
...Part. 05...
...▪️♥▪️...
Adara langsung menendang Jay hingga jatuh dari sofa saat melihat Jay begitu renyahnya tertawa setelah dirinya menceritakan semuanya pada Jay. "Sialan, it's not funny, Jay."
Jay belum bisa berhenti tertawa bahkan sepertinya pemuda itu tidak peduli jika dirinya sudah terjatuh dari sofa dengan posisi yang tidak menyenangkan karena ulah Adara. Dan Adara hanya bisa melototinya dengan horor.
"I'm so sorry, but i think that's so funny to me," jawab Jay terbata
"Funny? Damn, i want curse him every second," maki Adara dengan kesal
Adara hanya menatapi Jay yang dengan susah payah berhenti tertawa dan berusaha untuk duduk di sofa tanpa berniat membantunya. Mood Adara tidak terlalu cukup baik bahkan sangat buruk untuk bisa tertawa bersama Jay.
"Jadi, lo beneran kencan sama dia?" tanya Jay
Dan untuk kedua kalinya, Adara kembali menendang tubuh Jay walaupun tidak sampai jatuh dari sofa lagi. "Sialan, jaga mulut lo itu."
Jay hanya tersenyum geli mendengarnya, lalu duduk bersila menghadap Adara seolah ingin memberitahukan sesuatu yang menarik pada Adara. Dan Adara mulai was-was ketika melihat senyuman Jay semakin lebar ketika melihat ke arahnya.
"Ayolah, Adara. Lo harus peka sama kode seorang cowok, lo bukan tipe cewek yang baru mengenal pacaran, kan," kata Jay
Adara mendengus kesal dan hampir menabok kepala Jay jika saja Jay tidak menghindar dan menatapinya dengan tatapan minta maaf. "Itu bukan kode, tetapi ini soal harga diri, Jay."
Jay mendengus dan Adara tidak mempedulikannya untuk entah ke-berapa kalinya. Adara memang tidak pernah mempedulikan apa itu kode dari seorang cowok, karena Adara sejauh ini hanya memacari seorang cowok karena merasa cowok itu cukup cocok untuk jadi pacarnya -tentu tanpa ada rasa suka yang berarti.
"Oh My God, Adara. Please, hear me now! I know what you want, but karma is real. I just give you advice, and want you happy with the right guy that's really love you," terang Jay
"I donvt believe it," jawab Adara cepat
Dan Adara segera melototi Jay ketika melihat Jay mendekat hampir ingin menjambak rambutnya. Lantas bangkit dari sofa yang ada di kamar Jay, sialan kedatangannya ke apartemen Jay cukup tidak menguntungkan. Seharusnya, Jay tetap mendukungnya dan memberinya ide untuk memberi karma kepada Kaindra. Karma?
Adara berhenti melangkah tepat di depan pintu kamar Jay, dia tengah menyiapkan sebuah karma untuk Kaindra tetapi dirinya sendiri tidak mempercayai sebuah karma. "Karma?"
"Hei, Jay!" Adara berbalik lagi ke kamar Jay dan menatapi Jay dengan tatapan menuntutnya, "what is karma?"
Dan Adara buru-buru melarikan diri ketika Jay melepas sandal berbulunya dan mengarahkannya ke arah dirinya.
***
Besoknya, Adara berangkat ke sekolah diantar oleh supir pribadinya. Mada bilang ada kelas pagi ini dan Jay masih merajuk padanya. Dan sialnya, Adara tahu Mada membohonginya karena tadi Adara malah tanpa sengaja melihat Mada bersama Jay -Mada malah mengantarkan Jay ke sekolah padahal jelas-jelas Jay sudah punya sepeda motor dan mobil sendiri yang biasanya Jay pakai ke sekolah.
Dan double sialannya, Adara yang masih kesal malah berpapasan dengan Kaindra yang baru saja memarkirkan sepedanya. Kening Adara mengerut, bagaimana untuk cowok setampan Kaindra hanya memakai sepeda ke sekolah? Apa rumah Kaindra cukup dekat dengan sekolah, jika iya Adara mulai iri pada Kaindra.
Karena tidak ingin memperkeruh mood nya yang buruk, Adara memilih berpura-pura untuk tidak melihatnya dan melewatinya begitu saja dengan langkah yang lumayan panjang dan cepat. Namun, dengan luar biasa sialannya Kaindra justru memanggil Adara dan lebih parahnya Kaindra juga berlari menyusul Adara.
"Hei, Adara tunggu!" teriak Kaindra
"Damn," -maki Adara dalam hati
Dengan sangat berat hati, Adara menghentikan langkahnya karena akibat teriakan Kaindra yang lumayan keras itu membuat bamyak pasang mata mengalihkan fokus mereka ke arahnya maupun Kaindra. Adara menoleh ke arah Kaindra yang tengah berlari ke arahnya dengan senyum ramah palsu yang sangat menipu. Dan diam-diam merasa senang melihat bagaimana Kaindra berlari ke arahnya, bukankah akan menyenangkan jika membuat pemuda itu bertekuk lutut padanya? Setidaknya, Adara hanya perlu membuka topeng Kaindra agar dia tahu bagaimana caranya.
"Hei, Kaindra," sapa Adara ceria
Dan Adara melotot ketika Kaindra dengan tiba-tiba mencium pipi kanannya dengan gerakan cepat.
"Morning, my bad girl," sapa Kaindra
Adara dengan cepat memperbaiki raut wajahnya, dengan perlahan Adara tersenyum hangat ke arah Kaindra. Matanya yang melotot berubah menyipit karena senyuman yang tentunya palsu itu. Jadi, Kaindra benar-benar niat untuk melakukan drama seperti dirinya maka Adara akan memperlihatkan drama dengan level berbeda untuk Kaindra yang sudah berani mencoba keluar dari topeng kalemnya.
"Morning, my bad guy." Adara dengan mudah mencium pipi kanan san pipi kiri Kaindra secara bergantian.
Dan Adara cukup puas melihat raut wajah Kaindra hampir sama dengan raut wajah Adara setelah dicium oleh Kaindra tadi. Sebenarnya, Adara tidak akan melotot jika saja Kaindra tidak melakukannya secara tiba-tiba. Adara sudah cukup terbiasa dan merasa akrab dengan gaya menyapa seperti itu karena Adara juga pernah tinggal di New York selama hampir enam tahun. Dan karena mereka di Indonesia terlebih Kaindra dulu yang berani melakukannya maka Adara cukup terkejut akan hal itu.
"Mau ikut gue? Gue ada rencana setelah ini," tawar Adara
Adara hanya bisa tersenyum geli melihat Kaindra yang hanya bisa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban untuk tawarannya tadi. Dengan gerakan santai dan tenang, Adara mulai memeluk lengan kanan Kaindra dan menyeretnya pergi dari area parkir untuk menuju kelas mereka yang ada di lantai dua.
Dan Adara yakin, setelah ini rumor menyedihkan dirinya akan tersisihkan secara cepat dengan rumor jika dirinya dan Kaindra mulai berkencan. Adara juga berharap Jason akan memendam rasa menyesal yang sangat hebat karena sudah memilih selingkuh dengan Tiara itu.
***