
...Part. 16...
Canggung, ini semua membuat Adara canggung setengah mati. Adara sendiri masih bingung harus senang atau kesal, karena Adara memang pernah menginginkan Kaindra akan bertekuk lutut padanya tetapi juga tidak secepat ini di saat Adara masih menganggap Kaindra sebagai karma yang harus dia hadapi.
Haruskah, Adara menerima perasaan Kaindra? Dan melanjutkan hubungan serius seperti saran Jay? Tidak, Adara belum siap untuk itu. Adara masih belum yakin jika Kaindra adalah pilihan yang tepat, bahkan Adara juga belum merasakan tanda-tanda jika dia menyukai pemuda itu.
Adara menggigiti kukunya dengan gelisah, dan hanya bisa menatapi pemandangan di luar mobil lewat jendela mobil Kaindra. Biarkan, Kaindra merasa lebih frustasi lagi bahkan sebenarnya Adara lebih frustasi dari pemuda itu. Kenapa dia harus mengatakannya secepat ini, atau ini hanya salah satu rencananya?
"Lo nggak berniat bicara sama gue lagi?" tanya Kaindra
"Nggak," jawab Adara cepat
"Kenapa?" tanya Kaindra lagi
Dengan kesal, Adara menghentikkan kegiatannya menggigiti kukunya dan melirik Kaindra dengan tajam. "Karna gue nggak mau."
Dan Adara tersentak ketika Kaindra dengan lancangnya meraih tangan kanannya dan meremasnya pelan seolah tangan Adara sebuah mainan untuknya.
"Jangan bikin gue lebih frustasi dari ini, Adara," kata Kaindra
"Gue lebih frustasi dari lo," sahut Adara cepat
Setelahnya, Adara menoleh ke arah Kaindra dan menatapinya kesal ketika dia merasakan Kaindra sudah tidak lagi meremas tangannya. Adara bisa melihat kerutan di dahi Kaindra beberapa detik sebelum pemuda itu tersenyum geli.
"Kenapa lo harus frustasi, Adara?" tanya Kaindra lembut
Sialan, apa ini terlihat lucu untuknya? Tentu saja, Adara frustasi dengan semua ini. "Ini semua karna lo."
Dan Adara hanya bisa memperhatikan Kaindra dengan tatapan kesalnya karena pemuda itu justru malah tertawa keras-keras di sampingnya. Adara dengan cepat menarik tangannya yang masih di genggaman Kaindra dengan kesal.
"Dasar gila," maki Adara
Seolah mendengar makian Adara, tawa Kaindra berhenti secara perlahan. Adara tidak menatapnya lagi, dia memilih menatap ke arah depan dimana sebentar lagi mereka akan berhenti karena lampu berwarna merah yang berjarak dua meter dari pandangan Adara. Dan Adara mulai menyadari jika jalan ini bukanlah jalan untuk pulang ke rumah besar maupun apartemen Mada.
Dan ketika mobil yang mereka tumpangi berhenti, Adara baru menoleh ke arah Kaindra dengan tatapan menuntutnya. "Lo mau bawa gue kemana?"
Adara bisa melihat ada senyum seringai tipis di wajah Kaindra sebelum pemuda itu menoleh ke arahnya dengan senyum simpul. Kaindra mengusap dagunya dan menatap ke atas seolah dirinya juga tengah berfikir keras seperti yang Adara lakukan saat itu.
"Gimana ya, gue cuma nggak mau dipanggil maling sama kakak lo itu lagi. Dan gue rasa lo nggak terlalu suka dengan rumah besar lo, jadi," Kaindra berhenti mengusapi dagunya lalu menatapi Adara dengan tatapan tertarik, "gue rasa lo boleh tidur di apartemen gue."
Dan Adara dengan spontan langsung melayangkan pukulan ke arah kepala Kaindra dengan keras. Sialan, Adara bahkan akan memilih untuk tidur di apartemen Jay jika saja Mada benar-benar mengusirnya dan Adara juga tidak berharap Kaindra menawarkan dan bahkan memperbolehkannya tidur di apartemennya.
"Lo gila, ya? Kenapa gue harus ke sana bahkan tidur di sana?" maki Adara
Adara menemukan Kaindra kembali tersenyum simpul dan tidak memprotes pukulannya tadi yang Adara yakin cukup sakit. Biarkan saja, Adara tidak akan merasa bersalah soal pukulan itu -Kaindra memang pantas mendapatkannya. Dan Adara sangat berharap Kaindra bisa kembali waras lagi dengan pukulannya itu.
"Oh My God. Bahkan, gue lebih baik tidur di apartemen Jay dibanding di apartemen lo yang bahkan nggak gue tahu tempatnya kaya gimana," jawab Adara kesal
Dan Kaindra kembali tertawa keras lagi sembari menjalankan kembali mobilnya ketika lampu sudah berubah menjadi hijau.
"Karna itu gue mau tunjukkin ke lo," kata Kaindra
"Nggak perlu, lo cuma perlu antar gue ke Jay," jawab Adara
Adara menatap Kaindra dengan tatapan menuntutnya lagi, berharap Kaindra akan menurutinya namun itu hanya sebuah harapan karena nyatanya Adara justru melihat wajah Kaindra meradang. Dia kenapa lagi?
"Sejauh apa hubungan lo dengan Jay?" tanya Kaindra
"Sangat jauh dan mungkin nggak bisa lo bayangin," jawab Adara santai
Walaupun, Jay sering meledeknya dan membuatnya kesal tetapi Adara tetap akan memihak Jay karena Jay adalah sahabat terbaiknya dan dia juga sepupunya bukankah Kaindra juga sudah melihatnya lalu kenapa dia masih mempertanyakannya.
"Jadi, lo sama tujuh raksasa itu juga seperti itu?" tanya Kaindra lagi
Adara mengangguk lalu menoleh ke arah Kaindra dengan tatapan herannya, tunggu tujuh raksasa? Siapa mereka? Dan ketika itu, Adara baru menyadari mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti. Dan Adara bisa melihat penampakan apartemen yang asing untuknya -apartemen Kaindra. Apartemennya memang jauh lebih besar daripada apartemen milik Jay maupun Mada tetapi tetap saja Adara tidak mungkin akan tidur di sana, kan?
"Bisakah lo hiraukan mereka, seperti yang lo lakukan pada Jason," kata Kaindra pelan
Adara diam saja, dia memperhatikan Kaindra yang terlihat frustasi kembali. Dia kenapa sebenarnya? Kenapa emosi sangat mudah berubah-ubah bahkan mereka baru di dalam mobil itu selama kurang dari satu jam dan Adara sudah melihat Kaindra mendadak frustasi tiga kali.
"Lo ada masalah sama Lucy?" tanya Adara
Dan Adara menatapi Kaindra dengan was-was ketika Kaindra menoleh ke arahnya dengan cepat dan menatapinya dengan tatapan lebih frustasi campur heran.
"You can tell me, just tell me if you have a problem and stop messing up, okay," kata Adara lagi
"I have told you, my problem is you. Cause you make me so annoying with your circle, how you look so comfortable with many guy that you told me if their's just friend," jawab Kaindra cepat
Adara hanya bisa melongo, jadi Kaindra beneran suka sama dia. Tapi, kenapa? Kenapa Kaindra harus menyukainya? Dan Kaindra baru saja terang-terang mengatakan padanya dia menyukainya dan tidak suka dia dekat dengan pemuda lain selama sehari ini.
Adara menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa membayangkan hal gila dan perkataan gila apa lagi yang akan Kaindra lakukan setelah ini. Adara menatapi Kaindra dengan horor. "You just kidding me, right? You make me so scary, Kai."
Dan Adara buru-buru menjauh dan menempelkan punggungnya ke dekat pintu ketika Kaindra mendekatinya dengan tatapan yang tidak bisa dia artikan.
"I really love you, Adara. Isn't kidding, and i'm sorry but i'll make you scary more than this," kata Kaindra
Adara hanya bisa membulatkan matanya ketika Kaindra mulai mendekatkan wajahnya dan mendaratkan bibirnya ke bibir Adara. Bahkan, Adara tidak bisa menghentikan Kaindra setelah Kaindra dengan cekatannya mengunci kedua tangannya. Sialan, apa yang mereka lakukan sekarang?
Sepuluh detik selanjutnya, Adara merasakan sesuatu berputar memenuhi perutnya dan membuatnya merasa geli ketika Kaindra mulai menggerakkan bibirnya. Adara ingin menghindari ini tetapi Adara tidak bisa bahkan Adara mulai menutup matanya secara tidak sadar dan mengikuti ritme Kaindra. Masa bodoh dengan hal yang terjadi nanti, karena Adara sudah merasa terbuai dengan sentuhan Kaindra detik itu juga.