BAD GIRL'S COMING OUT

BAD GIRL'S COMING OUT
Bad Girl's Coming Out. 13



...Part.13...


Adara mengamati mereka dengan tatapan tidak biasanya, dia tidak peduli jika itu dianggap tidak sopan karena mereka tamu penting seperti perkataan mamanya. Dan Adara juga melototi salah satu dari mereka dengan terang-terangan, bagaimana dia bisa di sini? Dan bagaimana dia bisa tahu rumah besar ini? Bahkan, selama mereka kenal dia hanya mengantar Adara ke apartemen Mada.


"Adara," tegur Marinda


Dengan mudahnya, Adara memutar bola matanya malas dan menoleh ke arah mamanya. Marinda sama sekali tidak berubah sejak dia sering kabur dari rumah bahkan Adara yakin mamanya itu baik-baik saja lihatlah wajahnya yang semakin bersinar itu. Bahkan, gaun mewahnya itu. Jadi, seberapa penting tamu di hadapan mereka hingga Marinda dan Arsen bisa berada di rumah besar dan mengundang kedua anaknya yang sudah kabur dari rumah besar?


"Jadi, untuk apa acara ini?" tanya Adara spontan


Adara tidak mengubah ekspresi kesalnya, dia bahkan tidak takut saat menemukan Arsen dan Marinda menatapnya dengan tatapan memperingati. Dia memilih melirik ke arah Mada yang berada di sampingnya, Mada juga terlihat bosan seperti dirinya hanya saja kakaknya itu lebih memilih memasang wajah datar tanpa ekspresinya.


"Kurasa lo sangat tertarik dengan ini,"


Dengan gerakan lamat, Adara menoleh ke arah tamu pentingnya itu. Dan Adara melototinya lagi, bahkan dia juga berani memainkan peran bad guy di rumah besarnya. Dasar Kaindra sialan, si karma sialan. Tunggu saja, bahkan dia belum tahu Adara secara realita. Adara akan menunjukkannya.


"Nggak juga," Adara menatap Arsen dengan tatapan tertarik, "gue lebih tertarik kalo kita bertemu seperti biasanya, hanya berdua, lo dan gue."


Dan Adara tersenyum manis ke arah Kaindra yang memperhatikannya. Adara juga mengubah mimik wajahnya menjadi sangat cerah dan bersemangat.


"Bukankah itu menyenangkan, Kai?" tanya Adara


Adara melirik ke arah Marinda ketika dirinya merasakan tendangan kecil di kakinya yang dibawah meja. Adara tidak akan berhenti, dia bahkan belum keluar dari zona dramanya. Dia baru saja membuka pintu zona liarnya dan Adara juga harus menikmati zona liarnya, bukan?


Dengan gerakan luwes, Adara menggenggam tangan kiri Marinda yang ada di atas meja dan menepuknya beberapa kali.


"I know mom, don't worry 'bout us. We'll be good couple and make a sweet romantic history," kata Adara


"Kurasa mereka sudah melakukannya dengan baik, jadi pertunangan ini bukan masalah besar, kan?"


Wajah Adara berubah drastis, mulutnya hanya bisa terbuka tertutup tanpa ada suara. Dan Adara bisa menemukan Arsen tengah tersenyum mengejek ke arahnya, sialan. Pertunangan? Demi apa? Bahkan, Adara tidak pernah membayangkan hal ini. Adara kira ini hanya sebuah bisnis, ah tentu saja. Adara mulai melupakannya, mungkin karena Adara sudah terlalu lama kabur dari rumah besar. Bisnis, tentu saja ini permainan bisnis.


Adara dengan cepat memperbaiki raut wajahnya seperti semula -ceria dan ramah. Dia melepaskan genggamannya pada tangan Marinda lalu menoleh ke arah pria berjas rapi di dekat Arsen, pasti dia papanya Kaindra -Adara bisa melihat garis wajah Kaindra di sana.


"Saya rasa ini bukan masalah besar untukku, tapi kurasa ini cukup berat untuk Kai," kata Adara lembut


Dan Adara melirik ke arah Kaindra yang masih saja memperhatikannya. Sialan, apa dia tidak punya objek lain untuk jadi objek penglihatannya. Dan Adara segera menggigit pipi bagian dalamnya ketika melihat Kaindra justru tersenyum lebar seolah dia mempermainkan Adara. Tidak, Adara tidak akan membiarkan itu.


"Lo bukan masalah besar buat gue, Adara," kata Kaindra yakin


"Mereka benar-benar serasi, aku dan papa Kaindra dulu juga seperti kalian,"


Adara kembali tersenyum lebar ketika wanita cantik di dekat Kaindra menatapinya dengan tatapan memuja dan berharap. Adara harus meminta maaf padanya, karena mungkin Adara tidak akan mewujudkan impian tentang cerita romantis yang manis seperti bayangan mama Kaindra. Bahkan, Adara tidak tahu siapa nama mereka berdua, Adara hanya tahu Kaindra. Itu bagus, setidaknya Adara tidak perlu berusaha untuk melupakan mereka, kan?


Mada dan Adara hanya diam saja, mereka hanya duduk termenung menatapi Kaindra yang tengah duduk di hadapan mereka seperti orang bodoh yang tidak tahu harus bagaimana. Adara pada akhirnya mendengus dan mengistirahatkan punggungnya ke sandaran ayunan yang dia gunakan dengan Mada. Sedangkan, Mada sendiri masih betah dengan posisinya. Adara tahu, Mada diam-diam tengah merencanakan sesuatu yang hebat di pikirannya.


Adara mungkin bisa saja membuat pertunangan antara dirinya dan Kaindra batal dan menganggapnya sebuah lelucon tetapi untuk Mada, Adara yakin Mada tidak bisa menghindar dengan permintaan Arsen -meminta Mada untuk segera menikah sebelum Adara lulus nanti. Masih ada waktu setidaknya setahun, tetapi Adara yakin ini cukup sulit untuk Mada.


"Apa lo nggak lelah berdiri terus?" kata Mada tiba-tiba


Dan Adara merasakan ayunan bergoyang ketika Mada justru berdiri menatapi Kaindra dengan tatapan jenakanya.


"Lo duduk aja, gue rasa kalian mulai bahas hubungan kalian," kata Mada


Adara hanya bisa diam saja ketika Mada benar-benar pergi meninggalkan mereka berdua. Mungkin, Mada akan menenangkan diri di kamarnya yang sudah lama dia tinggalkan itu. Dan ngomong-ngomong, Adara juga mulai melupakan bagaimana keadaan kamarnya di rumah besar itu karena Adara sudah terlalu sering tidur di apartemen Mada.


Dan ayunan kembali bergoyang ketika Kaindra mulai duduk di samping Adara. Adara hanya memperhatikannya dalam diam, sepertinya Mada memang benar mulai sekarang mereka harus memperhatikan urusan mereka masing-masing.


"Lo beneran nggak keberatan dengan pertunangan ini?" tanya Kaindra


Karena, Adara sudah memilih untuk keluar dari zona dramanya maka Adara menganggukkan kepalanya mantap sembari tersenyum simpul ke arah Kaindra. Adara akan menunjukkan kepada Kaindra siapa Adara Adinata sebenarnya.


"Gue rasa lo cukup sebanding sama gue," jawab Adara tenang


Dan Adara tidak terkejut ketika melihat Kaindra justru tersenyum mengejeknya seolah Kaindra menganggap Adara tengah bermain-main dengan ucapannya. Ya, Adara memang bermain-main dengan ucapannya karena itu memang sosok asli dari seorang Adara Adinata.


"Sebanding? Karna gue ganteng dan lo cantik?" tanya Kaindra


"Bukan hanya itu. Lebih tepatnya, lo setidaknya bisa mengimbangi gue jika gue tiba-tiba menggila seperti malam itu," jawab Adara


Adara hanya bisa tersenyum geli ketika menemukan Kaindra sedikit terkejut dengan jawabannya. "Gue tahu itu lo, Kai. Jadi, jangan terkejut jika lo bakal dapat panggilan tengah malam setelah ini."


Ayunan yang mereka gunakan bergoyang ketika Kaindra bergerak mendekati Adara secara tiba-tiba. Adara sendiri hanya diam saja, dia memperhatikan wajah Kaindra yang berada tepat di depan wajahnya. Adara juga merasakan deru nafasnya di kulit wajahnya, apa dia akan menciumnya lagi?


Adara tidak akan membiarkan itu, jadi ketika Kaindra mulai menatapi bibirnya dan menutup matanya Adara segera mendorong wajah Kaindra menjauhi wajahnya dengan keras-keras.


"Dan jangan anggap gue mudah buat ini," kata Adara


Dengan cepat, Adara menempelkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke bibirnya sendiri lalu menempelkannya ke pipi kanan Kaindra.


"Itu udah cukup buat malam ini," kata Adara


Dan Adara hanya bisa tersenyum menyeringai ketika melihat Kaindra hanya bisa terbengong melihat tindakannya itu. Adara tidak akan membiarkan Kaindra mengambil kendali dalam hubungan mereka. Setelahnya, Adara memilih segera meninggalkan Kaindra begitu saja ke dalam rumah besar.


***