
Suara detuman musik di bar membuat Adara merasa semakin kesal, dan rasa pusing yang membuat kepala Adara terasa berputar sendiri membuat Adara memilih mengistirahatkan kepalanya ke meja. Adara merasa takut setelahnya, dia tidak mungkin bisa pulang dalam keadaan seperti ini apalagi orang tuanya ada di rumah dan Mada -kakak tercintanya itu pergi entah kemana.
Adara mungkin tidak akan setakut ini jika dia tahu Mada dimana, karena kakak tercintanya akan tetap membelanya. Toh, Adara juga sudah berumur tujuhbelas tahun dan itu cukup untuk menjadi alasan Adara bisa masuk di bar itu dan berakhir mabuk sendirian seperti orang depresi karna putus cinta. Aha, Adara memang putus cinta pada dasarnya.
Dengan susah payah, Adara mencari ponselnya yang ada di dalam tasnya. Adara mengumpat setelahnya karena tasnya malah terjatuh ke lantai sesaat ponselnya berada di genggamannya. "Oh, ****."
Ketika Adara membungkuk untuk meraih tas mewahnya yang di lantai, tubuh Adara limbung. Adara memejamkan matanya seraya memikirkan untuk mati jika saja wajahnya benar-benar mencium lantai kotor di bawah kakinya. Namun, dari seperkian detik Adara memikirkan untuk mati saja, Adara justru tidak merasakan dingin ataupun kerasnya lantai yang dia bayangkan. Adara mencoba membuka matanya perlahan, dan Adara menemukan sebuah wajah asing dan sedikit buram tepat di depan wajahnya bahkan Adara bisa merasakan deru nafas panas di pipinya.
"Bisa nggak setidaknya lo nutup mulut lo itu,"
Adara melongo, bahkan dia baru sadar jika dirinya tengah menatapi wajah di atasnya itu dengan mulut terbuka. Buru-buru Adara membungkam mulutnya dan berusaha berdiri walaupun Adara justru semakin merasakan pusing yang luar biasa saat dirinya berhasil berdiri sedikit tegap. Adara tidak memikirkan sosok yang sudah menyelamatkan nyawanya dari harapan untuk mati saja daripada berakhir malu setengah mati.
Adara memilih menyenderkan tubuhnya ke meja bertender dan membuat panggilan cepat kepada Mada. Adara butuh Mada untuk membawanya pergi dan pulang dari bar itu. Namun, sepertinya kesialan masih membayangi Adara hari ini -Mada tidak mengangkat panggilan dari Adara.
"Damn, where is him?" gumam Adara
"Lo dicampakkan sama pacar lo?"
Adara menoleh dengan cepat ke arah sosok asing itu, wajahnya terlihat buram di mata Adara karena pengaruh alkoholo dan juga rasa pusing yang masih mendera Adara. Namun, perkataan sosok asing itu cukup memberi tenaga Adara setidaknya untuk mengumpatinya dan sebuah tamparan keras sebelum akhirnya ambruk tak sadarkan diri.
Plak...
"Shut up your mouth!"
***