BAD GIRL'S COMING OUT

BAD GIRL'S COMING OUT
Bad Girl's Coming Out. 10



...Part. 10...


Sore hari ini memang hangat, sinar matahari masih berada di barat untuk tenggelam dan awan masih putih menghiasi langit tetapi Adara merasa hawa di sekitarnya mendingin. Adara benar-benar membeku, dia melihatnya secara langsung sekarang. Di depan Jay, sosok itu benar-benar mirip dengannya. Bahkan, Adara merasa matanya panas karena merasa senang dan sedih secara bersamaan.


"Melisa?" gumam Adara


Dan tanpa mempedulikan reaksi Kaindra yang sudah dia campakkan begitu saja, Adara segera berlari dan memeluk sosok itu dengan erat. "Melisa? Ini lo? Ini beneran lo, kan?"


Adara tidak bisa memikirkan apapun, dia hanya merasa emosi senang dan sedihnya sudah mengambil alih tubuh dan pikirannya. Dan Adara tidak membiarkan seseorang yang berada di dekat sosok yang mirip Melisa itu mencoba melepaskan pelukannya. Adara terlalu rindu dengan sosok yang dia peluk sekarang dan Adara berharap dia bisa menahan sosok itu agar tidak pergi meninggalkannya lagi.


"I'm sorry, but i think you got wrong person," kata sosok itu tegas


Dan Adara merasa tersentak ketika sosok itu dengan mudahnya melepaskan pelukan Adara dan menatapinya dengan tatapan tidak suka dan risih yang nyata. Tidak hanya itu, Adara baru menyadari sepertinya dia memang salah orang karena walaupun sosok yang ada di hadapannya itu mirip Melisa tetapi Adara bisa merasakan aura yang sangat berbeda. Aura yang kuat dan tidak mungkin ditembus olehnya, dan Adara mengetahui alasan kenapa Mada bisa menangis dalam keadaan babak belur kemarin.


"I'm not Melisa, stop being mess with me. I just come to say sorry for the last day but i think it's wrong choose," kata sosok itu


Adara hanya bisa terdiam, dia menatap seragam sosok itu. Seragamnya sama dengan miliknya hanya saja warna dasi mereka yang berbeda, dasi sosok itu terdapat garis emas sedangkan miliknya tidak. Sosok itu berada di gedung internasional. Dan Adara bisa melihat jika sosok itu bukan Melisa, dari name tag yang ada di seragamnya tertulis nama yang berbeda -Hana H.


Dan ketika Adara ingin mendekati sosok itu, namun sosok di samping Hana segera menghalanginya dan menatapnya dengan tatapan memperingati. "Don't touch her."


Adara menatapi sosok di depan Hana dan dirinya, dia sangat cantik. Kulitnya bahkan lebih putih dari Adara dan cenderung pucat, bibirnya kemerahan secara natural, dan hidungnya mancung. Adara yakin mereka berdua adalah keturunan orang luar mungkin korea ataupun jepang. Adara membaca name tag gadis pucat itu -Kim Yura, dia orang korea. Dan Adara tidak merasa sangat terkejut ketika dia mendengar bagaimana Yura tadi melafalkan bahasa inggrisnya.


Dan Adara hanya bisa pasrah saja ketika Jay menariknya untuk mundur dan berdiri di dekat Jay. Jay menatapi Adara dengan tatapan tidak biasanya.


"I'm sorry for this, but you must know. Unfotunately, my friend can't forgive you for the last day," kata Jay tenang


Adara merasa terkejut untuk kedua kalinya, dia -Hana benar-benar bukan Melisa. Dari yang Adara lihat, Hana justru terlihat tenang saat Jay mengatakan hal yang tidak menguntungkan dirinya.


"But i'm sorry, cause i can't forgive your friend too. And I think what a reason i beat your friend till like that," jawab Hana tenang


Dan tanpa bisa mencegah, Adara hanya bisa terdiam menatap Hana yang berlalu bersama Yura meninggalkan mereka bertiga dalam keadaan terkejut. Dari kejauhan Adara bisa melihat sosok pemuda yang sepertinya sudah menunggu Hana dan Yura. Apa itu pacarnya?


Adara menoleh ke arah Jay setelah Hana dan Yura benar-benar menghilang dari hadapan mereka. "Cowok tadi siapa?"


"Her boyfriend," jawab Jay lemah


"Cewek tadi siapanya Mada?" tanya Kaindra tiba-tiba


Baik Jay maupun Adara segera menoleh ke arah Kaindra dengan tatapan tidak bisa diartikan. Adara menatap ke arah Jay meminta Jay saja yang menjelaskan, ini sudah masuk ranah privasi Mada dan Adara merasa tidak seharusnya Kaindra tahu tentang ini.


"Seseorang yang mirip dengan orang yang Mada pernah kenal dan dekat," jawab Jay ambigu


***


Adara hanya bisa menatapi Kaindra dalam diam, Kaindra begitu semangat untuk mengalahkan Jay dalam permainan tembak-tembakan yang Adara tidak tahu namanya itu karena Adara tidak mau memainkannya. Adara hanya berminat dengan permainan yang ada unsur dramanya seperti kehidupannya karena Adara itu tipekal orang yang sangat mudah bosan.


"Both you and me get a karma now," kata Adara


Adara diam saja ketika Mada justru memilih tidur di pangkuannya sembari menutupi wajahnya. Sungguh aneh, Adara yakin Mada tengah frustasi hari ini. Mada tadi benar-benar menjemputnya, dan tidak ada kemungkinan Mada tidak bertemu Hana dan pacarnya tadi. Bagaimana perasaan Mada kali ini?


Mada dan Adara itu memang berperan menjadi bad boy and bad girl dalam urusan percintaan mereka. Tetapi, Adara dan Mada tetaplah berbeda walaupun mereka bersaudara. Adara hanya akan bermain-main jika dalam sebuah hubungan tetapi Mada tidak. Mada hanya menjadi jahat dalam urusan percintaannya bahkan Adara tidak pernah mau membayangkan gaya pacaran Mada karena Mada itu sangat mendominasi. Dan Adara yakin, semua pacar akan bertekuk lutut pada Mada karena Mada itu super ganteng dan auranya tidak pernah bisa ditolak.


"Lo kenapa? Dia mulai nagih lo sesuatu?" tanya Mada tiba-tiba


Adara menunduk menatap Mada yang sudah tidak menutupi wajahnya dengan lengan. Mada benar-benar mengintimidasinya kali ini, dan Adara hanya bisa menghela nafas pelan.


"Hm, dia bilang dia mau nagih sesuatu sama gue," jawab Adara


Mada hanya mengangguk lalu mengusap dagunya sendiri dengan gerakan pelan, matanya menatap Adara dengan tatapan memperingati. "Ini udah waktunya buat kita kembali ke realita."


Adara hanya bisa diam saja, dia hanya memilih setuju saja. Dia memang mulai sadar dirinya harus kembali ke realita, dan mungkin permainan drama yang sering dia lakukan selama ini tidak akan bekerja untuk Kaindra. Dan Adara juga yakin, Mada juga mulai tertarik dengan realita jika cara jahat Mada tidak akan membuat Hana tertarik pada Mada.


"Lo nggak lupa caranya hidup dalam realita, kan?" tanya Mada


Adara mendecih kesal, dia hampir menjitak dahi Mada jika saja Mada tidak dengan sigap menahan tangannya. Mada sendiri hanya bisa tersenyum misterius lalu melirikkan matanya ke arah dimana Kaindra dan Jay tengah fokus dengan permainan mereka.


"Gue cuma khawatir, lo kehilangan kemampuan lo yang sebenarnya karna terlalu berdrama," kata Mada


Dan Adara hanya bisa tersenyum miring, dia tadi juga ikut melirik ke arah yang sama dengan Mada dan Adara menemukan hal menarik. Dia melihat dengan jelas jika Kaindra diam-diam memperhatikan mereka berdua dengan tatapan yang tidak biasanya. Adara tidak ingin tahu apa arti tatapan itu, tetapi setidaknya dalam hidup Adara yang masih berdrama sampai detik itu dia sudah bisa membuat Kaindra memperhatikannya.


"Gue mungkin bakal membuat realita yang berkelas buat dia, dan tentunya akan ada sedikit drama di sana," kata Adara


Adara mengelus rambut Mada hingga membuat dahi Mada terlihat jelas dan itu membuat Mada merasa nyaman. Dan Adara merasa itu kesempatannya, dengan cepat dia menjitak dahi Mada dengan keras dan tersenyum polos ketika Mada bangkit dari pangkuannya sembari meringis kesakitan dan tentunya mengumpatinya.


"F*ck you, Adara," maki Mada


"F*ck you too, brother," jawab Adara sambil tersenyum


***