BAD GIRL'S COMING OUT

BAD GIRL'S COMING OUT
Bagian 04.



...Bad Girl's Coming Out...


...***...


Sudah hampir delapan bulan, Hana benar-benar tidak menghubungi Dara. Bahkan, Hana hanya mengirimi Dara pesan singkat sekali sebulan dengan isi pesan yang sama -aku sibuk, tapi kamu nggak usah khawatir.


Bagaimana bisa Dara tidak khawatir, setelah dirinya tahu jika Mada -kakaknya terkeren itu juga diacuhkan oleh Hana. Sebenarnya, apa yang menjadi kesibukan gadis berambut hitam legam itu. Sekolah? Apa sesibuk itu juga?


Dara mengacak rambutnya frustasi, dia masih menunggu dan berharap Hana akan mengangkat telfonnya yang entah sudah berapa ratus kali. Dara tidak peduli, dia hanya ingin mendengar suara Hana saja.


Dan Dennis mulai pusing melihat Dara mondar-mandir di depannya jadi dia menghampirinya dan menepuk bahunya sekali. "Kurasa dia baik-baik saja di sana, Dara."


Dara meliriknya sebentar, ingin tersenyum tetapi belum bisa, dia belum mendengar suara Hana.


"Kuharap begitu, Den," jawab Dara lemah


Hingga beberapa menit setelahnya, ketika Dara benar-benar ingin menyerah -Hana mengangkat panggilannya.


"Ada apa?" tanya Hana setengah berbisik


Dara tidak tahu harus lega atau bertambah khawatir sekarang, yang difikiran Dara sekarang adalah apa Hana tengah diculik hingga Hana harus berbisik?


"Kamu dimana? Kamu baik-baik aja, kan?" tanya Dara


Hana tidak menjawab, setelahnya Dara bisa mendengar suara wanita berceloteh tentang angka-angka dan Dara bernafas lega -Hana sedang di kelas.


"Udah? Aku sibuk, nanti hubu-"


"Besok, aku pulang," sela Dara dengan buru-buru


"Itu bagus,"  jawab Hana


"Kenapa kamu kelihatan tidak senang?" protes Dara


Hana terdengar mendengus sekali. "Apa aku harus berteriak seperti orang gila dan berakhir pingsan kepanasan di tengah lapangan?"


Dara melongo, dia hampir lupa jika Hana masih berada di kelas dan bahkan dia bisa dengar suara wanita menyebutkan angka-angka dan teguran bersuara bass di dekat Hana.


"Besok, aku jemput di bandara pukul 8, ok?" jawab Dara kesal


Hana terdengar mendengus lagi, lebih keras untuk kali ini. Dan Dara suka mendengarnya, ngomong-ngomong besok hari minggu dan Hana tidak mungkin punya alasan sekolah, kan?


"Besok aku ada kencan, ok?" jawab Hana singkat


Lalu sambungan terputus, Dara melongo. Apa dia tidak salah dengar tadi? Kencan? Memang Hana punya pacar? Jika punya, siapa pemuda tidak beruntung itu? Apa pemilik suara bass di dekat Hana yang Dara dengar tadi?


Dara hampir tertawa, jadi Mada sudah dilupakan oleh Hana?


"He'em dia baik. Bahkan sangat baik," ucap Dara kesal


Dennis mengerutkan keningnya tidak mengerti, namun Dara tidak mau menjelaskannya pada Dennis mungkin Dennis juga tidak akan peduli dengan Hana -karna hanya berteman sekadar tahu nama masing-masing.


"Let's shop today," ajak Dara dan segera menarik tangan Dennis tanpa menunggu jawaban pemuda itu sendiri. Dara memilih untuk melupakan kekesalan terhadap Hana kali ini.


***


Dara menatap Maria -mama tercintanya dengan tatapan sulit dimengerti. Dan Maria tahu itu, Dara butuh dorongan agar gadis itu lebih percaya diri dengan tujuannya.


"Kamu harus kalahkan dia, kamu nggak mau kan perjuanganmu di New Zealand sia-sia," kata Maria


Maria tersenyum manis di akhir kalimatnya lalu kembali menyendokkan sesuap nasi goreng ke bibirnya setelah melihat Dara mulai berkobar. Sejujurnya, Maria begitu merindukan anak bungsunya itu dan membicarakan hal itu Maria menjadi lebih rindu dengan anak sulungnya -Mada.


"Aku pemenang, aku akan kalahkan dia," balas Dara


Maria mengangguk saja, lalu menatap Dara yang tengah melahap nasi gorengnya dengan kesal. "Jangan berantem sama Hana, dia udah berkorban banyak sama kamu."


"Berkorban apanya? Dia aja nggak pernah hubungin aku, dan tadi juga nggak jemput aku," protes Dara


Dara bertambah kesal sekarang, mengingat bagaimana sudah dua hari ini sejak dia pulang Hana benar-benar tidak menjemput dan menemuinya padahal dirinya sangat merindukan gadis berambut hitam legam itu.


"Walaupun begitu, dia punya andil banyak dalam masalah ini," Maria menatap lurus ke arah Dara, "jangan bilang kamu lupa jika ini semua hukuman untukmu."


Dara mengerutkan keningnya sebentar lalu mendengus. "Aku kira ini lebih seperti liburan seperti kata Hana,"


"Seperti kata Hana?" gumam Maria


Dara mengangguk dan dia menjadi merasa aneh ketika melihat senyuman penuh makna yang aneh di wajah cantik Maria. Dara mencoba menebak apa yang dipikiran mamanya itu. Namun, Dara memilih melanjutkan kegiatan makannya saja.


"Jika saja anak itu nurut, pasti dia juga udah pulang," gumam Maria


"Apa, Ma? Mama ngomong apa?" tanya Dara penasaran


Maria menggelengkan kepalanya lalu menaruh sendoknya ke piring nasi gorengnya masih tinggal sedikit -apa mamanya itu sudah kenyang tapi kan itu mubazir jika tidak dimakan pikir Dara iseng.


"Pokoknya jangan pernah berantem sama Hana, jika iya mama bakal asingkan kamu lagi," putus Maria


Dara ingin memprotes namun sialnya kunyahan nasi di mulutnya belum selesai jadi dia hanya bisa bergumam tak jelas di saat Maria pergi meninggalkannya sendiri.


*"mmamkummbammkalmmberanmmtemmsammammhammna" gumam Dara susah payah


***