
...Bad Girl's Coming Out...
...***...
Pagi hari pukul delapan, Dara terbangun. Ini hari kedua Dara berada di negara orang lain, ngomong-ngomong apa yang terjadi antara Hana dan Mada tadi malam -pasti bertengkar hebat. Jadi, Dara buru-buru mencari ponselnya lalu turun dari kasur dan berjalan mendekati jendela, membuka kordennya lebar-lebar.
Sialan, di sini masih musim dingin berbanding terbalik dengan Indonesia. Pantas saja Dara bangun siang, tetapi Dara tidak peduli. Toh, dia di sini untuk liburan, kan?
Dara menatap ponselnya dengan senyum lebar, banyak panggilan tidak terjawab dari Hana. Pasti, gadis itu mau memaki dirinya dan Dara ingin mendengarnya -suara cerewet kelewat lucu bagi Dara. Jadi, Dara menghubungi Hana dengan segera.
"Siapa? Aku sibuk, silahkan tinggalkan pesan jika tidak penting." Suara serak Hana terdengar dari sebrang sana.
Dara pikir Hana bakal mengomel, tapi apa ini? Jika, dipikir-pikir lagi, di sana masih siang kan setidaknya jam dua siang, kan? Dan apa kesibukan gadis berambut hitam legam itu di sana.
Buru-buru Dara menyahut dengan tidak tenang. "Sibuk? Ini hari libur dan masih siang, Hana!"
Dara membayangkan Hana tengah melotot saat mendengar suaranya, hingga Dara bisa mendengar suara menguap. Sialan, jadi yang dimaksud sibuk itu lagi-lagi rebahan. Dasar beruang.
"Ada apa lagi?" tanya Hana, kentara sekali nadanya terlihat bosan.
Namun, Dara belum bosan bahkan Dara belum mendapatkan apa yang dia inginkan. Sebuah drama yang terjadi antara Hana dan Mada kemarin.
"Jadi, apa yang terjadi kemarin?" tanya Dara
Hana mendengus kali ini, tidak ada suara pergerakkan. Dara yakin Hana masih rebahan di kasur miliknya. "Sebuah keajaiban. Makasih, Dara."
Apa? Kenapa justru Dara yang kesal sampai sekarang, seharusnya Hana kesal, kan? Dia sudah mengadu ke Mada, dan Dara yakin Mada pasti marah besar kepada Hana.
"Apa? Keajaiban? Maksud kamu?" tanya Dara bertubi-tubi
"Makasih, berkat kamu. Aku bisa tahu apa yang dia benci. Dia benci aku dekat sama pemuda lain kecuali Jay," jawab Hana santai
"Dia marahin kamu?" tanya Dara
Tidak ada suara dari sana, Dara tersenyum lebar. Pasti Hana tengah memutar bola matanya dan diam-diam memaki Mada dan Dara dalam hati.
"Sialan, kakak adik sama saja. Tentu saja, tapi aku suka itu," maki Hana secara terang-terangan
Dara mendengus, seharusnya dia harus hafal kelakuan super unik milik Hana. Di saat semua orang kesal karna dimarahi tetapi Hana malah mengaku suka dimarahi. "Dasar alien."
Julukan Hana bertambah sekarang, nyatanya Hana itu memang mirip spesies alien yang menyamar menjadi manusia. Hana juga terdengar mendengus di sebrang sana lalu terkikik beberapa detik. Astaga, gadis itu sebenarnya terbuat dari apa?
"Hei, Dara. Aku tahu rasanya bucin sekarang," kata Hana tiba-tiba
Dara mencoba mendengarkannya. "Iya kamu bucinnya kak Mada."
"Tapi nggak sebucin dirimu sama Jason," ejek Hana
Sialan, hampir dua hari Dara sudah tidak memikirkan Jason dan itu juga karna Hana. Dan sekarang, Hana kembali memaksanya memikirkan Jason lagi. Sialan, Dara benci pemuda itu.
"Jangan bahas dia," kata Dara
"Dia? Siapa? Jason?" tanya Hana
Dara yakin Hana sengaja mengulang nama itu lagi, tidak bisakah gadis itu tidak bertingkah menyebalkan sehari saja?
"Hei, lupakan dia. Ngomong-ngomong apa kamu udah punya teman?" tanya Hana lagi
Dara menganga mendengarnya, secepat itu Hana mencari topik pengalihan pembicaraan berat yang dibenci Dara. Dan Dara mulai merindukan Hana detik itu, ingin bertemu dan memeluk gadis itu.
"Belum, bahkan aku baru bangun tidur," kata Dara jujur
Dara berjalan menjauhi jendela, keluar dari kamarnya dan menuju dapur.
"Dan aku yakin, kamu belum keluar dari apartemen," tambah Hana
"Hei, cepat mandi sana. Dan bertemu tetanggamu," saran Hana
"Untuk apa?" tanya Dara
"Tentu saja berteman dengan mereka! Apa kamu pikir kamu punya teman di sana, aku tidak peduli hari ini kamu harus keluar dan punya teman karna besok aku bakal sangat sibuk," oceh Hana panjang lebar
Dara mendengus untuk kedua kalinya, dia yakin yang Hana maksud sibuk itu hanya rebahan di kamar. "Jangan sok si-"
"Aku beneran sibuk besok, sibuknya orang normal. Jadi, jangan telfon aku lagi, kecuali jika kamu sudah punya teman," potong Hana
Dan sambungan terputus, membuat Dara mengerang dan mengacak rambutnya dengan kesal. Dengan tidak ikhlas, Dara menurutinya pada akhirnya, berjalan ke arah kamar mandi untuk bersiap mencari teman.
***
Dara mencoba mengendalikan ekspresinya, setelah ini semua Dara akan segera menghubungi Hana. Di sebelahnya sudah ada Dennis Keandre -tetangganya. Sebuah keberutungan ternyata Dennis juga orang Indonesia dan sudah hampir dua bulan di sana.
"Jika kamu butuh bantuan bilang saja ke aku, oke?" kata Dennis
Dara menatapnya, Dennis itu tampan mungkin dia blesteran Indonesia-Jepang. Jika, Hana melihatnya pasti Hana suka sama Dennis pikir Dara iseng.
"Dara, kamu baik-baik aja?" tanya Dennis, dia melambaikan tangannya ke depan wajah Dara.
Ya, Tuhan. Ini sangat memalukan bagi Dara bagaimana bisa dia terbengong menatapi wajah Dennis dan dipergoki oleh Dennis juga.
"Iya, aku baik-baik saja," Dara meremas tangannya canggung, "terima kasih buat hari ini, ya."
Dennis melihatnya dan menahan tawanya. "Hei, jangan malu. Udah sewajarnya buat tolong-menolong bukan."
Dara mengangguk sekali lalu tidak ada perbincangan diantara mereka, mereka hanya berdiri di depan apartemen Dara dengan kantong belanjaan mereka masing-masing.Itu bertahan selama sepuluh detik, hingga ponsel Dara berdering.
Dara buru-buru mengangkatnya dan dia tersenyum lebar mengetahui itu dari Hana. "Ada apa Hana?"
"Aku cuma mau tahu kamu udah bangun belum?" tanya Hana di sebrang sana, Dara bisa mendengar suara keyboard sepertinya Hana tengah berada di depan komputer.
"Bukan hanya sudah bangun, tapi aku juga udah dapat teman," jawab Dara dengan bangga
Suara Hana dan keyboard tidak terdengar beberapa detik, mungkin Hana tengah mencoba mempercayainya.
"Namanya Dennis, dia kebetulan juga orang Indonesia yang tengah liburan di sini," tambah Dara
Hana masih bersuara, dan Dara bingung harus kesal atau khawatir karna Dara merasakan dua perasaan itu. Hingga, dia bisa mendengar helaan nafas lega di sana.
"Itu bagus, jadi mulai sekarang jangan hubungi aku dulu. Aku benar-benar sibuk untuk seka-"
"Hai, kamu yang di sana. Aku bakal jagain Dara di sini buat kamu, kamu bisa percaya sama aku." Tiba-tiba Dennis menyela dengan suara bass dan intonasi seriusnya.
Dara menatapnya kaget beberapa detik lalu tersenyum. "Kamu udah percaya?"
"Ok, jaga diri kamu," kata Hana
Dan setelah itu sambungan terputus.
"Dia memang begitu kadang menyebalkan tapi dia baik," kata Dara
Dennis tersenyum makhlum tapi Dara bisa lihat ada senyum aneh di wajah Dennis. Dara akan menghiraukannya, mungkin Dennis sedikit terkejut dengan Hana tadi.
"Mari berteman mulai sekarang," kata Dara
***
Krystal Jung aka Adara Adinata