
setelah malam yang mengesalkan bagi raybi berakhir,
pagi ini dia belum juga terbangun dari tidurnya.
semalam dia banyak meminum wine hingga mabuk dan tak sadarkan diri di apartemennya.
raybi tak ingin mengakhiri hubungannya dengan nicole tapi hatinya berkata ini harus sudah di akhiri.
dia masih berusaha mengumpulkan sisa-sisa cinta mereka yang bagai butiran debu, tapi semua hampir tak bersisa.
entah karna raybi telah menyukai orang lain atau memang dia sudah menghapus rasa itu untuk nicole.
seketika dia mengerjap kan matanya di kala deringan ponsel yang berada di atas nakas nya berbunyi.
dia ingin meraihnya, tapi kepala nya terasa sangat pusing bagai di timpa beban berat.
ponsel pun berhenti berdering.
dengan tubuh yang berat, raybi mendudukan dirinya bersandar di kasur menetralkan rasa sakit kepalanya, dan bunyi ponsel berdering lagi.
dia mengambilnya dan melihat nama gisca tertera disana.
raybi : "haloo gis, ada apa"
gisca : "mas ray maaf aku ganggu, aku izin ga masuk hari ini ya, aku ga enak badan."
raybi : "kamu sakit?"
gisca : "iya, aku pusing banget."
raybi : "yaudah gapapa. jangan lupa minum obat ya."
gisca : "iya mas, makasih. udah dulu ya."
raybi : "eh gis tunggu,"
gisca : "ya, ada apa"
raybi : "maaf soal yang semalem ya. kamu ga marah kan"
gisca : "ga lah. kenapa juga harus marah. udah ya mas. bye"
gisca mengakhiri panggilannya tanpa menunggu yang dikatakan raybi.
raybi kembali meletakkan ponselnya di atas nakas.
dia kembali berbaring dan tidur karna kepalanya yang masih sangat sakit.
hari ini dia tidak berencana untuk ke store, apalagi mendengar gisca yang hari ini juga tidak masuk kerja.
***
nicole mampir ke store raybi sore ini. dia berencana menyelesaikan masalah di antara dirinya dan raybi.
tapi sayang raybi yang tak di tempat membuat nicole benar-benar berpikir bahwa raybi memiliki hubungan dengan gisca. terlebih gisca pun juga tak masuk kerja hari ini.
nicole berjalan gontai ke arah parkiran. dia sangat tak bersemangat. pikirannya kemana-kemana mengenai raybi dan gisca.
apakah mereka menghabiskan waktu berdua, apakah mereka sedang berkencan. nicole benar-benar frustasi memikirkan itu semua.
ia tak siap bila raybi harus berpaling darinya. tapi ia juga tak mampu menahan cinta mereka untuk bertahan.
aku harus menemuinya. menyelesaikan ini semua.
ia hilangkan segala gengsi demi raybi. entah raybi ada di apartemen atau tidak yang penting ia sudah berusaha menghampiri untuk menyelesaikan ini.
tok...tok....
nicole mengetuk pintu apartemen raybi. ia menunggu. lama tak terdengar sahutan dari dalam. lalu dia mengetuk lagi.
hingga baru lah pintu terbuka.
raybi membuka pintu hanya dengan berbalut singlet dan celana pendeknya. ia tampak berantakan, dan baru bangun dari tidur.
"ray..." nicole menyapa lirih.
"masuklah." raybi mengajak nicole masuk.
mereka pun duduk di sofa ruang tamu. raybi masih diam, ia tampak memijit pelipisnya.
"apa kamu sedang tidak sehat ray?" nicole berusaha mencairkan suasana.
"aku ga apa-apa." raybi menjawab dingin.
"ray...mengenai semalam....aku.."
"udah nic, aku lagi gak mau bahas itu" raybi memotong cepat.
"kamu kenapa sih ray? kamu bener-bener buat aku bingung tau ga" nicole menekankan nada suaranya.
"ada yang salah dengan hubungan kita, aku ga kenal raybi ku yang dulu lagi." nicole bergeser mendekati ray.
"udah nicole.. aku lelah.. kamu pulang aja aku mau istirahat." raybi berdiri hendak beranjak ke kamar.
hingga tiba-tiba nicole memeluknya dari belakang.
"ray...kamu jangan gini.." nicole terisak.
raybi diam sejenak.
ia menghela nafasnya. "aku lelah kita selalu begini, sikap kamu, cara kamu, aku lelah nic."
"kamu hitung, selama 1 tahun kita bersama udah berapa kali kita putus sambung? kita bertahan memaksakan diri, kita mencoba untuk selalu memperbaiki, tapi kita selalu bertengkar karna ego kamu." raybi bicara tanpa berbalik menghadap nicole.
nicole tambah menangis mendengar perkataan raybi.
"di umur aku yang segini, aku bukan hanya ingin berpacaran mencari pelampiasan untuk bersenang-senang. aku ingin mencari pendamping nic, aku ingin segera menikah." ray bicara lirih.
"ray....huhuhuhu" nicole makin berderai. hatinya terasa perih mendengar keluh kesah raybi. raybi memang sungguh pandai berkata-kata apalagi membuat orang merasa bersalah.
"dulu aku selalu berharap mungkin kamu adalah jodoh aku, akhir dari petualanganku. tapi..." raybi diam memejamkan mata. ia juga seakan bersedih dengan kata-katanya sendiri.
"kita udahin aja nic, kita ga perlu lagi saling menyakiti.
untuk apa dipaksakan, ini ga akan ada ujungnya" raybi melanjutkan perkataannya. lalu dia melepaskan tangan nicole dari pelukannya.
ia kemudian berlalu menuju kamarnya meninggalkan nicole di ruang tamu tanpa menoleh kepada nya agi.
nicole hancur.. bagai tersambar petir mendengar keputusan raybi. dia masih menangis...lalu dia pergi meninggalkan apartemen raybi dengan hati yang berkeping-keping.
nicole melajukan mobilnya tanpa kendali, dia menangis terisak, berulang kali dia memukul stir melampiaskan kekesalannya. hatinya bagai tak berbentuk berserakan dimana-mana.
dia tak menyangka bahwa niatnya untuk berbaikan dengan raybi ternyata berbanding terbalik dengan kenyataanya.
kamu menang ray.... kamu berhasil hancurin aku...