
...Part. 08...
Adara hanya bisa menghela nafasnya, matanya tidak berhenti menatapi Mada yang masih termenung di sofa hitam kebanggaannya namun dengan aura yang berbeda. Kesedihan memang terpancar di kedua mata Mada tetapi yang Adara lihat dari segi fisik Mada masih sama bahkan lebih bersemangat dari hari biasanya. Apakah Adara salah jika mengira Mada mulai gila beneran?
Tahun lalu, Adara masih mengingat jelas bagaimana kegilaan Mada tetapi tidak setinggi level yang sekarang. Adara merasa merinding sendiri ketika melihat Mada terkadang tersenyum-senyum sendiri sembari mengusapi bibirnya yang masih lebam itu. Benar-benar sudah gila?
"Are you okay?" Adara melambaikan tangannya tepat di depan wajah Mada, "berhenti tersenyum kaya orang gila, gue merinding lihatnya."
Dan Adara hanya bisa menatapi Mada dengan tatapan waspada ketika kakaknya itu mengedipkan matanya beberapa kali sebelum menoleh ke arahnya dengan senyum lebar.
"Gue sangat baik, Dara. Mending lo cepat bersiap sana, biar gue yang antar," kata Mada dengan tenang
Adara mengerutkan keningnya tidak mengerti lagi dengan tingkah Mada kali ini, dia memilih bangkit dari posisi duduknya. "Gue harap lo nggak nangis lagi kaya kemarin."
Dan Adara segera melewati Mada begitu saja ketika melihat senyuman di wajah Mada menghilang. Adara tahu itu cukup membuat Mada tersinggung, tetapi Adara hanya tidak ingin kakaknya itu menangis walaupun itu karna orang yang sangat worth it buat ditangisi.
"And i hope we're not cry again cause same reason," jawab Mada
Adara hanya bisa mengangguk sekali dan tersenyum mendengarnya tanpa menjawabpun, Adara yakin Mada tahu betul jawaban Adara. Orang itu memang sudah benar-benar menghancurkan prinsip keluarga Adinata, bahkan orang itu juga yang membuat Adara lebih betah untuk berada di apartemen Mada daripada harus pulang ke rumah besar Adinata.
***
"Lo pulang jam berapa?" tanya Mada
Adara menoleh ke arah Mada dengan tatapan menilainya, ini benar-benar gila untuk Adara. Adara baru melihat sisi Mada yang begitu cerah dan bersemangat, bahkan pagi ini Mada mengantarnya.
"Kenapa tiba-tiba tanya? Gue bisa pulang sendiri atau sama Jay?" jawab Adara
Dan Adara sudah mulai merinding lagi ketika melihat Mada kembali tersenyum dengan mudahnya. Padahal, Adara yakin jawabannya itu termasuk jawaban yang sarkatis, kan?
"Gue nggak mau ngrepotin Jay ataupun that's guy again," Mada menatap ke arah luar mobil lewat jendela, "bahkan, dia bisa keluar masuk apartemen gue."
Adara mengikuti arah pandang Mada, dan Adara bisa melihat sebuah sepeda motor yang terlihat keren dan serasi dengan pengemudinya. Adara mengikuti pengemudi itu hingga sampai di parkiran sepeda motor yang hanya berjarak lima meter di depan tempat Mada menghentikan mobilnya. Dan Adara hanya bisa mendecih ketika dirinya mengetahui jika itu Kaindra. Dan lebih sialnya, Adara tadi sempat mengatakan dia keren.
"Ok, gue bukan anak kecil. Gue bisa pulang naik tak-"
"Gue jemput, bilang aja jam berapa?" potong Mada
Adara menatapi Mada dengan tatapan jengahnya. "Lo harusnya fokus sama kuliah lo dan Jennie, lo nggak bakal telantarin dia, kan?"
Jennie, Adara baru mengingatnya sekarang. Jika, Adara membiarkan Mada menggila dan ingin mengejar sosok orang yang Mada bilang sangat mirip dengan orang itu, Adara hanya takut Jennie akan terluka. Bahkan, Adara sebenarnya memang belum terlalu yakin dengan ucapan Mada kemarin tetapi melihat bagaimana Mada sangat semangat hari ini, itu membuat Adara ada sedikit keyakinan. Dan walaupun begitu, Adara tidak mau Mada meninggalkan Jennie -kekasih Mada yang sekarang begitu saja.
"We've break up," kata Mada santai
Adara menatap Mada dengan tatapan menuntutnya, bagaimana bisa? Adara yakin jika hubungan Mada dan Jennie selama ini baik-baik saja, bahkan mereka juga tampak serasi jika berdua walaupun selama ini Adara banyak ditelantarkan karena hubungan mereka berdua dan berakhir memelas kasih pada Jay.
"Kenapa? Gue rasa hubungan lo dan dia baik-baik aja," kata Adara
Dan Adara merasa ingin meninju wajah Mada yang kembali berseri tanpa alasan, padahal Adara sedang bertanya dengan serius.
"Karna gue nggak mau lo terlantar aja," Mada menatapi Adara dengan tatapan menilainya, "lihat, lo bahkan kelihatan kurus. Benar kata Jay, lo benar-benar bayi yang merepotkan."
Adara tidak sanggup untuk tidak mendengus dan memaki setelahnya. "Sialan, gue bukan anak kecil apalagi bayi."
Dan Adara segera memilih untuk membuka pintu mobil dan keluar ketika mendengar Mada justru tertawa geli mendengar makiannya. Adara melototi Mada dengan horor sebelum dirinya menutup pintu mobil Mada dengan keras lalu berlalu pergi tanpa mempedulikan Mada yang mulai mengomel dari dalam mobil.
***
Adara masih menatapi ponselnya dengan serius, dia masih menunggu pesan dari Jay. Penasaran, Adara masih penasaran tentang kejadian yang terjadi dengan Mada kemarin. Dan hanya Jay yang bisa Adara andalkan saat ini, karna hanya Jay yang bersama Mada kemarin.
Beberapa detik kemudian, Adara merasakan sensasi hangat di dekat telinga kanannya. Adara mendongak, dia sudah menutup tirai jendela yang ada di samping kirinya lalu kenapa dia masih merasakan hangat? Dan menatap ke depan, Adara masih menemukan bu Fatma masih menulis rumus kimia di papan tulis. Mungkin perasaan Adara saja.
Dan Adara memilih untuk kembali menunduk dan menatapi ponselnya. Jay masih belum mengiriminya pesan, ayolah Jay.
"Lo ada masalah?" tanya Kaindra
Adara hampir menjerit karena saking terkejut, dan beruntungnya Kaindra segera membungkam bibir Adara dan menahan tubuh Adara yang hampir jatuh dari kursinya. Adara melototkan matanya dengan tajam ke arah Kaindra yang justru tersenyum miring ketika Adara berhasil duduk dengan benar dan tenang.
"Lo kelihatan kaget," kata Kaindra
Adara mendengus dan segera menepis tangan Kaindra dari bibir dan mendorong tubuh Kaindra untuk menjauh darinya. "Sialan."
Adara menatapi Kaindra dengan tatapan horornya, dia kembali menenangkan dirinya. Jantungnya masih berdegup cepat karena insiden dirinya yang hampir jatuh dari kursi dan berpotensial untuk mempermalukan harga dirinya jika saja Kaindra tidak sigap menahan tubuhnya tadi.
"Are you okay?" tanya Kaindra lagi
Dengan cepat, Adara menoleh ke arah pemuda itu dan menatapnya tajam. Dia menggerakkan telunjuknya ke arah bibirnya, menyuruh Kaindra untuk tetap diam dan tenang. "Be quite."
Dan Adara hampir jantungan ketika Kaindra dengan tiba-tiba menarik jari telunjuknya dari bibirnya setelah Adara mendengar Kaindra mendengus.
"Berhenti abaikan gue, Adara," bisik Kaindra
***