
...Part. 02...
...**PENGUMUMAN...
Hai, para readers.
Buat part ini aku mau update cerita juga mau nyampain berita penting.
Ini kali pertama aku pakai noveltoon sebenarnya dan cerita pertama aku. Aku nggak tahu di aplikasi kalian part di novelku ini masih campur sama part dulu atau nggak soalnya kalo di aplikasiku lewat perpustakaanku part-part nya masih campur dengan part yang dulu tetapi kalau lewat akunku (novelku) semua part yang udah ke publish sebelumnya udah hilang.
Jadi, intinya aku cuma mau ngasih tahu buat yang udah terlanjur baca yang part versi lama, lebih baik nggak usah dibaca lagi. Baca saja yang part update terbaru. Aku udah bedain kok buat judul per episodenya. Kalian baca aja yang awalannya "Bad Girl's Coming Out. Part 01- End" ya nanti.
Thx juga buat yang udah mau mampir dan baca cerita aku. 😘
^^^Happy Reading again guys..^^^
...Yang pernah nonton penthouse pasti tahu siapa dia?...
...***...
Pukul sebelas siang, bunyi alarm yang begitu keras membuat Adara terpaksa membuka matanya dengan kesal, padahal dia baru saja bermimpi liburan di pantai bersama Jason. Ah, sialan bahkan sampai di alam mimpi Adara masih memimpikan mantan brengs*knya itu. Tetapi beruntungnya, hari ini hari minggu jadi Adara tidak perlu repot untuk berdrama mencari sebuah absen.
"Oh ****, kenapa gue masih mimpiin dia?" rutuk Adara
"You're totally drunk last night, and all of that cause you're break up with that's jerk."
Adara hanya bisa terdiam, tubuhnya membeku. Mata Adara memperhatikan pintu yang ada jauh di hadapannya, Adara mengenali pintu itu. Dia tengah berada di apartemen Mada, kakaknya tercinta. Dan Mada tahu jika dirinya mabuk karena putus cinta tadi malam, benar-benar memalukan.
"Pintu itu nggak bakal ngubah apapun walaupun lo liatin sampai bolong,"
Adara melirik ke arah sampingnya, Mada tengah duduk santai di sofa hitam kebanggaannya dan menatapnya dengan tatapan super menyebalkan -mengejeknya. Adara masih ingat sebera sering Mada mengatakan jika dirinya tidak setuju jika Adara menjalin hubungan dengan Jason dan terus mengatai Jason setiap kali Jason berkunjung ke rumah mereka atau tidak sengaja bertemu dengan Mada.
"You have many debt on me. And I think you can't pay back to me," kata Mada
Derap langkah Mada terdengar jelas ketika pemuda itu berjalan mendekati Adara yang masih diam-diam tidak mau melihat ke arahnya. Tentu saja, Adara tidak berani melihat Mada, dia hanya tidak ingin menampakkan wajah kacaunya untuk kedua kalinya kepada Mada setelah Mada pasti juga sudah melihat wajahnya yang lebih kacau tadi malam.
Dan ngomong-ngomong tentang tadi malam, siapa yang menampungnya hingga bisa berakhir di apartemen Mada?
"So, who this guy? The guy who take you on my apart with 'safe way'?" tanya Mada dengan menekankan kalimat safe way
Adara mengerutkan keningnya, dia berusaha mengingat segala hal yang dia alami saat mabuk tadi malam. Kemarin, Adara nekad masuk ke dalam bar starry night, bar yang dia dapat di mesin pencari sebagai bar terpopuler di Bandung. Lalu, dia mabuk karena segelas vodka, mencari ponsel, tas jatuh, dan ditangkap orang asing lalu menamparnya dan pingsan.
"I don't know that's guy, and i think we'll not meet again," jawab Adara yakin
Dan Adara merasa tidak nyaman saat mendengar Mada justru tertawa renyah di sampingnya. Tawa renyah Mada itu sama saja musibah bagi Adara, dulu saat Adara memberitahu Mada jika Jason dan dirinya menjalin hubungan, Mada juga tertawa renyah seperti ini.
"Jangan ketawa!" titah Adara
Mada benar-benar berhenti tertawa renyah, dan itu malah membuat Adara menjadi takut. Adara bisa melihat ada tatapan rahasia saat Mada menghentikan tawanya.
"Dia bilang lo juga punya hutang sama dia, dan gue rasa dia nggak bakal lepasin lo begitu saja," kata Mada
Sialan, Adara merasa terintimidasi saat itu juga. Segala ucapan Mada itu memang banyak benarnya bahkan kemarin dia dan Jason juga putus setelah Mada juga mengatakan jika dia dan Jason akan putus besoknya. Adara juga yakin jika Mada bukanlah peramal masa depan tetapi kenapa ucapannya itu selalu benar?
"Sebaiknya, lo hati-hati sama dia. Gue rasa dia sangat berminat menagih hutang yang lo buat itu," kata Mada lagi
Dan lagi-lagi, Adara merasa terintimidasi mendengar ucapan Mada. Diam-diam, Adara segera berdoa dalam hati agar pemuda itu melupakan segalanya dan mematahkan asumsinya jika Mada seorang peramal masa depan.
"Gue bisa urus itu dengan mudah," jawab Adara tidak yakin
Adara akan mengumpati Mada jika saja Mada bukanlah kakak tercintanya dan saudaranya sendiri ketika Mada kembali tertawa renyah sembari menepuki puncak kepalanya beberapa kali. "Are you sure?"
***
Besoknya, Adara pergi ke sekolah dengan hati yang tidak tenang. Bagaimana Adara bisa tenang, Mada kembali berulah lagi sesaat kakaknya itu menurunkannya di depan gerbang sekolah tadi. Mada bilang jika dirinya akan bertemu dengan pemuda itu dan akan mendapat masalah besar hari ini. Adara akan mencoba untuk bersembunyi atau berpura-pura tidak mengenalnya saja, toh Adara juga tidak tertarik untuk memikirkan tentang bertemu dengan pemuda asing yang sudah berani menghinanya kemarin malam.
Sejauh Adara melangkah hingga di dalam kelasnya, Adara bisa melewatinya dengan lancar. Adara tidak bertemu dengan pemuda itu, kalau bisa sampai kapanpun Adara tidak bertemu dengan pemuda itu. Dan karena hari ini hari senin kelas Adara sudah sangat ramai, tentu saja mereka bersiap untuk melakukan upacara bendera yang akan berlangsung lima menit lagi.
Adara buru-buru melenggang ke arah tempat duduknya yang paling belakang. Kening Adara mengerut karena tempat duduknya terlihat begitu ramai dengan kerumunan. Dan mendadak Adara merasa takut, dia mempunyai firasat buruk tentang kerumunan itu. Apakah kesialan masih memihaknya hari ini?
"Lo bisa urus ini, Adara," gumam Adara pelan
Dengan langkah yang mantap walaupun sebenarnya ragu, Adara kembali melanjutkan langkahnya ke arah kerumunan itu. Seolah sudah direncanakan, kerumunan itu membelah dan memberi jalan kepada Adara untuk bisa mencapai tempat duduknya. Dan nafas Adara tercekat beberapa detik, Adara berusaha mati-matian untuk tidak panik setelah menemukan seseorang di samping tempat duduknya. Mada benar untuk ke-sekian kalinya, dia bertemu dengan pemuda itu hari ini tepat sepuluh menit setelah Mada mengatakannya.
"Lo siapa?" tanya Adara pelan, dia menatap pemuda itu dengan tatapan menilainya yang sedikit menyakinkan.
Dan Adara merasa harus berusaha lebih keras lagi saat melihat sebuah senyum miring dari pemuda itu. Bahkan, Adara hanya bisa menatapi tangan pemuda itu dengan tatapan horornya.
"Gue Kaindra Mahendra, anak baru," kata pemuda itu
***