
...Part.03...
Limabelas menit lagi, bel istirahat pertama akan berbunyi. Namun, Adara belum bisa sepenuhnya tenang dan fokus pada materi pelajaran yang diberikan pak Handoko, bukan karena pak Handoko sudah tua dan tidak ganteng lagi tetapi justru karena Kaindra -si murid baru dan si pemuda asing yang sudah menghina tetapi juga mengantarkannya pulang dengan selamat. Si Kaindra sama sekali tidak terlihat menyeramkan seperti apa yang dibayangkan Adara selama ini, bahkan pemuda itu terlihat begitu kalem dan tenang seperti memang dia anak baru di sekolah itu dan baru bertemu Adara untuk pertama kalinya.
"Mada, sialan." Adara memilih mengumpati Mada pada akhirnya, karena Mada dirinya menjadi tidak tenang dan parno sendiri.
Adara melirik ke arah Kaindra dengan hati-hati, pemuda itu masih fokus ke pelajaran dan tidak menghiraukan Adara yang sedari tadi mencoret-coret bukunya sendiri dengan coretan tidak jelas. Seratus persen, Adara yakin dirinya mengingat dengan betul foto pemuda yang diperlihatkan Mada kemarin siang padanya dan foto itu sama dengan Kaindra yang duduk di sampingnya tetapi kenapa pemuda itu diam saja?
Adara memilih menatap coretan tidak jelasnya saat melihat Kaindra hampir menoleh ke arahnya. Dan saat itu juga Adara merasa aneh dan bingung sendiri. "Gue nggak pikun, kan?"
Adara berfikir tentang kemungkinan yang ada sedetik setelahnya, apa Kaindra mempunyai kembaran? Kaindra adalah versi tenang dan kalem dari kembarannya -pemuda yang ditemui Adara di bar? Dan Kaindra bukanlah pemuda yang dimaksud Mada?
"Adara Adinata?"
Kalau pemuda asing di bar itu bukan Kaindra, Adara akan bersyukur setidaknya jika Adara bertemu pemuda asing itu walaupun barang sedetik -sesuai harapan Adara yang terburuk, karena mungkin Adara akan segera depresi karena tidak tenang harus dihantui perkataan mengintimidasi dari Mada jika Kaindra benar-benar pemuda itu. Dan berakhir bertemu setiap hari kecuali hari minggu dan hari libur nasional mungkin.
Itu benar-benar mengerikan, -pikir Adara
"ADARA ADINATA!"
Adara hampir terjungkal dari kursinya ketika mendengar suara keras pak Handoko dari depan kelas. Adara meneguk ludahnya dengan susah payah ketika melihat raut garang di wajah tua pak Handoko, dia ketahuan tidak menyimak pelajarannya. Dan Adara berdoa semoga bel istirahat segera berbunyi sehingga dia bisa terbebas dari hukuman yang akan diberikan pak Handoko padanya. Adara masih mengingat bagaimana melelahkannya hukuman pak Handoko saat Adara dulu terlambat masuk ke kelasnya, dia dihukum untuk merangkum materi satu semester dalam satu hari saja dan itu ditulis tangan. Dulu, Adara masih bersyukur karena Mada masih mau membantunya, toh tulisan tangan Mada dan Adara hampir sama tetapi untuk kedua kalinya Adara tidak yakin Mada akan menolongnya.
***
Es kelapa muda, itu yang terus berputar di otak Adara ketika sinar matahari mulai menyengat kulitnya tanpa ampun karena harus menyapu halaman belakang yang luasnya hampir sama dengan luas lapangan basket di sebelahnya sendirian karena hukuman pak Handoko yang sialnya karena salah dirinya yang terlalu sibuk memikirkan pemuda asing atau Kaindra?
"Lo kenapa? Woi, lo nggak lagi kemasukan jin, kan?"
Adara segera menendang rumput yang di bawah kakinya dengan kesal lalu melirik ke arah ponselnya yang ada di bawah pohon, tengah menampilkan wajah Mada yang menyebalkan. Dari yang Adara lihat sepertinya Mada tidak ada kelas hari ini atau memang membolos seperti biasanya. Kakaknya itu masih memakai kaos oblong berwarna putih dan duduk di sofa hitam kebanggaannya.
"Sialan! Jangan ganggu!" geram Adara, dia berjalan dengan cepat mendekati ponselnya dan berdrama layaknya orang kesurupan di depan Mada.
Dan lebih sialannya lagi, Adara malah mendapatkan respon yang tidak menyenangkan dari Mada -dia mematikan video call nya secara sepihak dan membiarkan Adara seperti orang gila yang depresi karena putus cinta dan berakhir kesurupan di halaman belakang sekolahannya sendiri.
"****, Mada sialan!" teriak Adara kesal dan hampir menendang ponselnya jika dirinya tidak mendengar suara langkah di belakangnya.
"Lo baik-baik aja?"
Adara segera mengambil ponselnya dan menoleh ke belakangnya dengan tatapan waspada. Dan Adara mendengus karena harus bertemu dengan sumber masalah dari masalah yang dia hadapi sekarang -Kaindra.
"I'm fine, you can leave me alone," jawab Adara cepat
Dan Adara rasanya ingin mengumpati Kaindra dengan keras-keras saat pemuda itu hanya mengangguk saja lalu benar-benar pergi meninggalkan Adara sendirian di halaman belakang dengan sisa hukuman yang belum terselesaikan dan tentunya menyiksa fisik Adara. Adara mengacak rambutnya dengan kesal, sore ini begitu terik dan itu membuat Adara merasa dirinya benar-benar sial untuk dua hari ini.
"Damn, i hate it. Where's my better days. huh?" maki Adara geram
Dengan kesal Adara melemparkan sapunya ke sembarang arah dan memilih untuk bersandar di batang pohon besar yang ada di dekatnya. Adara memeluk lututnya, dan menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah karena ingin menangis.
"Kenapa harus selingkuh? Kenapa kesannya gue kalah cantik sama cewek itu?" gumam Adara
Adara masih yakin seratus persen dirinya jauh lebih cantik dari Tiara -sialan Adara bahkan mengingat nama pelakor itu. Dan Adara merasa menderita mengetahuinya, dengan kesal Adara mulai mengacaki rambut blondenya sendiri. Dua detik setelahnya, Adara benar-benar menangis.
Tiba-tiba, Adara merasakan kehadiran seseorang di samping kanannya dan Adara berharap itu bukan setan atau sejenisnya karena Adara paling benci hal berbau mistis maupun horor. Dengan secuil keberanian yang Adara miliki, Adara mengangkat kepalanya dan melirik ke arah kanannya dengan mata yang disipitkan.
"Lo nggak bosan hidup berdrama terus?"
Adara spontan membuka matanya lebar-lebar, dengan kesal Adara mendorong sosok di samping kanannya itu. "Jay, sialan! Bisa nggak lo datang dengan permisi!"
"Permisi, Jay yang ganteng mau lewat," kata Jay -sosok yang tadi tiba-tiba berada di samping kanan Adara menyengir lebar.
Adara hanya menatapi Jay dengan datar ketika pemuda berambut blonde seperti dirinya itu tengah memperbaiki posisinya setelah tersungkur karena dorongannya tadi. "Kenapa lo bisa di sini?"
"Buat pastikan lo nggak berdrama lagi," jawab Jay datar
Adara mendengus mendengarnya, Jay memang kelewat mengerti dirinya. Selain karena Jay adalah sepupunya, mereka berdua juga sudah bertemu dan berteman sejak mereka berumur enam tahun. Dan yang lebih membosankannya, mereka selalu berada di sekolahan yang sama dan mereka seumuran.
"Gue dengar, lo duduk sama anak baru. Gue rasa, lo bakal cocok sama dia," celutuk Jay
Dengan spontan, Adara memukul kepala Jay dengan keras. "Jangan sok jodohin gue, cari pacar sana. Lo nggak bosan apa sama Sakura?"
"Harusnya itu buat lo," Jay ikut memukul kepala Adara dengan pelan, "lo nggak bosan berdrama seolah lo patah hati, padahal lo nggak ada perasaan sama semua mantan pacar lo itu."
Tertohok, Adara merasa benar-benar disadarkan detik itu juga. Jay benar, Adara memang tidak pernah serius apalagi menaruh perasaan pada para mantan pacarnya itu. Adara hanya mencari sebuah kesibukan dan setidaknya menghindari fakta kalau Adara sebenarnya bosan dalam menjalani hidupnya.
"Berhenti berdrama dan cari pacar yang bener, gue rasa Kaindra cocok buat lo. Dia tipe lo," kata Jay lagi
Kaindra lagi -kenapa Jay dan Mada serempak menjodohkan dirinya dengan anak baru juga pemuda yang masih dia curigai sebagai pemuda di bar kemarin malam? Dan sebenarnya, Adara setuju dalam satu hal saja. Kaindra memang tipenya, pemuda itu jauh lebih tampan dari Jason hanya saja Kaindra terlalu misterius untuk Adara saat ini dan Adara tidak ingin berada di keadaan yang tidak menguntungkan dirinya sendiri.
"Gue bisa cari sendiri," jawab Adara tegas
Adara melirik Jay tajam saat mendengar Jay malah tertawa geli. Jay menatapi Adara dengan tatapan tidak percayanya. "I doubt 'bout that."
***