
...Part. 17...
Menonton dan menonton, Adara hanya berdiam di sofa sembari menonton drama yang tengah berputar di layar tv. Dia tidak mempedulikan lagi Kaindra yang sedari tadi menatapinya dengan lekat, bahkan sejak kejadian di mobil yang cukup mengejutkan tadi Kaindra sama sekali tidak memberinya ruang bebas bernafas tanpa ditatap oleh pemuda itu.
"Lo nggak lelah lihatin drama kaya gitu?" tanya Kaindra
"Lo nggak lelah lihatin gue kaya gitu?" tanya Adara balik
Dan Adara tidak menoleh ke arah Kaindra duduk walaupun jelas-jelas dia mendengar jika pemuda itu tengah mendengus kesal. Adara juga kesal di sini, karena tindakan tak terduga Kaindra yang untuk kedua kalinya itu cukup membuat perasaan Adara tidak bisa ditafsir. Bahkan, Adara sendiri bingung dengan perasaannya saat itu.
Kesal, sedih, dan senang menjadi satu. Dulu, Adara tidak sekuat ini untuk menanamkan pikiran jika Kaindra itu hanya sebuah karma untuknya. Apa dia mulai termakan drama pemuda itu, dan lebih parahnya dia mulai menyukai pemuda itu? Tidak boleh, tetepi Adara sendiri masih tidak terima jika dirinya masih sendiri setelah diselingkuhi oleh Jason. Dan ngomong-ngomong, ini sudah berapa hari? Hampir seminggu, kah?
Ini rekor terlama Adara tidak menjalin hubungan dengan siapa-siapa. Haruskah, dia menerima Kaindra saja dan mencampakkannya saat dia bosan?
Adara menoleh ke arah Kaindra yang masih betah menatapinya dengan lekat. "Gue ada janji sama Mada malam ini."
Kaindra mengerutkan keningnya, dan itu membuat Adara merasa bodoh karena sudah mengatakan rencananya malam ini. Sebenarnya bukan bersama Mada tetapi bersama Jay dan tujuh raksasa yang ditemui Kaindra tadi pagi.
"Kenapa lo bilang sama gue?" tanya Kaindra
Adara memutar bola matanya, menatap Kaindra seolah Kaindralah yang bodoh di sana. Sial, Kaindra benar-benar ingin menginginkan kemenangan dalam drama ini padahal Adara sudah berada di zona liarnya.
"Karna lo lihatin gue seperti lo takut kehilangan orang yang lo cintai," kata Adara kesal
"Karna lo emang orang yang gue cintai," jawab Kaindra tenang
Dan Adara segera menjauh ketika Kaindra mulai menggeser tempat duduknya mendekatinya. Mada? Kenapa dia tidak menelfon ataupun memberinya pesan singkat? Ini sudah pukul tujuh malam, Adara belum pulang ke apartemennya dan dia juga kelaparan. Apa dia tidak khawatir jika kehilangan adik tercantiknya ini?
Seolah dikabulkan permintaannya, ponsel Adara berdering pada akhirnya. Buru-buru, Adara segera mengangkat panggilan masuk itu tanpa melihat siapa yang menelfon.
"Lo beneran mau party hari ini, my princess,"
Adara mengangguk dengan cepat, jika Mada tidak bisa menyelamatkannya dari Kaindra mungkin salah satu dari tujuh raksasa -Leo bisa menyelamatkannya.
"Party, itu nggak buruk, kan?" kata Adara
"Lo nggak boleh ke sana," sahut Kaindra cepat
Adara mengangkat alisnya, kenapa dia terlihat marah? Bukankah, Kaindra sudah pernah melihatnya mabuk sekali dan ditampar satu kali dan sayangnya Adara ingin mabuk lagi lalu menampar Kaindra sebanyak mungkin dengan alasan dia mabuk dan lupa segalanya.
"Gue udah bilang, gue ada janji sama Mada?" kata Adara
"Lo sama siapa? Mada juga bakal ikut?" Leo kembali menyahut dari sebrang sana.
Adara merasa beruntung karena dia tidak pernah menyalakan volume panggilan yang cukup keras dan itu tentunya membuat Kaindra tidak bisa mendengar suara Leo dari sana kecuali Adara.
"Hm, bawa Jay juga, ok?" kata Adara
Setelahnya, Adara memutuskan sambungan telfon yang ada dna menatapi Kaindra dengan tatapan tidak suka. "What? After you tell me that's you like to me, love me. Is mean i can't have a party with my brother?"
Dan Adara merasa menang telak setelah melihat wajah Kaindra melunak dan tidak bisa mengelak ucapan Adara. Dengan cepat, Adara bangkit dari duduknya.
"Stop messing up, Kai," kata Adara
"Okay, well i'll go with you then,"