
...Part. 06...
Adara melirik ke arah Kaindra yang masih setia berada di belakangnya, dan Adara merasa bangga detik itu. Karena detik itu juga, Adara berhasil mempunyai seorang murid yang mungkin akan mengubah hidupnya lebih berwarna dan Adara yakin Kaindra akan sama seperti mereka -mudah untuk ditakhlukan dan mungkin akan mengikuti alur drama yang akan dia buat.
Pukul sepuluh lebih lima menit, Adara menatap jam tangannya dengan senyum puasnya. Ini sebuah waktu yang tepat, dan beruntungnya situasi dan kondisi sangat mendukung niat Adara untuk membolos hari ini.
"Are you ready, Kai?" tanya Adara
Adara bisa melihat ada kerut samar di dahi Kaindra, namun Adara tidak mempedulikannya dan memilih menarik tangan kanan Kaindra ketika dirinya sudah melihat Anggara -si ketua osis sudah berbelok ke arah gedung satunya -gedung kelas internasional. Sialan, sebenarnya Adara dan Jay dulu bisa masuk ke gedung itu jika saja reputasi Adara dan Jay tidaklah buruk.
Dan ketika Adara sudah sampai di dekat halaman belakang sekolah tepatnya di depan ruang serba guna yang terlihat menyeramkan dari segi penampilan pintu yang tidak terurus sama sekali bahkan besinya hampir berkarat semua. Bahkan, ruangan serba guna itu tidak memiliki pencahayaan yang maksimal dan berada di dekat halaman belakang sekolah yang sepi.
"Lo bolos atau uji nyali, Adara?" tanya Kaindra heran
"Lo boleh pergi sekarang jika lo takut," Adara hanya mengangkat bahunya tidak peduli, yang terpenting Adara akan bersenang-senang hari ini, "Anggara nggak bakal lihat jika lo pergi sekarang."
"Rasakan itu," -pikir Adara
"Gue nggak takut," kata Kaindra tegas
Adara hanya diam saja sembari melirik wajah Kaindra yang terlihat masih tenang-tenang saja di belakangnya. Dan Adara memilih mendekati pintu itu dan berdehem sebentar. "I'm here."
Dan tiba-tiba pintu yang berkarat di depan mereka terbuka dengan sendirinya, memperlihat sebuah ruangan yang begitu gelap seperti sebuah lorong untuk memasuki dunia lain. Adara mengerjapkan matanya dengan cepat ketika Kaindra secara tiba-tiba berjalan menghadangnya yang ingin masuk ke dalam ruangan itu.
"Biar gue yang di depan," kata Kaindra lalu mengulurkan tangannya ke arah Adara
"Gue nggak bawa senter jika lo takut mending lo tetap di bela-"
Adara dibuat melongo oleh tindakan Kaindra untuk kedua kalinya, dengan sangat cepat Kaindra menarik tangan Adara dan menggenggamnya erat-erat diantara sela-sela jarinya yang tentunya lebih besar dan lebar dari jari-jari Adara. Sialan, kenapa Kaindra yang harus memuntunnya kali ini. Ini alur drama Adara bukan Kaindra.
"Jangan debat gue, gue cuma nggak mau disalahin karna hanya gue bersama lo sekarang," terang Kaindra
Adara dengan cepat dan kerasnya mendengus kesal lalu menghempaskan tangan Kaindra hingga genggaman tangan mereka terlepas. Dengan sigap, Adara melangkah melewati Kaindra yang terlihat terkejut dan memasuki ruangan gelap itu dengan tenang.
"Di sini walaupun gue terluka sampai berdarah, nggak akan ada yang bakal disalahin," kata Adara
Dan Adara buru-buru segera berbalik ketika melihat tatapan Kaindra yang begitu mengasihaninya. Sialan, Adara tidak berharap ada jenis tatapan seperti itu terarah padanya. Seumur hidupnya, Adara baru mendapat tatapan itu hanya dari beberapa orang yang sangat dekat dengannya -Mada, Jay, dan Melisa dan sekarang bertambah satu, Kaindra.
>>>
Adara hanya melirik Jay dengan sesekali mengangkat alisnya. Adara yakin Jay pasti bingung melihat dirinya membawa Kaindra masuk ke dalam markas rahasia mereka berdua. Jay sendiri hanya bisa mendengus geli ketika melihat bagaimana acuhnya Kaindra yang sudah fokus ke layar besar di depannya dan konsol game di tangannya.
Adara memilih untuk tidak menghiraukannya juga dan berakhir duduk di sofa merah di tengah ruangan diikuti oleh Jay yang langsung duduk di samping Adara.
"Are you okay?" bisik Jay
Adara tidak menjawab apapun dan hanya berdiam diri sembari menempelkan lengan kanannya ke dahinya sendiri sehingga menutupi sebagian besar wajahnya. Sebenarnya, Adara hanya ingin menangis saat itu. Dan itu karena Kaindra, yang super sialannya sudah membuat Adara tidak bersemangat dan merasa mellow saat itu juga. Bahkan, saat Adara sadar seribu persen jika dirinya dan Kaindra hanya akan terlibat sebuah hubungan yang sangat toxic dan akan berakhir sad ending justru di hari ketiga mereka kenal Adara sudah dengan mudahnya memberi petunjuk jika dirinya seorang yang lemah karena haus perhatian -kesepian.
"I'm mess it up, Jay," jawab Adara pelan
Dan Adara hanya bisa diam saja, saat merasakan sebuah tepukan di bahunya. Adara tahu itu Jay yang melakukannya, karena Adara masih bisa mencium aroma parfum Jay yang begitu maskulin dan suara Jay di dekatnya.
"Fix it with me," kata Jay
Adara mengangkat lengan kanannya dari dahinya, dan menatapi Jay yang masih setia di dekatnya dan tengah menatapi Adara dengan tatapan prihatinnya. "Tell me everything what you wanna tell, I here to hear you."
Dan Adara memilih menggelengkan kepalanya lalu beralih menatapi Kaindra yang masih berfokus dengan game balapan mobilnya. Setidaknya, Adara merasa beruntung ruangan rahasia miliknya dan Jay itu kedap suara walaupun mereka mempunyai banyak pengeras suara di sana. Dan Adara merasa lebih beruntung karena mempunyai pengeras suara itu karena itu tidak membuat Kaindra bisa dengan mudah menguping pembicaraannya dengan Jay tadi.
"Gue mau tidur sebentar, awasi dia." Adara memilih untuk mengganti posisinya dengan tiduran di sofa merah itu.
Ketika Adara benar-benar ingin memejamkan matanya untuk beristirahat dari dramanya yang baru saja mulai dan menguras tenaganya, Jay justru malah mengulurkan tangnnya ke arah wajah Adara dan mengusapi pipi Adara dengan lembut.
"You'll be okay, Adara. I'll always in your side with your big brother," kata Jay
Adara hanya bisa mengangguk pelan, dia merasa benar-benar lelah saat itu juga. Tidak bisa dipungkiri, ternyata musuhnya kali ini hampir sebanding dengannya bahkan dengan sadar Adara hampir membunuh dirinya sendiri dengan mengungkap sebagian kecil kelemahannya pada Kaindra.
"Gue nggak bakal biarin lo jadi peran utama di drama gue," -pikir Adara
Dua detik setelahnya, Adara benar-benar memejamkan matanya dan terlelap di alam mimpinya mengabaikan apa yang terjadi diantara Jay dan Kaindra di ruangan itu. Tetapi, Adara yakin Jay pasti mampu untuk menghadapi Kaindra seperti dirinya walaupun itu tidak mudah.