
gisca dan christian adalah sahabat sejak mereka di bangku SMP.
christian yang baru pindah ke area perumahan elit tempat tinggal gisca, menjadi dekat dengannya sejak saat itu.
terlebih lagi chris, sapaan akrab nya yang juga masuk di SMP yang sama dengannya.
bertahun-tahun menjalin kedekatan sebagai teman. membuat gisca dan christ bagai saudara bagi orang yang baru melihat mereka. kedua keluarga pun menjadi sangat dekat, tentu saja karena mereka pun bertetangga.
memasuki SMA, gisca dan chris berpisah sekolah. gisca masuk SMA favorite di kotanya sedangkan chris hanya masuk SMA biasa.
tapi meskipun berpisah sekolah. mereka tetap menjalin kedekatan. terkadang chris yang mengantar dan menjemput gisca di sekolah membuat teman-teman gisca menyangka bahwa chris adalah kekasih gisca.
**flashback*
gisca yang saat itu sedang menjalani try out disekolahnya, terkejut setelah menerima panggilan telpon dari ibu chris yang mengatakan bahwa chris masuk rumah sakit.
setelah dia menyelesaikan try out nya, gisca pun langsung melaju membawa mobilnya kerumah sakit tempat dimana chris dirawat.
tap....tap...tap... langkah gisca terlihat cepat, setelah bertanya pada bagian informasi. gisca pun menekan tombol lift menuju lantai 18. setelah sampai di lantai 18 gisca terlihat bingung. pasalnya dirumah sakit ini kamar yang terletak di lantai 18 hanya pasien dengan perawatan penyakit khusus.
klik...pintu dibuka perlahan.
chris berbaring tak berdaya di ranjangnya.
matanya terpejam. wajahnya pucat. tubuhnya di pasang berbagai macam selang-selang yang gisca sendiri pun tak mengetahui kegunaannya untuk apa*.
"sayang, kamu datang." ibu chris memeluk gisca sambil berurai air mata.
"apa yang terjadi tante, bukankah kemarin chris masih terlihat baik-baik saja?" tanya gisca penuh kebingungan.
ibu chris masih menangis, ayah chris yang juga ada disana beranjak dari sofa menuju ke tempat mereka berdiri untuk menenangkan ibu chris.
"gisca....christ sebenarnya sudah lama mengidap penyakit radang selaput otak,
selama ini dia tidak menceritakan penyakit ini pada siapa pun. dia selalu optimis bahwa semua akan baik-baik saja.
selama ini dia bertahan dan terlihat baik-baik saja hanya karna mengkonsumsi obat-obatan dari dokter. tapi seperti yang kamu lihat sekarang, obat pun tak mampu lagi menahan sakitnya tubuh chris." jelas ayah chris penuh haru.
"semalam dia terjatuh dari kamar mandi, dan membuatnya tak sadarkan diri sampai hari ini.
segala alat yang kamu lihat di tubuhnya, adalah untuk menunjang kehidupannya agar bisa bertahan." sambung ayah christ lagi.
gisca masih terdiam.
ibu chris menangis, berurai airmata di pelukan sang ayah. bagaimana tidak, anak laki-laki kesayangan satu-satunya kini terbaring lemah dihadapannya berjuang antara hidup dan mati.
gisca lalu berjalan mendekat ke arah chris, dia duduk di samping ranjangnya dan
tertegun. entah apa yang di pikirkannya.
tangannya menggenggam tangan chris.
matanya berkaca-kaca seolah tak percaya
dengan apa yang dilihatnya.
sahabatnya, christian. orang terdekat yang selama ini bersamanya di setiap hari, bercanda, tertawa, kini terbaring tak sadarkan diri.
"chris, gue disini. lo pasti bisa bertahan. lo pasti bisa ngelewatin ini." gisca membawa genggaman tangan chris ke pipinya yang kini sudah berurai airmata.
tak ada respon. chris diam.
hanya airmata yang mengalir sedikit di sudut mata chris yang terpejam.
mungkinkah chris mendengar dan merasakan kehadiran gisca di dalam koma nya?
lalu ibu chris menghampiri gisca. menepuk pundak gadis itu perlahan.
"sayang, sebaiknya kamu pulang. ini sudah malam. besok kamu harus bersekolah.
chris biar kami yang menjaganya."
ucap ibu chris lembut.
gisca masih menatap chris. seakan tak rela meninggalkan sahabatnya itu.
"tidak apa-apa sayang, kami akan mengabarimu bila chris sadar. sekarang pulanglah." ibu chris meyakinkan gisca.
gisca pun menurut dan berdiri dari kursinya, memeluk ibu chris dan kemudian berpamitan pulang.
***
gisca sudah berbaring di kasurnya yang empuk. pukul setengah 10 malam tadi dia tiba dirumah.
matanya menatap langit-langit kamarnya, dia lelah sampai-sampai hari ini gisca lupa makan malam. tapi rasa lelah membuatnya malas untuk beranjak dari kasur menuju dapur.
tanpa sadar gisca pun ketiduran. entah belum sampai 2jam dia tidur hingga suara ketukan pintu kamarnya yang keras membangunkannya.
gisca bangun dengan malas-malasan dan menahan kantuknya. dibukanya pintu itu dan mendapati mamanya di depan pintu.
"gis..."
sang mama berhenti sejenak, kemudian menarik nafas.
"christian...dia sudah pergi."
lanjutnya. mama gisca mengatakan dengan tekanan nada yang hampir tak terdengar di telinga gisca.
gisca terdiam, dia mendengar maksud dari perkataan mamanya, gisca berlari menuruni tangga rumahnya dan keluar pintu tanpa memakai sandal. dia menuju garasi. menghidupkan mobil dan pergi menuju rumah sakit.
sang mama yang mengejar pun kalah cepat dengan gisca.
tiba dirumah sakit, gisca langsung ke kamar chris mendapatinya sudah tertutup kain putih.
ibu chris menangis tanpa henti berteriak seakan meraung ingin menghidupkan chris lagi. dan tiba-tiba terjatuh. ya. ibu chris pingsan. entah sudah berapa banyak tenaga yang dia keluarkan untuk menangis.
gisca tertegun memeluk tubuh chris yang kaku dan dingin. dia menangis sesenggukan di atas jenazah chris.
dunianya seakan runtuh, hanya berselang beberapa jam dari kepulangannya kerumah, dan kini dia mendapati chris sudah terbujur kaku tak bernyawa.
dibukanya kain penutup di bagian wajah chris. disentuhnya wajah chris yang masih hangat seakan roh belum meninggalkan raga.
dia menahan air mata agar tak jatuh di wajah chris. mengusap lembut pipi chris. lalu menutupnya kembali.
dia mulai menangis lagi, ledakan air mata yang di tahannya agar tak jatuh ke wajah chris, kini melimpah ruah membasahi pipinya yang mulus.
ia menyesal.
"andai aja gue ga pulang tadi. pasti gue bisa ada disaat-saat terakhir lo chris...chriisss...huhuhuuuuhuu."
gisca bicara dalam tangisnya sambil memeluk jasad chris.
semua orang yang ada dalam ruangan itu pun ikut menangis, ikut merasakan kesedihan dalam diri gisca, lalu menenangkan gisca untuk membiarkan perawat melakukan prosedur pemulangan jenazah chris.
gisca berjalan gontai, matanya sembab, kepalanya sakit. hampir 2 jam dia menangis.
tapi dia harus pulang, ikut mengantar jenazah chris yang berada 2 blok dari rumahny.
bersambung*