
...Part 11...
Adara menatapi ponselnya dengan tatapan tidak percayanya, ini sudah berapa lama Adara sudah meninggalkan rumah besar dan mewah milik keluarganya itu. Bahkan, Adara rasa hampir dua tahun sejak Melisa menghilang dan Adara memilih sering tidur di apartemen Mada. Dan selama itu juga, orangtuanya bahkan tidak ada yang mengirimi pesan hanya untuk sekadar menanyakan kabar mereka ataupun mencari mereka. Mereka tidak pernah peduli tentang mereka.
"What the hell, i think they're going mess already," maki Adara
Pukul setengah tujuh, Adara terus menatapi ponselnya itu dengan tatapan tidak percaya bahkan Adara tidak menghiraukan suara langkah dari belakangnya. Adara tahu itu pasti Mada, karena di apartemen Mada hanya ada mereka berdua.
"I get bad news," kata Adara tanpa menoleh ke belakangnya
Suara langkah itu berhenti tepat di belakang Adara dan itu membuat Adara mengerutkan keningnya tidak mengerti. Kenapa Mada diam saja tidak memberinya respon? Apa Mada marah padanya karena kejadian kemarin sore? Adara rasa itu hal yang sangat tidak mungkin karena mereka saling melakukan hal itu jika mereka bersama dan Mada tidak pernah marah padanya sejahil apapun dia pada Mada.
"Lo kenapa diam saja? Lo nggak penasaran dengan apa yang mau gue sampaikan ke lo?" tanya Adara
Dan Adara membulatkan matanya ketika dia sudah menoleh ke belakangnya, dia tidak menemukan Mada yang berambut coklat tembaga yang seharusnya sudah siap untuk mengantar dia ke sekolah. Tetapi, Adara justru menemukan Kaindra -pemuda berambut hitam legam itu dan Mada berada di belakang pemuda itu sembari menyunggingkan senyum miringnya seolah mengejek wajah jelek yang tengah Adara pasang saat itu.
"Kenapa lo bisa di sini?" tanya Adara penasaran
Adara menatapi Kaindra dengan tatapan penuh sangsinya, bahkan Adara tetap menatapinya ketika Kaindra berjalan mendekatinya hingga menarik kursi di samping Adara dan duduk di sana.
"Karna gue pengen ketemu sama lo," jawab Kaindra tenang
Adara mendengus saja, dia ditarik kembali ke ingatannya jika dia harus segera kembali ke realitanya dan bertempur secara nyata dengan karmanya -Kaindra. Adara melirik ke arah Mada yang sudah berjalan menuju dapur dan mengamati mereka dengan tatapan menilai.
"Are you serious? Bahkan, setiap hari kita ketemu kecuali hari sabtu, minggu, dan tanggal merah lainnya," jawab Adara sembari memakan sandwichnya yang tinggal dua potong saja
Hening, tidak ada jawaban dari Kaindra dan itu membuat Adara menoleh ke arah Kaindra dengan tatapan penasaran dan herannya. Adara mengangkat alisnya ketika melihat Kaindra hanya diam sembari membalas tatapannya dengan tatapan yang terlihat sangat frustasi.
"Lo kelihatan beda," tukas Adara setelah berhasil menelan sandwich potongan terakhirnya
Adara meletakkan sendok dan garpu yang ada di tangannya ke piring lalu menggerakkan kepalanya mendekati wajah Kaindra secara lambat namun pasti hingga wajahnya benar-benar berada di depan wajah Kaindra yang tampan itu. Adara mengamati garis hidung Kaindra dengan tertarik, itu sungguh garis yang memukau pasti sangat menyenangkan bermain seluncur di sana lalu menatapi mata coklat almond milik Kaindra yang terlihat sangat frustasi itu.
"Lo nggak tidur? Lo kelihatan frustasi," kata Adara dengan tenang
Dengan pelan, Adara menjauhkan wajahnya dari hadapan wajah Kaindra lalu menggerakkan jari telunjuknya mengikuti garis wajah Kaindra. "Lo ada masalah? Was you broke up?"
Adara diam saja ketika Kaindra menghentikan gerakan jari telunjuknya dengan menggenggam pergelangan tangannya. Adara menemukan raut wajah Kaindra berubah dalam sekejap, Kaindra yang tadi terlihat frustasi berubah menjadi sangat antusias ketika menatapinya saat itu.
Dengan perlahan, Adara kembali mendekatkan wajahnya ke arah wajah Kaindra lagi sembari tersenyum tipis dan matanya bersinar seolah benar-benar tertarik dengan jawaban Kaindra.
"Gue ada di sana? Lo mau bahas tentang hutang itu?" kata Adara tenang
Dan Adara tersenyum senang ketika Kaindra dengan mudahnya menganggukkan kepalanya. Jika ini tentang hutang itu dan tentunya tentang kejadian di bar itu maka Adara segera mempersiapkan dirinya yang sebenarnya -Adara yang manulatif dan tentunya sangat dominan.
"Kalo begitu, lo mau gue lakuin apa buat lunasin hutang gue?" Adara mencolek dagu Kaindra dengan gerakan menggoda, "Like be your girlfriend?"
Adara menjauhkan wajahnya dari hadapan wajah Kaindra ketika dia bisa mendengar ketukan langkah Mada dan mencium wangi maskulin Mada yang mulai mendekati mereka. Dengan senyum yang menghiasi wajahnya, Adara menoleh ke arah Mada yang tengah berjalan ke arah mereka dengan sepiring sandwich dan segelas susu.
"Gue berencana bakal pindah ke gedung internasional," kata Adara entah pada siapa
Tetapi, Adara terus menatapi Mada hingga kakaknya itu berada diantara mereka berdua dan menaruh dua barang yang ada di tangannya itu di depan Kaindra. "Lo harus sarapan juga, Kai."
Lalu, setelahnya Mada menatap ke arah Adara sembari menepuk bahu Adara pelan sekali. "Lo udah bilang sama Jay?"
Adara mengangguk saja, dia melirik ke arah Kaindra yang mulai memakan sandwichnya namun Adara masih bisa melihat ada tatapan tidak suka yang Kaindra coba sembunyikan ketika pemuda itu sibuk mengunyahi sandwichnya. Tentu saja, Adara akan berdrama saat ini dan memanipulatif saat keadaan sudah benar-benar tidak menguntungkannya.
"Tentu saja, mungkin sekitar satu bulan kita berdua bisa pindah jika tanpa ada catatan merah," jawab Adara tenang
Baik Adara maupun Mada serentak menoleh ke arah Kaindra ketika Kaindra dengan keras menaruh sendok dan garpunya ke piring. Mada mengangkat salah satu alisnya dan menatap Kaindra dengan tatapan tertarik.
"Are you okay, Kai?" tanya Mada
Dan Adara segera memasang wajah polosnya ketika Kaindra mulai menoleh ke arah mereka berdua. Sungguh, sebuah karma yang hebat karena Adara bisa melihat ada sosok dirinya di dalam diri Kaindra ketika Adara melihat bagaimana Kaindra mengubak mimik wajahnya dengan mudah dan tersenyum ke arah mereka berdua seolah dia tidak terpengaruh sedikitpun oleh topik pembicaraan mereka berdua.
"Ah, gue baik-baik aja, Bang," Kaindra melirik ke arah jam tangannya, "gue cuma teringat jika gue dan Adara bakal telat jika nggak berangkat sekarang."
Adara memilih diam saja, dia menatap Mada yang juga ikut menatap ke arah jam dinding lalu menatapinya dengan tatapan tertarik. "You're right, Kai. You must go now or you'll late."
"Ok, ayo berangkat sekarang," jawab Adara sembari mengambil tasnya yang ada di kursi samping kirinya
Dan Adara segera berdiri dari duduknya dan menarik tangan Kaindra untuk segera berangkat. Adara hanya bisa melambaikan tangannya ke arah Mada tanpa melihat wajah Mada karena Adara lebih tertarik untuk menatapi raut wajah tidak bersahabat Kaindra ketika sudah tidak berhadapan dengan Mada secara langsung. Adara merasa yakin jika Kaindra akan membawa sebuah karma yang sangat keren setelah ini untuknya. Adara akan tetap menantikan itu.
***