BAD GIRL'S COMING OUT

BAD GIRL'S COMING OUT
Bad Girl's Coming Out. 04



...Part. 04...


...***...


"He's acting," kata Mada


Adara menatapi Mada dengan tatapan tidak mengertinya, dan Adara sebal tanpa sebab karena kakaknya itu terus menatapnya dengan tatapan mengejeknya. Double sialan, padahal Adara cuma mabuk dan terlihat menyedihkan sekali -walaupun dirinya sedih bukan karena putus cinta beneran. Dan Adara merasa ingin mengambil garpu di dapur apartemen Mada lalu merobek-robek sofa hitam kebanggaan yang sialannya begitu menyatu dengan aura bad boy nya Mada.


"Kenapa harus akting? Gue udah tampar dia karna itu salah dia juga. Dan lo bilang dia bakal nagih hutang ke gue?" kata Adara tidak setuju


Sedetik setelahnya, Adara merasa sebal setengah mati melihat Mada yang malah tersenyum menyeringai ke arahnya. Adara memilih melengos dan menyeruput teh hijaunya yang terbengkalai beberapa menit tadi.


"Itu berarti dia seimbang dengan lo yang penuh drama," jawab Mada santai


Setelahnya, Mada bangkit dari sofa hitam kebanggaannya dan membuka jendela di dekat sofa itu lebar-lebar. "Dia tahu permainan lo, dan mungkin dia berencana membuat sebuah permainan menarik sama lo."


Adara merasa merinding ketika kulit lengannya terkena hempasan halus angin malam, kaos yang dipakai Adara tidaklah panjang saat itu dan rasanya Adara ingin meninju Mada yang malah dengan santainya berdiri di dekat jendela tanpa mempedulikan adiknya yang merasa kedinginan karena ulahnya itu.


"Gue bisa atasi itu. He choose wrong person, cause I'm a player same like you know," kata Adara dengan yakin


Dan Adara melemparkan bantal yang menjadi tumpuan kakinya ke arah Mada ketika melihat reaksi Mada yang tertawa geli. Benar-benar tidak punya akhlak.


"No, he choose the right person. Unconsciously, you have eaten his decoy, Dara," kata Mada


Mada melirik Adara sebentar sembari tersenyum misterius, lalu menarik jendela dan menutupnya kembali. Dan Adara hanya menatapinya saja saat Mada juga mengambil bantal yang dia lemparkan padanya tadi sembari melangkah ke arahnya.


"Dia berpura-pura nggak kenal lo, dan buat lo tertarik padanya," Mada memberikan bantal itu kepada Adara, "dan pada akhirnya, lo yang mengejar dia walaupun itu sekadar penjelasan tentang kejadian di bar itu."


Adara memikirkannya, sebenarnya Adara ragu dengan kemungkinan jika Kaindra hanyalah kembaran pemuda yang di bar itu. Karena, Adara bisa merasakan sedikit aura tersembunyi dalam diam dan tenangnya seorang Kaindra. Adara menyadarinya sejak Adara melihat senyum seringai yang Kaindra munculkan saat mereka bertemu tatap untuk pertama kalinya.


"I know this guy, this guy is very dangerous if you're not be careful, Adara," kata Mada dengan tegas


Adara hanya diam saja, dia juga memikirkan hal itu. Sebenarnya, Adara menunggu momen ini -momen dimana Adara akan menghadapi sebuah karma dari segala tindakan yang dia lakukan selama ini. Dan Adara bersumpah, dirinya akan menghadapi karma ini dan melewatinya tanpa harus membuat dirinya terluka jika bisa dan memungkinkan.


"He's my karma, and I'm his karma." Adara menatap dalam ke arah Mada, Adara tahu Mada khawatir padanya sebenarnya namun Mada terlalu mempunyai gengsi yang sangat tinggi seperti miliknya. Jadi, Adara memutuskan juga akan membawakan sebuah karma pada Kaindra sebagai gantinya.


***


Besoknya, Adara bisa berjalan dengan tenang. Semua tatapan mengincar dan mencela dirinya ketika dirinya melintasi koridor tidak dia hiraukan. Bahkan, Adara sama sekali tidak memberikan sebuah respon berarti ketika dirinya berpapasan dengan Jason dan Tiara. Adara terlalu fokus untuk memikirkan sebuah karma yang akan dia berikan pada Kaindra setelah ini.


Dan Adara tersenyum ketika dirinya sudah berada di ambang pintu kelasnya yang sudah ramai seperti biasanya, Adara sudah menemukan Kaindra duduk di samping kursinya. "Benar-benar anak rajin."


Adara dengan gerakan luwesnya merapikan rambutnya dan berjalan dengan mantap ke arah kursinya. Beberapa gadis di kelasnya masih ada yang berusaha mendekati Kaindra, Adara tahu itu wajar karena Kaindra juga bisa dikatakan tampan untuk seorang pemuda.


"Hei, bisa kita bicara sebentar," kata Adara santai


Adara diam saja, dia menunggu respon Kaindra ketika pemuda itu hanya menoleh ke arahnya dengan tatapan bingungnya. Adara akan menunggu pemuda itu membuka suaranya. Dan untuk ke sekian kalinya, Adara juga menghiraukan tatapan iri dan kesal dari teman sekelasnya itu sendiri.


"Lo bicara sama gue?" tanya Kaindra sembari menunjuk dirinya sendiri


Mengangguk sekali, dan Adara tidak mengubah cara memandang Kaindra. Dan Adara juga tidak peduli, ketika para gadis kelasnya yang tadinya mencoba merayu Kaindra menghentakkan kaki mereka ke lantai sebelum pergi meninggalkan mereka berdua.


"Lo mau bicara apa?" tanya Kaindra dengan kalem dan mempertahankan posisi duduknya tetap tegap.


Sialan, Adara ingin mengumpati Kaindra karena masih kukuh untuk bermain drama dengannya. Hanya Adara yang boleh berdrama di sini, dan Kaindra harus mengikuti alur dramanya. Jadi, Adara juga ikut tetap mempertahankan posisisnya -menatapi Kaindra dengan posisi seperti dirinya memuja ketampanan Kaindra padahal tatapan Adara penuh penilaian.


"Gue yakin lo pasti udah dengar tentang reputasi gue di sekolah gue ini," kata Adara


Dan Adara benar-benar ingin menjambak rambut hitam Kaindra saat pemuda itu menatapnya dengan tatapan bingung sok polos. Adara akan percaya dengan Mada untuk kali ini, Kaindra pasti pemuda di bar itu.


"I'm a bad girl, and i have drunk 'bout three days ago," terang Adara


Walaupun, Kaindra hanya diam dan membelalakan matanya seolah terkejut dengan ucapan Adara tetapi Adara bisa melihat sebuah tatapan mengejek di dalam mata Kaindra. Double sialan. Adara tidak peduli dengan itu, yang Adara inginkan Kaindra harus masuk dalam alur dramanya bukan Adara yang harus masuk ke dalam drama Kaindra.


"Kenapa lo bilang ini ke gue?" tanya Kaindra masih dengan nada kalemnya


"Karna, gue takut," Adara menegakkan posisi duduknya dan menatap ke arah depan kelas, "lo mungkin bakal terkejut."


"Gue udah tau itu," jawab Kaindra cepat tetapi kalem


Adara hanya mendengus saja, dia tidak menatapi Kaindra lagi. Adara akan menunjukkan kepada Kaindra siapa Adara sebenarnya, karena Adara bukan hanya sekadar seorang bad girl biasa. "Seriously? Kalo begitu, gue pikir lo bakal siap jika gue bertingkah lebih dari nantinya, kan?"


Hening, Adara tidak akan menoleh ke arah Kaindra sebelum pemuda itu memberinya respon yang cukup memuaskan. Hingga, lima detik berikutnya Kaindra masih diam dan Adara cukup mengetahui jika Kaindra mungkin saja tengah bingung untuk membalasnya. Itu artinya, Adara sudah mengambil alih alur drama antara mereka berdua.


"Gue nggak keberatan kalo lo mau pindah tempat, karna mungkin gue bisa bawa pengaruh buruk buat lo yang kalem," kata Adara


Adara hampir mengumpat ketika dirinya mengatakan kata 'kalem' di akhir kalimatnya tadi. Dan detik berikutnya, Adara benar-benar hampir menyuarakan umpatannya ketika Kaindra dengan tiba-tiba menarik kursinya mendekati pemuda itu.


"Gue juga, gue nggak keberatan jika gue yang kalem ini jadi bad boy karna pengaruh dari lo," jawab Kaindra


Triple sialan, Adara dengan usaha yang keras menoleh ke arah Kaindra yang sialannya tengah menatapinya dengan jarak yang sangat dekat dengan wajahnya. Adara mengenal betul wajah itu, Kaindra memang benar pemuda di bar itu ketika melihat sebuah seringai tipis di wajah Kaindra.


"So, welcome to my world. Let's be bad with me, Kaindra," jawab Adara tenang


***