BAD GIRL'S COMING OUT

BAD GIRL'S COMING OUT
Bad Girl's Coming Out. 09



...Part. 09...


Jay hanya bisa diam, dia menatapi Kaindra dan Adara secara bergantian. Dan Adara tahu itu, tetapi dirinya sudah terlanjur kesal pada dua pemuda itu. Jay, pemuda sialan itu sedari tadi benar-benar tidak menghiraukannya bahkan sampai jam istirahat ini Jay belum mengiriminya pesan. Dan Kaindra, Adara sangat kesal dengan pemuda itu karena bertingkah seenaknya padanya, bahkan Kaindra juga sangat menganggunya hari ini.


Adara hanya bisa diam saja sembari mengaduk semangkuk soto yang ada di depannya sedangkan matanya menatap liar ke arah sekitar kantin. Yang benar saja, Adara masih tidak menyangka jika eksistensi Kaindra masih berlaku sampai sekarang. Adara akui, Kaindra memang tampan walau Adara yakin pemuda asli keturunan Indonesia setidaknya Kaindra mempunyai kulit yang lebih bersih dan hidung yang lebih mancung seperti layaknya orang blesteran.


"Lo marah sama gue?" tanya Jay tiba-tiba


Adara hanya memutar bola matanya dengan malas, Jay dan Adara sudah itu sepupuan dan bahkan sudah bersama sejak mereka duduk dibangku taman kanak-kanak tetapi kenapa Jay masih belum peka terhadap segala hal atau polah yang Adara berikan pada Jay. Dasar tidak peka.


Dan detik berikutnya, Adara mendengar Jay menghela nafasnya. Dia menatapi tangan Jay yang sudah menggenggam tangan kirinya yang bebas.


"Yang dikatakan Mada benar, she look like her," kata Jay


Adara diam, dia berhenti mengaduk soto yang mungkin berujung tidak dia makan nanti karena Adara memang benar tidak sedang berselera untuk makan. Adara terlalu pusing dengan kakaknya -Mada yang hampir gila beneran. Dan sekarang, Jay sudah mengkonfirmasi kebenaran yang membuat Mada hampir gila beneran. Dan itu membuat Adara benar-benar semakin pusing dan penasaran untuk bertemu sosok itu.


"Gue bahkan syok kemarin waktu lihat dia, dan gue tahu kenapa Mada diam saja saat dia memaki bahkan bikin dia babak belur," kata Jay lagi


Jay meremas jemari tangan Adara yang dia genggam dengan pelan seolah menyalurkan emosi yang terpendam kepada Adara dan Adara mengerti itu. Dan ketika Adara ingin menggenggam balik tangan Jay, dia dibuat melongo karena tangan Jay sudah ditepis dengan kasar oleh Kaindra.


Adara dan Jay sontak menoleh ke arah Kaindra dengan tatapan yang sama -heran bercampur marah. Apa Kaindra tidak tahu jika dia dan Jay sedang dalam komunikasi serius yang menyangkut masa depan Mada?


"Lo ngapain tadi?" tanya Adara


Kaindra hanya mengangkat bahunya acuh, wajahnya datar tanpa ekspresi seperti pertama kali Adara melihatnya. Dan Adara melototinya dengan horor. "Jangan ganggu gue untuk sekarang."


"Oh, ok," kata Kaindra cepat


Dan Adara hanya memilih diam saja tanpa berniat menahan Kaindra yang sudah berdiri dari posisi duduknya, sepertinya Kaindra merajuk dan ingin pergi meninggalkan mereka. Adara menatapi Kaindra yang masih berdiri sembari menatapi dirinya dan Jay bergantian dengan tatapan kesalnya. Apapun alasan Kaindra merasa kesal, Adara tidak peduli itu. Adara rasa tidak ada alasan logis yang bisa membuat Kaindra kesal di waktu itu karena justru dia dan Jaylah yang harusnya kesal karena Kaindra sudah merusak suasana serius diantara mereka berdua.


"Kenapa lo berdiri? Lo mau ngapain?" tanya Jay


Adara masih menatapi Kaindra yang kini melirik Jay dengan tatapan marahnya, dan Adara dibuat bingung karena Kaindra justru hanya diam saja lalu berlalu pergi begitu saja. Jay menoleh ke arah Adara dengan tatapan bingungnya.


"What's wrong with him? You have problem with him?" tanya Jay


Adara menggelengkan kepalanya, dia menatapi punggung Kaindra yang semakin tenggelam diantara kerumunan kantin. Sedetik setelahnya, Adara tersenyum menyeringai sembari menoleh ke arah Jay. "Maybe he's jealous?"


Jay hanya bisa mendengus, dia menatapi Adara dengan tatapan bangganya. Dan Adara hanya bisa tersenyum miring ke arah Jay seolah menyombongkan kemampuannya untuk membuat Kaindra kesal karena terlalu cemburu melihat kedekatannya dengan Jay.


"Gue rasa lo sangat berguna saat ini, Jay. Jadi, lo mau ditraktir apa?" tanya Adara


Dan Adara mendengus geli ketika melihat seringai Jay. Adara tahu arti seringai itu, Jay pasti akan meminta video game terbaru yang tentunya harganya tidak murah dan sangat sulit didapat dan beruntungnya bagi Adara itu mudah karena Adara terlahir di keluarga Adinata yang terkenal kaya.


***


Seperti saat ini, Adara dengan sengaja menutup tirai jendela yang ada di dekatnya dan membuat tempat duduknya dan Kaindra menjadi lebih gelap bahkan Adara yakin itu akan sangat menyiksa jika mereka membaca buku dalam keadaan cahaya yang seperti itu. Adara menutup bukunya, lalu menopang wajahnya dengan tangan kirinya menunggu reaksi Kaindra dengan antusias.


Dan ketika Kaindra menoleh ke arahnya setelah sejak tadi menghiraukannya, Adara segera memasang wajah mengantuknya. "Gue bosan, lo ada hiburan buat gue?"


Adara menahan senyumnya ketika melihat Kaindra menjadi versi kalem lagi, dia hanya menatapi Adara dengan tatapan herannya lalu kembali menatap ke depan kelas sembari menutup bukunya seperti yang dilakukan Adara.


Sepuluh menit lagi, Adara akan memanfaatkan waktu itu untuk bersenang-senang dengan Kaindra tentu saja dengan berdrama bersama pemuda itu. Pasti sangat menyenangkan. Dengan hati-hati, Adara melirik ke arah ponselnya. Tidak ada pesan berarti kecuali pesan dari orang asing yang meminta berkenalan dengannya dan pesan dari Mada yang memaksa untuk menjemputnya. Mungkin, Adara akan pulang terlambat hari ini karena Jay memintanya untuk bertemu di ruang rahasia setelah ini.


"Gue ada acara bersama Jay setelah ini, lo mau ikut?" tanya Adara pelan


Ini semakin menarik, Adara bisa melihat rahang Kaindra mengeras setelah mendengar dirinya mengucapkan nama 'Jay'. Jika, seorang Jay saja bisa membuat Kaindra marah, bagaimana reaksi Kaindra jika dia menyebut nama pemuda lain? Adara mulai membayangkan bagaimana sosok Kaindra jika dia punya pacar, pasti dia tipe yang sangat posesif. Tapi, bagaimana jika pacar Kaindra itu seperti Adara yang sangat membangkang pasti dia akan merasa frustasi, kan?


Dan bel pulang berbunyi, Adara segera memasukkan bukunya ke dalam tas lalu berdiri menatap ke arah Kaindra dengan tatapan antusiasnya. "Lo nggak ikut, Kai?"


Adara hanya bisa mengangkat bahunya acuh, Kaindra hanya diam saja itu artinya pemuda itu tidak ingin ikut dan masih merajuk padanya. Itu tidak apa-apa, toh itu tidak mempengaruhi Adara. Adara masih bisa bersenang-senang dengan Jay nanti. Dan Adara hanya bisa menatapi segerombolan gadis sekelasnya yang sudah mendekati Kaindra dengan santai. Adara yakin pasti mereka akan mengajak Kaindra pulang bersama. Itu benar-benar membosankan bagi Adara, bahkan selama hampir dua tahun di sana, Adara tidak pernah pulang bersama dengan teman sekelasnya -dia hanya pulang pergi bersama Jay atau tidak dengan Mada jika kakaknya itu tidak ada kelas.


"Hei, Kai. Lo ada acara setelah ini? Gimana kalo lo pulang bareng kita?"


Adara melangkahkan kakinya meninggalkan tempat duduknya ketika melihat Kaindra sudah memiliki kemungkinan pulang bersama gadis-gadis itu. Namun, baru dua langkah Kaindra sudah menahan tangannya.


"Gue ikut," kata Kaindra cepat


Dan Adara hanya bisa mengangkat alisnya tertarik dengan jawaban Kaindra. "Lalu, bagaimana dengan mereka?"


Adara hanya bisa tersenyum bangga ketika Kaindra segera mengambil buku dan tasnya dan berdiri menatapi mereka dengan tatapan bersalah. "Maaf, gue pulang sama Adara."


Dan setelahnya, Kaindra segera menghampiri Adara. Adara menatapi tangan Kaindra yang sudah menggenggam tangannya dengan erat bahkan Kaindra juga yang menuntun jalan mereka berdua selama berjalan di sepanjang koridor.


"Gue nggak bakal kemana-mana, jadi lo bisa lepas ini," kata Adara sembari menunjuk tangan mereka yang saling bergandengan


Namun, bukannya melonggarkan atau melepaskan genggamannya Kaindra justru menarik tangan Adara mendekatinya dan membuat tubuh Adara lebih dekat dengan Kaindra. Dan Adara hanya bisa terdiam ketika Kaindra mulai melepas genggaman mereka dan beralih merangkul bahunya.


"Lo emang nggak bisa kemana-mana lagi setelah ini, karna gue mau nagih sesuatu ke lo," kata Kaindra


Adara merasa ditarik ke realita dan kesadarannya seolah Adara baru saja terbuai dengan mimpi atau halunasinya sendiri ketika mendengar perkataan Kaindra. Dia mau menagih sesuatu padanya? Apakah ini awal dirinya menerima karmanya? Dan kenapa Adara merasa gelisah saat ini, bukankah Adara sangat menunggu hal ini?


Adara mendongak menatapi Kaindra yang jauh lebih tinggi darinya ketika merasakan tekanan di bahunya. Kaindra tidak menatapmya sama sekali, dia menatap ke arah depan dengan lurus namun Adara bisa melihat aura misterius dari Kaindra mulai mempengaruhinya.


"Gue bakal jadi bad guy dengan cara gue sendiri mulai sekarang, jadi gue harap lo nggak bakal takut setelah ini," kata Kaindra lagi


Dan Adara tidak bisa berfikir jernih lagi ketika Kaindra mulai menunduk dan menatapinya dengan tatapan mengintimidasinya. Sialan, ini benar-benar karma bagi Adara.


***