BAD GIRL'S COMING OUT

BAD GIRL'S COMING OUT
Bagian 02.



...Bad Girl's Coming Out...


...***...


Dara meringis dan hampir menangis di hadapan Hana saat itu juga, lihatlah dengan tataan rambut yang tidak terlalu rapi Hana mencoba terjaga. Ngomong-ngomong ini masih jam tiga pagi, dan Hana bukanlah tipe gadis yang bisa bangun pagi buta.


"Kenapa? Bukannya kamu sibuk?" sindir Dara


Hana manggut-manggut matanya hampir menutup karena menahan kantuk namun gadis berambut hitam legam itu mengeyahkannya dengan minum kopi. "Yah, aku sibuk rebahan. Dan kamu udah ganggu banget."


Dara akhirnya menangis dan berhenti memakan hamburger favoritnya. Hana sahabat yang baik untuk Dara, dan Dara akan meninggalkannya.


"Kenapa kamu baik sama aku?" tanya Dara


Hana membuka matanya dengan benar kali ini, dia menatap Dara kasihan. Hei, Hana tidak butuh tatapan itu seharusnya gadis itu ikut berkaca-kaca karna mereka akan berpisah sebentar lagi.


"Karna kamu terlihat menyedihkan," jawab Hana enteng


Dara mengusap air matanya dengan kasar, menatap kesal ke arah Hana yang masih saja menatapnya kasihan. "Aku nggak menyedihkan."


Hana manggut-manggut lagi, dia hampir tertidur lagi namun kali ini dia menepuk-nepuk pipinya sendiri lalu menopang wajahnya dan menatap Dara lurus-lurus.


"Setidaknya, kamu tahu aku tulus. Dan ini juga salahmu sendiri yang nggak pernah nurut sama aku," kata Hana pelan


Dara menatapnya lekat dan kembali merengek, Hana selalu benar kalau berbicara. Hanya tatapan Hana yang tulus, yang lainnya hanyalah tatapan kasihan dalam artian mencela dirinya.


"Dara, kamu tahu kan dulu aku iri sama kamu, karna kamu lahir di keluarga yang luar biasa," curhat Hana


Dara diam, dia mendengarkan Hana kali ini. Mungkin saja, sahabatnya itu akan memberinya saran pencerahan untuknya sebelum berpisah.


"Tapi, tradisi keluargamu begitu mengerikan," lanjut Hana


Dara setuju dengan itu, bahkan perpisahan mereka ini karna tradisi itu juga. "Yah, ini sangat mengerikan. Bantu aku, Hana."


Hana tersenyum lebar, dia meraih wajah Dara dan menggelengkan kepalanya menolak permintaan Dara.


"Itu menyenangkan jika dipikirkan, bukankah ini sebuah liburan?" tanya Hana


Dara menepis tangan Hana dari wajahnya dan menatap Hana yang masih tersenyum lebar ke arahnya. Liburan apanya? Diterbangkan ke negara orang lain sendirian tanpa keluarga, bagaimana bisa disebut liburan? Dasar gila.


"Ini hukuman, kamu tahu Auckland itu jauh," kata Dara


Hana mengerutkan keningnya sebentar lalu kembali tersenyum lebar. "Tetap saja, setidaknya kamu nggak perlu ingat sama dia, kan."


Lalu Hana meminum kopinya lagi, dia sudah terjaga sepenuhnya. Dan Dara dibuat tercengang mendengarnya. Apa ini tujuan pengasingan ini, bukan hukuman tapi sebuah liburan untuk dirinya seperti kata Hana?


"Dinikmati aja, mungkin setahun lagi kita bisa bertemu dengan perasaan berbeda," kata Hana


"Kenapa harus setahun? Jika kamu mau bantu aku sekarang dan kita nggak akan pi-"


Hana mendengus kala dirinya meminum kopinya yang terakhir. "Bisa aku pulang, sekarang? Aku sibuk."


Dara hampir saja memukul kepala Hana jika saja gadis itu tidak tertawa setelah mengatakan kalimat kurang ajar itu.


"Maaf, aku nggak bercanda. Cepat makan, aku sudah ngantuk," kata Hana lagi


Dengan wajah datar yang menyebalkan, Hana berdiri dan pergi meninggalkan Dara ke arah toilet.


"Dasar honey badger!" maki Dara


***


Besoknya, Dara berkali-kali menolak permintaan video call dari si- Honey Badger alias Hana. Dara masih kesal karena kelakuan gadis itu, Dara tidak akan menerimanya permintaan itu walaupun Hana melakukannya sampai seratus kali.


Dara menatap jamnya dengan kesal, ini sudah hampir setengah jam kenapa Hana tidak melakukannya lagi? Itu tadi hanya umpan? Dengan kesal dia membalikkan ponselnya dan menyembunyikannya di balik selimut tebalnya. Seharusnya, Hana terus mencoba menghubunginya dan ini hari libur tidak ada alasan buat Hana sibuk, kan?


Dan setelah benar-benar sudah setengah jam bahkan lebih lima menit, Dara mengambil ponselnya dan menghubungi Hana dan tersambung setelah sepuluh detik.


"Hana! Aku jatuh dari kasur," teriak Dara


Namun, Dara menggerutu seberapa banyak Hana tahu tentang dirinya. Dara memang tidak akan bisa dengan mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, termasuk kebiasaan tidurnya. Boneka jerapah kesayangannya pun sama sekali tidak membuat Dara bisa tidur cepat.


"Kenapa kamu telfon aku? Kangen, huh?" tanya Dara


Di sana Hana hanya menatapnya bosan, gadis itu menutupi wajahnya yang terkena sinar matahari. Pasti di Indonesia sedang panas-panasnya sedangkan di sini malah dingin. Dara tiba-tiba tersenyum menyeringai, dan berlagak terpana di dekat jendelanya.


"Wah, saljunya turun. Kamu mau lihat nggak, Han? Di sana pasti panas banget, kan?" kata Dara pamer


Di detik pertama sampai lima, mata Hana melotot tertarik lalu mendengus bosan dan mengganti kameranya menjadi kamera belakang. "Di sini banyak bule ganteng, lebih ganteng dari Mada. Lumayan buat cuci mata."


Dara hampir ngiler melihatnya, bagaimana Hana bisa beruntung sedangkan dia terpuruk di musim dingin di negara orang lain. Dara meneguk ludahnya perlahan agar Hana tidak mendengar suaranya.


"Mada lebih ganteng dari bule itu," kata Dara


Hana hanya diam saja, kameranya masih menampakkan bule-bule itu tengah berjemur di bawah teriknya matahari. Hana sialan, Dara semakin ingin segera pulang dan menikmati liburan di pantai bersama Hana.


"Aku nyoba cari info tentang Auckland, kurasa kamu bisa main ke festival bunga mawar yang di sana," kata Hana tiba-tiba, kameranya sudah menghadap Hana lagi, "tapi, sayang pasti di sana masih musim dingin, ya."


Dara hampir saja memutuskan untuk mengakhiri sambungan video call itu namun Hana sudah lebih dulu menyela.


"Mada memang lebih ganteng, tapi bule-bule di depanku lebih panas, Dara. Jadi, jangan bilang soal ini ke Mada, ya," sela Hana


Dara mendengus, dia tahu Hana sebenarnya memancingnya agar mengadu soal ini kepada Mada. Huh, sungguh lucu hubungan mereka, Dara sebenarnya tidak keberatan jika Hana jadi pacarnya Mada -kakak terkerennya hanya saja Mada itu terlalu menyebalkan. Tapi, sebenarnya mereka serasi. Sama-sama menyebalkan.


"He's hottest more than you know, he've everything. He is handsome, co-"


Dan Dara menggerutu setelahnya, Hana mengakhiri sambungan video call mereka secara mendadak dan tanpa pamitan. "Hana, sialan. Kenapa dia nggak peka sih."


Dara terlalu kesal dan menjadi lelah seketika jika meladeni Hana, gadis itu terlalu menyebalkan untuknya dan sialnya Dara masih saja membutuhkan suara gadis itu untuk mengusir sepi ini -Dara belum punya teman di sana. Jadi, Dara memutuskan untuk tidur saja, padahal baru pukul delapan malam.


Ketika Dara menarik selimutnya sebatas dada, ponsel Dara kembali berdering buru-buru Dara mengangkatnya -pasti Hana.


"What's up, Hana? Do you still think him hot more than Mada," kata Dara


Hening tidak ada jawaban, apa Hana kembali mematikan sambungannya jadi Dara menjauhkan ponselnya dari telinganya dan menatap layar ponselnya serius. Gila, jadi bukan Hana tapi Jay.


"Hai, Jay. Ada hal penting apa?" tanya Dara


"Siapa yang lebih hot dari gue."


Sialan, Dara mengenali suara bass itu. Itu bukan suara Jay, suara bass Jay lebih lembut dan pelan tapi ini suara bass yang berat, serak dan keren -dia Mada, kakaknya yang terkeren.


"Hai, brother. Where is Jay?" tanya Dara, dia menggaruk lehernya canggung.


Walaupun mereka mengobrol lewat ponsel, Dara bisa membayangkan bagaimana ekspresi Mada di sana. Mata tajam yang menyipit, alis berkerut, dan tentunya rahang yang mengeras dan intinya Mada benar-benar marah mendengar ucapannya tadi.


"Dia tepat di samping gue," jawab Mada, nadanya mulai terdengar tenang.


Namun, Dara semakin khawatir. Hana tadi sudah mengancamnya untuk tidak mengadu kepada Mada tetapi dia melakukannya -bukan karna sengaja juga. Tapi, Dara berfikir ini bagus jika dijadikan ajang pembalasan dendamnya pada Hana.


"Jadi, yang lo maksud lebih hot dari gue?" Suara Mada kembali terdengar dan Dara melebarkan senyumnya, saat balas dendam.


"Nggak ada, tapi kalau Hana pasti tahu jawabannya," jawab Dara


"Hana," lirih Mada


Dara memutar bola matanya mendengar suara Mada yang memanggil nama Hana dengan nada yang tidak biasa seolah kakaknya itu sungguh membutuhkan Hana di sampingnya. Dara sebenarnya tidak keberatan jika dia tidak sedang kesal dengan Hana, tapi untuk sekarang tidak.


"Iya, jadi telfon dia saja. Kurasa dia sedang cuci mata lihat bule-bule ganteng di pan-"


Sambungan terputus, Dara mendengus kesal dan membuang ponselnya ke kasur dengan sembarang. Hana dan Mada itu sama saja, sama-sama menyebalkan. Dara menatap sekeliling kamarnya dengan bosan, dan dia mulai mengantuk di tengah rasa kesalnya. Jadi, tanpa sadar Dara tertidur setelahnya.


"Hana menyebalkan, aku butuh bule itu. He's very hot," gumam Dara


***