BAD GIRL'S COMING OUT

BAD GIRL'S COMING OUT
Bad Girl's Coming Out. 07



...Part. 07...


...***...


Bau yang cukup maskulin? Adara tersentak. dia mulai mengerjapkan matanya dengan cepat, kepalanya terasa pusing ketika dirinya memaksa untuk terbangun dengan cepat. Sofa hitam? Adara menghela nafasnya lega ketika melihat sofa hitam yang ada di kamar itu, setidaknya Adara sekarang terbangun lagi di kamar Mada. Dan ngomong-ngomong siapa yang mengantar Adara ke sini? Jay atau Kaindra? Pasti Jay.


Adara memijit pelipisnya sebentar untuk mengurangi rasa pusing yang masih menderanya, sinar matahari sudah berubah jingga itu berarti Adara benar-benar kelelahan hari ini. Jika, dihitung itu sama saja Adara sudah tidur siang selama hampir tujuh jam atau sebut saja Adara sedang berhibernasi tadi.


"Tumben sepi?" Adara menatapi kamar Mada yang begitu sunyi seolah Mada tidak berada di kamar itu selama beberapa jam sebelum Adara di sana.


Adara bangkit dari kasur king size milik Mada dengan cepat, dia segera menghampiri tasnya yang tergeletak begitu saja di karpet beludru berwarna abu-abu di dekat sofa merah kebanggaan Mada. Dengan gerakan yang sangat rikuh, Adara mulai mencari ponselnya. Dia harus menghubungi Jay.


Beberapa detik berlalu, Adara belum menemukan ponselnya bahkan Adara sampai nekad mengeluarkan seluruh isi tasnya ke karpet abu-abu itu. Adara beberapa kali meraba saku seragam yang dia pakai namun belum juga menemukannya? Ngomong-ngomong soal seragam, Adara menjadi penasaran tentang bagaimana cara Jay membawanya keluar dari sekolahan? Apakah mereka keluar sebagai siswa membolos atau teladan -membolos pelajaran saja dan pulang di jam yang sama seperti yang lainnya?


"Oh my God!" seru Adara


Mata Adara membelalak dengan horor ketika menatapi pintu kamar Mada yang terbuka secara tiba-tiba. Adara yang tadinya ingin mengupat, terbungkam seketika. Bagaimana bisa? Seharusnya, Adara melihat seorang pemuda berambut blonde -Jay, atau tidak berambut coklat tembaga-Mada, tetapi yang tengah berada di dekat pintu kamar Mada itu berambut hitam legam. Dan Adara mengenalnya -Kaindra.


"Lo udah sadar?" tanya Kaindra sembari melangkah mendekati Adara


Adara menatap horor wajah Kaindra, tatapannya berubah kalem seperti mereka bertemu tetapi itu bukanlah alasan yang sangat kuat untuk membuat Adara berhenti mencurigai pemuda berimage kalem yang tengah belajar menjadi bad boy bersamanya, benar sebut saja muridnya.


"Kenapa lo bisa di sini? Dimana Jay?" tanya Adara


"Gue yang ada di sini, itu berarti Jay nggak ada," jawab Kaindra ketus


Adara menilik serius ke arah wajah Kaindra yang berubah begitu tidak bersahabat hanya dalam sedetik, sebuah wajah penuh amarah. Tunggu, apa Jay berhasil mengatasi Kaindra dengan sekali coba? Jika itu benar, maka Adara akan segera memuja Jay sebagai gantinya.


Dengan gerakan pelan dan seringai tipis, Adara mulai menghiraukan Kaindra dan memilih mengemasi isi tasnya dengan benar walaupun ponselnya masih belum ketemu. Adara yakin itu ada di tangan Jay, mungkin pemuda itu ada hal mendesak yang membuatnya meninggalkan dirinya bersama pemuda bermuka dua -Kaindra di apartemen Mada setelah mengantarnya ke sana.


"Oh, kurasa ponsel gue ada di tangan dia," gumam Adara


"Ponsel lo ada di tangan gue," jawab Kaindra dengan cepat


Adara menoleh dengan senyum tidak percaya yang sangat menyebalkan, biarkan Adara akan membuat pemuda itu kesal setengah mati karena sudah dengan keterlaluannya menatapinya dengan tatapan mengasihani seolah pemuda itu tahu segala hal yang terjadi pada Adara.


Dengan mata yang memancarkan aura sangat penasaran, Adara mengambil alih ponselnya dari tangan Kaindra. "Sebenarnya, dia ada urusan apa hingga bisa ninggalin gue begitu saja."


Rasanya sangat menyenangkan, bahkan Adara merasa ingin meledak karena saking senangnya. Raut Kaindra benar-benar tidak bisa bersembunyi dari kebohongan lagi, wajahnya berubah merah padam? Apa dia kesal atau marah? Apapun jawabannya, itu harusnya tidak mempengaruhi Kaindra, kan?


"You wanna play a game with me, Adara!" geram Kaindra


Adara segera menghubungi Jay ketika melihat Kaindra hanya memjlih diam saja, dan beruntungnya Jay segera menerima telfonnya.


"Hai, Jay. Lo dimana?" tanya Adara


"Gue masih di sekolah, ada hal yang mau gue urus. Kaindra ada di sana, kan? Katakan sama dia, makasih karna udah gendong lo sampai di apartemen Mada. Tenang saja, dia nggak tahu kode apartemen Mada,"


Adara melirik ke arah Kaindra sebentar. Jadi, Kaindra kembali membawanya ke apartemen Mada untuk kedua kalinya? Lalu, Jay dengan mudahnya mempercayai pemuda di depannya itu untuk menjaganya padahal dia tahu kalau dirinya membenci pemuda di depannya itu. Benar-benar sahabat yang gila.


"Ya, dia di sini. Lalu, where's my brother?" tanya Adara


"Dia di sini sama gue, gue rasa kita bakal dapat masalah besar. You're brother going crazy now, i'll call you again,"


Kening Adara mengerut, kenapa Jay dan Mada bisa berada di sekolahannya? Masalah apa yang mereka dapat sebenarnya, dan juga apa benar Mada menggila lagi? Jika iya, hanya satu hal yang dapat membuat Mada bahkan orang disekitarnya ikut menggila -orang itu kembali.


Adara menoleh dengan cepat ke arah Kaindra yang tengah menatapnya dengan tatapan penasarannya. "Hei, bisa antar gue ke sekolah sekarang?"


"Lo gila? Lo mau nyari masalah, lo udah bolos dan mau balik kesana?" tanya Kaindra dengan nada tidak percayanya


Dengan yakin, Adara mengangguk dan langsung berdiri dari posisi duduknya lalu menatap jam tangannya. Pukul lima lebih dua puluh menit, dan Adara rasa itu bukan masalah besar.


"Ya, gue emang gila. Dan bukannya lo juga udah dengar tentang itu dari gue sendiri?" jawab Adara


Adara dengan cepat segera melangkah melewati Kaindra begitu saja keluar dari kamar Mada, dan Adara merasakan kemenangannya ketika mendengar suara langkah Kaindra yang mengikutinya di belakang.


***


Dengan cepat, Adara melototi Mada dengan tatapan horornya. Wajah Mada babak belur seperti habis dikeroyok banyak orang. Kemejanya lusuh dan kotor, sepertinya Mada juga dibanting tadi. Tanpa mempedulikan tatapan menilai dari Kaindra, Adara segera mendekati Mada dan memeriksa wajah tampan kakaknya itu dengan teliti.


"Lo? Lo bisa kaya gini?" tanya Adara


Adara menatap ke arah mata Mada ketika tidak mendengar jawaban dari Mada maupun Jay yang berada di samping Mada. Jay kelihatan baik-baik saja, hanya seragamnya yang terlihat sedikit berantakan. Itu berarti hanya Mada yang berkelahi di sini dan Jay lah yang menenangkannya. Adara cukup tahu, Mada sangat sulit dikendalikan jika emosinya sudah memuncak.


Kosong dan sendu, Adara bisa menemukan tatapan yang sama seperti dua tahun yang lalu -ketika Mada menggila karena orang itu menghilang secara tiba-tiba. Adara tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia memilih untuk memeluk Mada dengan erat-erat.


"She's back, but she's not her again," kata Mada pelan


Adara hanya bisa terdiam, dia semakin mengeratkan pelukannya ketika Mada mulai membalas pelukannya dengan tidak kalah erat. Tidak, Adara tidak ingin melihat Mada menggila lagi. Itu hal yang sangat menyakitkan untuk Adara lihat dalam hidupnya.


***