
...Bad Girl's Coming Out...
...***...
Dara memperhatikan seluruh isi kelas, dari bentuk jendela, rak buku, lalu penghuninya. Dara memutar bola matanya ketika melihat Hana ada di barisan dua menatapnya bosan -harusnya Dara yang menatapnya begitu. Lalu, dia melirik ke arah pemuda di samping Hana -sangat jauh dari Mada pikir Dara, lebih keren Mada.
Hingga, dia bertemu tatap dengan gadis imut dengan kulit lebih pucat dari yang lainnya. Dara mengenalnya, dan dia menginginkan gadis itu sepenuhnya.
"Silahkan perkenalkan dirimu, Dara." Ericka, wali kelasnya itu akhirnya mempersilahkan Dara untuk memperkenalkan dirinya.
"Hai, namaku Adara Adinata. Panggil saja Dara," kata Dara ramah
Sorakan penuh semangat terdengar dan Dara hampir bosan mendengarnya. Ini hal biasa yang dia dapat, tentu saja siapa yang bisa menolak pesona yang melekat di setiap keturunan Adinata? Tidak ada, kecuali Hana.
Dara rasanya ingin menculik Hana dan mencuci otaknya agar memuja-muja setiap keturunan Adinata hingga ingin mati rasanya. Dara menahan tawanya ketika pemikiran itu melintas di otaknya.
"Ok, Dara kamu boleh duduk di sebelah Kaindra," ucap bu Ericka
Dara menatap bangku yang ditunjuk bu Ericka, dan dia bertemu tatap dengan pemuda itu -Kaindra. Dia mulai berjalan mendekati pemuda itu, dan dia sadar Kaindra tengah tidak fokus beberapa kali pemuda itu menoleh ke belakang dimana bangku Hana berada.
"Bu, saya keberatan. Seharusnya, Hana yang duduk di sini sama saya," tutur Kaindra tiba-tiba ketika Dara hampir duduk di kursi kosong di sebelahnya.
Dara melongo, dia melirik ke arah Hana yang juga menatapnya beberapa detik lalu menatap ke arah Kaindra dengan tatapan bosan.
"Hei, Kai. Apa kamu nggak liat? Aku pilih duduk di sini sama Hendra, aku udah bos-"
"Nggak boleh, kamu kan sekretaris di sini," sela Kaindra
Hana mendengus dengan kesal, dan Dara mulai bingung dengan situasi ini. Apa Kaindra menyukai Hana namun Hana menolaknya dan memilih Hendra -pemuda di sampingnya.
"Itu bukan alasan, dan Dara juga nggak akan makan kamu. Jadi, jangan bertingkah menyebalkan," seru Hana kesal
Dara melirik ke arah Kaindra yang melongo saja lalu ke arah seluruh penghuni kelas termasuk bu Ericka yang hanya bisa menghela nafas lelah.
"Hei, Dara. Duduklah, jika dia tidak mau biar aku yang bakal tendang dia," kata Hana dengan nada memerintah
Dara hanya bisa mengangguk saja dan duduk di sebelah Kaindra dengan canggung. Namun, sebenarnya Dara sedang mengendalikan ekspresinya -dia sangat ingin tertawa dan mencubit pipi Hana hanya melihat kelakuan gadis itu.
Dan selanjutnya, Dara bisa merasakan aura tak mengenakan dari belakang dan sampingnya. Jadi, Dara memilih untuk menoleh ke arah belakang -gadis berkulit putih pucat itu menatap Dara tidak suka dengan terang-terangan. Dara tidak peduli, hingga Dara memilih menampilkan senyum manis menyebalkan miliknya ke arah gadis berkulit putih pucat itu lalu segera menatap ke arah depan. Dara lebih membenci gadis itu sebenarnya.
>>>
Ketika bel istirahat berbunyi, Dara segera bertindak -dia menghalangi Kaindra yang ingin keluar. Mungkin, pemuda itu ingin mengejar Hana atau mungkin gadis pucat itu. Dara tidak peduli, dia hanya ingin berbaikan dengan Kaindra. Dan ngomong-ngomong bagaimana Hana begitu tega mengabaikannya padahal mereka teman dekat, kan?
"Hai, apa aku terlalu mengganggu?" tanya Dara, dia menatapi Kaindra dengan super serius.
Kaindra juga menatapnya, dan Dara bisa menebak jika Kaindra mulai merasa bersalah. Tentu saja untuk kesan pertama bertemu dan kenal itu keterlaluan bagi Dara. Jadi, ketika Dara melihat Kaindra ingin mengelak, Dara menyelanya.
"Jadi, kamu benci sama aku? Apa aku perlu pindah?" tanya Dara
Kaindra menggelengkan kepalanya terlalu cepat, dan Dara tahu Kaindra tengah mengelak. Kaindra menatap Dara dengan tatapan bingung. "Nggak perlu, aku juga nggak benci kamu. Cuma saja, aku itu... ,"
"Kenapa? Apa karna aku lebih jelek dari Hana?" tanya Dara
Dara ingin tertawa sebenarnya ketika mengatakan hal lucu itu dari bibirnya sendiri tentu saja Dara lebih cantik dari Hana, hanya saja Hana lebih lucu dan imut dari Dara. Salahkan saja, wajah Dara yang kelewat dingin jadi yang namanya imut menjauh darinya dan diambil Hana semua.
"Bukan, aku nggak pilih-pilih teman," bela Kaindra
"Lalu?" Dara menurunkan tangannya yang tadi menahan Kaindra keluar, "kenapa kamu harus bersikap seperti itu?"
"Maaf, tapi aku bukan tipe orang yang bisa dekat sama sembarangan orang," kata Kaindra
Dara menoleh, menatapi Kaindra dengan tatapan tak mengerti. "Tapi kita tem-"
"Belum, walaupun kita sekelas. Kita berteman, tapi tidak dekat," Kaindra bergerak melewati Dara dengan santai, "aku lebih nyaman sama Hana, jadi jika bisa kamu duduk saja dengan Hendra."
Bahkan, Dara melongo ketika Kaindra langsung berjalan meninggalkannya begitu saja tanpa mau menoleh untuk melihat bagaimana reaksinya mendengar kalimatnya itu. Dara hanya bisa mendengus dan memberikan tinju ke arah udara dengan kesal. Untung saja, hanya dia yang ada di kelas itu. Dan ngomong-ngomong dimana Hana sekarang?
"Dimana dia?" gumam Dara
Dara memilih untuk ikut keluar kelas, dia ingin menemui Hana segera. Dia akan membuat perhitungan akan masalah ini, apa yang sudah Hana perbuat pada Kaindra hingga pemuda itu seolah tidak ingin kehilangan Hana. Atau jangan-jangan Kaindra itu pacar Hana? Dan Dara merasa suara bass milik Kaindra itu mirip dengan suara bass yang dia dengar di telfon Hana kemarin.
Dan saat Dara berada tepat di depan kelas dia menemukan gadis imut berkulit putih pucat tengah siap menunggunya keluar dari kelas yang benar-benar sepi tanpa ada orang. Kemana orang-orang pergi? Ke kantin semua kah?
"Anggap saja begitu" pikir Dara.
Dara berfikir sepertinya gadis berkulit pucat itu sudah ada di sana sejak tadi dan menguping semua pembicaraanya dengan Kaindra. Sialan, Dara benar-benar membenci gadis yang tengah menatapnya tidak suka.
"Jauhi Kaindra." Gadis berkulit pucat itu berbicara dengan nada super serius.
Namun, Dara tidak akan memberi celah gadis berkulit pucat yang sudah dia kenal baik itu untuk mencelanya.
"Sorry? Aku nggak tahu maksud kamu apa? Dan ngomong-ngomong aku belum tahu nama ka-" kata Dara yang jelas berpura-pura
"Kamu tahu," sela gadis berkulit pucat itu cepat
Dara mengerutkan keningnya tidak mengerti, sedikit tertarik apakah gadis berkulit pucat itu sejalan dengan apa yang dia pikirkan sekarang. "Ah, aku baru ingat tadi. Aku dengar nama kamu Rhea Kim?"
Mata Dara sengaja menatap ke atas samping kiri menyakinkan gadis berkulit pucat -Rhea Kim itu, jika dia benar-benar tidak mengetahui siapa gadis itu sebenarnya. Dan Dara hampir menyeringai ketika dirinya melihat gadis itu marah.
"Bukan hal itu, aku nggak peduli kamu tahu namaku nggak. Tapi, pokoknya jauhi saja Kaindra," kata Rhea
Dara mengerucutkan bibirnya, jari telunjuknya berada di pelipisnya -memperagakan cara orang berfikir dengan cara menyebalkan miliknya. "Kenapa? Bukannya kalian hanya teman sama kaya kita?"
"Kita?" ulang Rhea, dia bergerak mendekati Dara, "kamu bahkan ditolak menjadi teman sebangkunya."
Sialan, Dara mati-matian mengendalikan ekspresinya agar tidak terlihat menyedihkan atau terlihat terpengaruh dengan kalimat gadis pucat itu.
"Benarkah? Sayangnya, aku bukan tipe gadis yang bakal mundur jika itu mengenai hal yang sangat aku inginkan," kata Dara
"Dan aku sangat ingin membunuh sekarang," lanjut Dara dalam hati
"Kenapa? Kenapa kamu menginginkan dia?" tanya Rhea
Kini giliran Dara yang berjalan mendekati Rhea, benar dugaan Dara gadis pucat di hadapannya itu memang jauh berbeda darinya. Melihat wajah ketakutannya membuat Dara senang, jadi Dara terus berjalan mendekat secara perlahan hingga tubuh Rhea terpojok di dinding kelas sebelah.
"Lalu, bagaimana denganmu? Bukannya kamu juga?" tanya Dara
"Aku tidak meng-" jawab Rhea terbata, bola matanya bergerak tak beraturan.
Dan Dara semakin tertarik untuk memulai permainan ini. "Hei, pasti seru jika bertarung mendapatkannya, bukan?"
Lalu, Dara menjauh dan menatapi wajah Rhea dengan tatapan penuh tawaran. Dara tersenyum puas ketika melihat wajah gadis pucat itu memerah -dia marah. Dan itu bagus untuk Dara.
"Berusahalah, karna aku bakal dapatin dia." Setelah itu, Dara tanpa perasaannya meninggalkan gadis pucat itu tanpa harus menunggu jawaban ataupun respon gadis itu.
"I love this game," gumam Dara sambil tersenyum menyeringai.