
...Part. 15...
Lucy, Adara mengingatnya dengan baik. Dan anehnya, Adara mulai tidak menyukai nama itu seperti dia tidak menyukai nama Tiara. Apa dia yang akan menjadi pengganti Tiara di gedung internasional? Seharusnya, Adara tidak kesal ataupun reaksi negatif lainnya karena Kaindra hanya sebuah karma untuknya dan bukankah itu memang hak Kaindra untuk berteman dengan siapa saja.
Adara mendengus, tetapi tetap saja Adara tidak terima jika dia harus punya musuh hanya untuk menghadapi karmanya, bukan? Benar-benar menyebalkan, Adara segera menoleh ke arah Jay dan Leo yang masih memperhatikannya dengan tatapan heran.
"Are you okay, princess?" tanya Leo
Dan Adara ingin memukul wajah Jay dengan keras ketika menemukan wajah Jay terlihat jijik ketika dirinya disebut princess oleh Leo jika saja Leo tidak berada diantara mereka berdua.
"I'm okay," jawab Adara santai
"Dekat sih tapi nyatanya ada yang lebih dekat," celutuk Jay
Adara buru-buru melayangkan pukulan ke arah Jay yang sengaja mengejeknya itu, sialan kenapa Jay tidak pernah berada di pihaknya. Dan kenapa Leo masih diam saja diantara mereka berdua, tidakkah Leo tahu jika dia ingin sekali membunuh manusia bernama Jay yang tengah bersembunyi di belakangnya itu.
"Go away, Leo. I wanna kill this guy," kata Adara
Leo sendiri hanya bisa berusaha melerai dua temannya itu, dengan sekuat tenaga dia membuat Adara untuk tidak menyakiti Jay walaupun Jay memang menyebalkan. Dan Adara tidak suka itu jadi dengan keras Adara justru memukul kepala Leo sebagai gantinya.
"Benar-benar menyebalkan," maki Adara
Adara tidak peduli dengan ringisan Leo dan Jay yang mulai memprotes terhadap tindakannya yang anarkis tadi. Adara tidak peduli, Jay dulu yang membuatnya bertambah kesal. Toh, tindakan anarkisnya tidak akan ada yang tahu kecuali Jay dan Leo karena mereka sedang berada di ruang khusus keluarga Adinata yang berada di lantai paling atas.
Dan Adara juga tidak peduli jika Kaindra tidak dekat lagi dengannya, Adara bisa mencari penggantinya di sini. Dan itu sangat mudah, karna mereka berada di gedung internasional dan tidak menutup kemungkinan Adara bisa mendapatkan lebih dari Kaindra. Tapi, kenapa Jay harus membahasnya di depan Leo seolah Jay melihat dirinya menderita karena Kaindra dekat dengan gadis lain?
"Sebenarnya, apa yang terjadi? Apa yang buat lo sekesal ini, bukankah lo harusnya senang karna bisa kembali ke sini dan bertemu gue," tanya Leo
Dengan cepat Adara menatapi Leo dan Jay dengan tajam. Iya, dia memang senang bisa kembali bertemu dengan Leo dan yang lainnya tetapi tetap saja Adara merasa tidak adil dengan ini semua. Adara hanya bisa mendengus setelahnya lalu mengacak rambutnya sembarangan dan menundukkan wajahnya.
"Don't talk 'bout him, he just my karma, okay," gumam Adara
Dan Adara sudah tidak berselera lagi untuk bertengkar ketika mendengar Jay justru tertawa. Harusnya, Adara tidak membiarkan Jay datang ke kelasnya tadi dan melihat semuanya. Jay dan Mada itu hampir mirip, seperti seorang peramal jadi walaupun tadi Adara bisa menanganinya cukup baik, tetapi Jay tahu Adara kesal dengan Lucy.
"Gue cuma bercanda, Adara," kata Jay santai
Adara hanya berdehem saja, dia tahu Jay mulai merasa bersalah. Dia lebih memilih untuk berkutat dengan pikirannya, tentang dia, Kaindra, karma, dan Lucy. Apa Lucy juga termasuk dalam karmanya? Apakah Adara akan menghadapi mereka berdua? Sepertinya, Adara sudah terlalu lama nyaman di zona dramanya dan melupakan zona liarnya.
Benar, zona liar. Adara merindukannya. Dengan gerakan cepat, Adara mengangkat wajahnya dan menatapi Jay dan Leo dengan tatapan sumringahnya..
"Let's make a party tonight," kata Adara semangat
Dan Adara memilih bangkit dari duduknya dan meninggalkan Jay dan Leo yang terlihat kebingungan. Adara butuh hiburan, dan pesta sepertinya cukup menghibur untuk Adara.
***
Gadis itu masih bersama dengan Yura dan pemuda tampan yang Jay bilang adalah pacar Hana. Adara terus memperhatikannya, mereka bertiga terlihat sangat dekat seolah tidak mungkin ada yang memisahkan mereka bertiga. Dan Adara juga memperhatikan Mada yang juga hanya bisa diam di tempatnya berdiri, mereka berdua sama-sama tidak bisa menggapai Hana. Adara menyerah untuk urusan Hana, tetapi Adara yakin itu sulit untuk Mada karena Hana cukup mirip dengan Melisa walaupun sikap mereka jauh berbeda.
Adara buru-buru bersembunyi di balik tembok ketika dia menemukan Hana mulai menyadari keberadaanya. Itu cukup mengejutkan, padahal mereka berada di koridor yang masih ramai karena jam istirahat masih lama.
"Dia nggak liat gue, kan?" gumam Adara
Dengan perlahan Adara mencoba mengatur nafasnnya lalu mencoba mengintip apakah Hana benar-benar melihatnya atau tidak tetapi Adara justru dikagetkan dengan kedatangan seseorang yang muncul tiba-tiba di dekat tembok yang dia jadikan sebagai persembunyian.
"Lo ngapain? Lo lagi ngintip siapa?" tanya Kaindra
Adara mendengus dan segera mencari keberadaan Hana lagi di keramaian koridor tetapi gadis itu sudah menghilang dan Mada juga menghilang. "Kemana mereka?"
"Lo darimana aja?" tanya Kaindra
Untuk kedua kalinya, Adara mendengus lantas menatapi Kaindra dengan tatapan kesalnya. Kenapa dia peduli kemana Adara pergi, Adara saja tidak peduli kemana dia pergi?
"Itu bukan urusan lo, jadi minggir sana," jawab Adara sembari berusaha meninggalkan Kaindra
Namun, Kaindra justru menahan pergelangan tangan Adara dengan erat. Dan Adara semakin kesal dibuatnya, dia menoleh dan melototi Kaindra agar Kaindra melepaskannya. "Lepasin."
"Nggak, sebelum lo bicara sama gue," kata Kaindra
Adara mendengus lagi, dia memutar pergelangan tangannya namun tetap tidak bisa membuatnya bebas dari Kaindra. "Bukannya, gue udah bicara sama lo tadi. Jadi, lepasin."
"Berhenti hiraukan gue, Adara," kata Kaindra lagi
"Kapan? Kapan gue hiraukan lo? Lo bahkan di sekitar gue terus," jawab Adara kesal
Adara menghempaskan tangan Kaindra dengan keras dan itu berhasil membuatnya bebas dari Kaindra. Dengan cepat, Adara memukul dada Kaindra dengan sekali pukulan dan memarahinya. "Stop being mess around me, cause i'm already hate you, Kai."
"That's what i must say to you," kata Kaindra cepat
Dan Adara hanya bisa terdiam, dia menatapi Kaindra dengan tatapan tidak mengertinya.
"Stop messing with me, Adara. Did you know, all this mess is because of you," tambah Kaindra
"Kenapa gue?" tanya Adara kesal
Setelahnya, baik Adara maupun Kaindra hanya bisa terdiam. Mereka berdua hanya saling bertatapan dengan deru nafas yang sama-sama memburu. Dan Adara menemukan tatapan Kaindra mulai frustasi lagi.
"Cause, I fall in love with you, Adara," jawab Kaindra
***