BAD GIRL'S COMING OUT

BAD GIRL'S COMING OUT
Bagian 08.



"They just wanna see what they wanna seems. But, I'll show them something that's making them burning."


...…...


...🌼🌼🌼...


...Bad Girl's Coming Out...


...***...


Dan Dara hanya diam saja, dia berjalan berdampingan dengan Kaindra. Dara harap gadis berambut hitam itu baik-baik saja.


"Aku harap kita menemukannya," kata Dara pelan


Dara bisa mendengar Kaindra menghela nafasnya perlahan seolah tengah memikirkan hal berat dalam kepalanya. Dara yakin pasti Kaindra hanya seorang teman yang baru saja Hana kenal saat Dara pergi liburan -sialan, Dara tidak menyukai ingatan itu.


"Apa dulu dia juga seperti ini? Maksudku, sebenci itukah dia sama bahasa inggris," tanya Kaindra


Dara menatap Kaindra sebentar, lalu menatap ke sekitar koridor dengan teliti siapa tahu Hana melewati koridor yang sama dengan mereka. "Ya, dia sangat benci itu."


"Seberapa jauh kamu kenal Hana?" tanya Dara


"Nggak terlalu jauh," jawab Kaindra


Dara mencoba untuk tidak menoleh ke arah Kaindra, sesungguhnya ini diluar dugaannya. Bagaimana bisa Kaindra menjawab pertanyaannya dengan cepat mengingat bagaimana Kaindra sangat tidak suka padanya.


"Itu perpustakaan," kata Kaindra


Dara menoleh, menatap telunjuk Kaindra yang menunjukkan sebuah ruangan di sudut koridor. Kening Dara berkerut, mereka di sini tengah punya misi untuk mencari Hana, bukan?


"Kurasa kamu belum tahu tentang sekolah ini, jadi selagi bisa aku akan jelasin sama kamu," kata Kaindra tenang


Dara hanya bisa mengangguk saja, dia masih mengkhawatirkan Hana tapi dia juga memerlukan informasi tentang sekolah ini dari Kaindra.


Hingga beberapa menit, mereka menelusuri koridor tetapi mereka belum bertemu dengan Hana. Dan Dara mengingat suatu tempat yang sering Hana jadikan tempat untuk membolos. "Atap, kurasa dia di sana."


Kaindra menoleh menatap Dara dengan serius lalu tersenyum dan menarik tangan Dara menuju anak tangga di dekat mereka.


"Ya udah, ayo ke sana," kata Kaindra


Dara membulatkan matanya, bukankah Kaindra tidak menyukainya? Lalu apa ini, kenapa Kaindra dengan mudahnya menggenggam tangannya dan menariknya untuk menaiki anak tangga bersama.


"Kai," tukas Dara pelan


Namun, seolah tidak mendengarnya atau mungkin memang tidak dengar, Kaindra sama sekali tidak menoleh dan terus mengenggam tangan Dara untuk tetap menaiki anak tangga yang ada.


"Hei, Kai," panggil Dara sedikit keras, Dara juga menghentikan langkahnya


Dan Kaindra kali ini berhenti dan menatapnya heran. "Ada apa?"


Dara menatapi tangannya yang masih digenggam oleh Kaindra dan Kaindra juga melihat tangan mereka sebelum melepasnya.


"Maaf, aku nggak sengaja," kata Kaindra tenang


Dan Dara semakin merasa aneh dengan kelakuan Kaindra, Dara bisa melihat Kaindra seolah tidak keberatan jika pemuda itu sudah menggenggam tangannya walaupun itu hanya tidak sengaja.


"Sebenarnya, aku penasaran tentangmu dan Hana," kata Dara spontan


Kaindra menatap Dara dengan tertarik. "Kenapa? Apa aku terlihat menyukainya?"


Dara mengangguk lalu menggelengkan kepalanya, Dara merasa ragu jika Kaindra menyukai Hana namun Dara juga yakin jika suara bass itu milik Kaindra.


"Dia sudah cerita banyak tentangmu, Dara," kata Kaindra pelan


Dan bahkan Dara bisa melihat tatapan frustasi di mata tajam Kaindra, seolah pemuda itu tengah menunggu untuk keluar dari kandangnya dan bebas melakukan apapun yang dia inginkan. Hingga, sebuah suara ketukan sepatu dari arah berlawanan membuat fokus mereka berpindah.


"Jadi, apa kalian sudah berkencan?" Itu Hana, gadis berambut hitam itu tengah menuruni tangga dan menatapi mereka berdua dengan tertarik.


Dara menatapi Hana dengan kepala miring lalu menatap ke arah pemuda berambut pirang di samping Hana -itu bukan Hendra, Dara belum mengenalnya yang terpenting dia bukan teman sekelas mereka.


"Apa yang kamu lakukan sama Gavin, Hana?" sahut Kaindra cepat


Pemuda berambut pirang itu tertawa geli, dia menatap Hana dan Kaindra bergantian. "Sepertinya, ada yang cemburu, Hana,"


Dara menatap Kaindra terlihat sedang menahan emosinya, sebenarnya Kaindra kenapa? Dan Hana sendiri hanya mendengus melihat bagaimana reaksi Kaindra saat itu.


"Kai, bisakah kamu jangan berlebihan," kata Hana


Kaindra menatap Hana tidak suka, dia berjalan mendekati Hana dengan segera. "Ini bukan berlebihan, mengingat aku teman dekatmu."


Dara menatapi Gavin dari atas sampai bawah, seragam pemuda berambut pirang itu berantakan bahkan dia mempunyai tindik di telinga kirinya -sangat mencerminkan jika dia bukan murid teladan. Jadi, Dara juga ikut mendekati Hana dengan segera. Dara tidak akan membiarkan Hana bergaul dengan pemuda macam Gavin.


"Kenapa kamu bisa sama dia?" tanya Dara


"Karna dia juga temanku," jawab Hana tenang


Gavin sendiri menatapi Kaindra dan Dara dengan senyum gelinya. "Kurasa mereka nggak suka kamu berteman denganku, Hana."


"Tentu saja," kata Dara dan Kaindra bersamaan


Hana menatapi Kaindra dan Dara bergantian sebelum mengandeng lengan Gavin dengan akrab. "Abaikan saja mereka, Gav."


Lalu Hana menarik Gavin untuk melenggang pergi meninggalkan Dara dan Kaindra tanpa menoleh sekalipun walaupun Dara sudah meneriaki namanya untuk kembali.


>>>


Besoknya, Dara berangkat bersama Hana. Dan Dara menatapi Hana yang sedari tadi cengar-cengir melihatnya yang mencoba mengabaikan gadis berambut hitam itu.


"Hei, Dara kurasa kamu sudah lupa tujuanmu," kata Hana


Dara diam saja, dia akan mengabaikan Hana kali ini. Salahkan saja, Hana yang kemarin dengan lancangnya mengabaikannya demi pemuda berantakan itu -Gavin.


"Marah? Terserah juga, aku nggak peduli," Hana mengutak-atik ponselnya, "aku cuma mau bilang, yang jadi tujuanmu itu Rhea bukan aku."


Dan kali ini, Dara memilih menoleh ke arah Hana yang sudah sibuk dengan ponselnya. Rhea? Benar, Dara mulai melupakan gadis yang sudah membuatnya sengsara di negara orang itu.


"Sudah sadar? Jadi, urus Rhea dengan benar. Aku akan mengurus diriku sendiri, ok?" kata Hana tanpa melihat ke arah Dara


Sebenarnya, Dara mulai memikirkan berapa IQ yang dimiliki Hana, hingga Dara bahkan tidak bisa menandinginya padahal dirinya bukanlah tipe orang bodoh, dia jenius.


"Kenapa kamu nggak cerita tentang hubunganmu dengan Kai, Hana?" tanya Dara


Dara akan mencobanya, mencoba mengerti Hana dengan kemampuan manipulatifnya. Namun, yang Dara lihat Hana hanya mengerutkan keningnya seolah bertindak dirinya tidak mengenal siapa itu Kai.


"Kai?" ulang Hana pelan


Dan ketika Dara ingin memukul kepala Hana, gadis itu menghindar dengan cepat dan menempelkan ponselnya ke telinganya sendiri lalu menatapi Dara seperti pendosa besar.


"Hai, Jay sayang. Kurasa Dara sudah gila, dia sudah beberapakali cemburu padaku," kata Hana mengadu


"..."


Entah jawaban Jay yang ada di sana, atau hanya sekadar akting Hana, Dara hanya bisa mendengus kesal saja. Bagaimanapun, dia tidak bisa menangani Hana. Hingga, Dara menyeringai ketika dirinya mengingat Mada. Dara akan mengadu pada Mada soal Gavin dan Hana.


"Dapatkan karmamu, Hana," desis Dara kesal


Namun, sebelum Dara berhasil menghubungi Mada. Hana sudah terlebih dulu membuat Dara terdiam dan memikirkan apa yang dikatakan gadis berambut hitam itu.


"Kurasa Kai sudah menerimamu," kata Hana


Gadis berambut hitam itu sudah tidak menempelkan ponselnya ke telinganya sendiri tetapi Dara bisa melihat jika Hana memang benar-benar menghubungi Jay -terlihat di layar ponsel Hana.


"Kamu sudah cerita apa aja sama dia?" tanya Dara


"Banyak? Tentang Adara Adinata yang nggak lebih pintar dariku," kata Hana santai


Dan Dara menerimanya kali ini, nyatanya Hana memang lebih pintar darinya. "Aku akan melakukannya dengan baik."


"Wah, ternyata Adara Adinata itu bodoh, kasihan,"


Suara ejekan dari Jay itu membuat Dara kesal dan merebut ponsel Hana yang ada di pangkuan Hana tadi dan memutuskan sambungannya secara sepihak.


***


"Aku nggak akan nyerah," ucap Rhea dengan geram


Bagaimana bisa di pagi hari yang cerah ini, dia melihat pemandangan yang sangat membuatnya langsung buta dengan amarah.


Di tengah koridor yang ramai itu, Rhea bisa melihat Hana, Dara, dan Kaindra tengah berbincang ringan dan bahkan mereka terlihat sangat akrab. Dan Rhea cemburu dan marah sekaligus, namun dia hanya diam.


Hingga saat tiga sosok yang menjadi santapan tatapan tajamnya itu sudah duduk di bangku mereka masing-masing, barulah Rhea beraksi.


Dia berjalan mendekat ke arah bangku Dara dan Kaindra, bukan dengan wajah marah berapi-api bahkan berasap seperti perasaannya tetapi dengan adem dan kalem seperti tidak ada badai dalam dirinya.


"Pagi, Dara, Kai," sapa Rhea dengan ramahnya, senyum palsunya terlihat sempurna


Namun, Dara bukan tipe orang yang tidak peka. Dia seolah bisa mencium bau dari asap tidak terlihat dalam diri Rhea hanya dengan menatap sekilas kilatan amarah di mata gadis imut itu.


Dia memilih diam, dan membalas sapaan Rhea. "Pagi, Rhea."


Lantas Dara merasa dirinya tengah diperhatikan, dan benar saja saat dirinya melirik ke arah belakangnya. Di sana Hana tengah memperhatikan mereka bertiga.


"Ada apa? Kamu udah ngerjain pr matematikanya, kan?" diam-diam Dara memberi kode kepada Hana dengan jarinya lewat bawah bangkunya, "gimana bisa, nggak?"


Dan hebatnya, Rhea tidak menyadari itu. Karna gadis dengan wajah imut itu lebih berfokus ke arah wajah cantik milik Dara, seolah wajah Dara berkemungkinan akan menculik perhatian Kaindra jika tidak dia awasi.


"Udah, tapi sebagian belum," jawab Rhea melembut


Sepertinya kobaran api di dalam diri Rhea sudah padam secara perlahan hanya dengan sedikit pengalihan perhatian dari Dara. Dan Dara bersyukur karena hal itu.


"Yang mana? Biar aku bantuin kerjain, mumpung masih ada waktu," tawar Dara


Dara benar-benar cerdas dalam menawar, bahkan tawarannya itu membuat mood Rhea langsung naik drastis. Gadis pucat itu lebih memilih melupakan apa yang dia lihat tadi, dia dengan semangat mengambil bukunya yang sempat terabaikan olehnya. Membuka dan menunjukkan bagian yang tidak dia ketahui pada Dara dengan semangat ingin tahu.


Dan diam-diam, Hana dan Kaindra menatapi mereka seolah mendapat sebuah jalan. Beri saja Rhea sebuah penawaran fantatis dan mungkin saja gadis imut bakal mundur dengan sendirinya.


β€’β€’β€’


...🍁🍁🍁...


...β™₯β™₯β™₯πŸ’•πŸ’•πŸ’•β™₯β™₯β™₯...


...Let's say hai to Gavin....