Asmara Gisca

Asmara Gisca
24. Mengunjungi Gisca



setelah membuat hati nicole hancur berkeping-keping dengan keputusannya, raybi masih duduk terdiam di tepi kasurnya. dia merenungi apakah keputusannya ini sudah sangat tidak adil bagi nicole.


atau mungkin sangat menyakiti hati wanita itu.


dia bimbang dan merasa bersalah, dia menyadari bahwa selama nicole pergi pun dia memang telah bermain hati dan berlaku tak setia pada nicole.


sejujurnya dia pun merasakan kepedihan yang dirasakan nicole, tapi inilah akhir cerita nya, inilah yang terbaik untuk nicole.


bertahan di tengah-tengah reruntuhan tembok cinta yang hancur, bukankah sangat memprihatinkan bila dipaksakan.


raybi mengusap wajahnya dengan kasar, dia berdiri, berjalan menuju balkonnya.


tak ada lagi mobil nicole di area parkir apartemennya itu artinya nicole telah pergi.


semoga kamu dapet laki-laki yang lebih baik dari aku nic, semoga kamu baik-baik aja, maafin aku...


raybi kembali ke dalam. rasa pusing yang melanda tadi sudah tak terasa lagi, teralihkan dengan kejadian tadi.


raybi membuka bajunya dan bergegas mandi. waktu sudah menunjukan pukul 6 sore.


raybi ingat bahkan dia pun seharian ini belum makan apapun.


setelah selesai mandi dia pun mengambil kunci mobil dan keluar untuk membeli makanan.


namun tiba-tiba ia teringat gisca yang juga sedang tak sehat hari ini.


raybi berinisiatif untuk mengunjungi nya, melihat keadaannya, dan membawakan beberapa makanan untuk gisca. setidaknya dapat membangkitkan mood nya kembali bila melihat gisca.


gisca sangat suka pizza, dia pasti senang, pikirnya.


raybi pun mampir membeli pizza dan beberapa makanan lainnya.


lalu menuju ke rumah gisca.


sampailah raybi di depan rumah gisca. pagarnya terkunci, rumahnya tampak sepi.


raybi mengeluarkan ponselnya dan ingin menelpon, bertanya apakah gisca ada dirumah atau tidak.


namun tiba-tiba pintu rumah gisca terbuka.


ada seseorang yang keluar.


terlihat gisca sedang membuang kantong sampah di dalam tong sampah di dekat pagar.


gisca melihat ada sebuah mobil terparkir di luar pagarnya. ya dia mengenali itu mobil raybi.


gisca pun membuka pagarnya.


bersamaan dengan raybi yang keluar dari mobilnya.


"mas ray.... ngapain disini?" gisca menyapa dengan setengah terkejut.


"hai gis.. aku.. aku kebetulan lewat sini, jadi sekalian mampir buat liat keadaan kamu." raybi menjawab sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"ohh.. ayo mas masuk." gisca mengajak raybi masuk kerumahnya.


raybi pun kembali ke mobil mengambil bungkusan makanan yang ia bawa untuk gisca tadi.


kemudian menyusul gisca masuk kerumahnya.


raybi pun duduk di ruang tamu gisca, dia meletakkan bungkusan makanan itu di meja.


"ini aku tadi sekalian beliin kamu makanan gis."


"aduhh jadi ngerepotin deh. aku pindahin ke piring dulu ya makanannya." gisca berjalan kedapur sambil membawa bungkusan makanan itu.


raybi duduk di sofa sambil melihat sekeliling ruang tamu itu, bergaya minimalis dengan beberapa pigura tertempel di dinding.


dan beberapa hiasan dinding lainnya.


lalu gisca pun muncul membawa makanan dan minuman di nampan lalu duduk di sofa seberang raybi.


raybi memandangi gisca dengan seksama


hot pants, sendal jepit, kaos oblong. manis banget sih ngeliatnya. raybi senyum-senyum.


"gimana keadaan kamu, masih ga enak badan?" raybi bertanya sambil meminum minuman yang disediakan gisca.


"ga kok udah enakan ini, tadi udah minum obat dan istirahat. ga bisa juga lama-lama di biarin sakit mama lagi ga ada gini, ga ada yang urusin." gisca bicara sambil mengunyah 1 potong pizza.


"oh mama kamu ga ada?"


"iya belum pulang, kasian nenek gak ada yang jagain."


"ohya, mas ray ga ke store emangnya hari ini, atau pulang duluan?" tanya gisca heran.


"ga ke store juga hari ini, agak pusing soalnya tadi."


raybi memakan burgernya.


"hmmm...gis maaf ya soal semalem. nicole mungkin bikin kamu ga nyaman."


"ga kok, aku juga yang salah, pulang bareng pacar orang. hehehe" gisca tertawa menghilangkan kecanggungan.


"bukan salah kamu, aku juga sih yang maksa, untungnya pacar kamu yang ga liat, kalo ga aku juga bakal di tonjok." raybi bergurau


mereka masih asyik mengobrol dan bercerita serta menghabiskan makanannya tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul 9 malam. raybi pun berpamitan untuk pulang.


tapi saat gisca mengantar raybi di depan pintu tiba-tiba listrik padam. rumah dan komplek gisca menjadi gelap gulita.


"waaahh mati lampu nih kayaknya, tuh sekomplek gelap semua." gisca mendekat berdiri dekat raybi


"kamu punya lilin ga?"


"ada sih mas di dalem. tapi gelap gini tolong senterin yah, hp aku di kamar lagi." pinta gisca


mereka berjalan dengan diterangi lampu senter dari


ponsel raybi, entah sadar atau tidak, gisca tampak memegangi lengan raybi. berjalan mengiringinya.


mereka pun sampai di dapur. gisca mencari-cari dimana lilin itu biasa di simpan mamanya, lama mencari dan meraba-raba akhirnya dapatlah satu batang lilin yang tersisa.


gisca menyalakannya. dan membawa nya ke ruang tengah.


kemudian petir menggelegar pun terdengar sangat kuatnya, disertai hujan turun dengan deras.


gisca berteriak, dia mencengkram lengan raybi dengan kuat.


"yaahh hujan juga tuh diluar, pantesan mati lampu."


"gis...gis..kamu ga apa-apa?" ujar raybi.


"ga pa pa mas, maaf ya." gisca melepaskan tangannya dari lengan raybi , mereka pun duduk bersebelahan di sofa ruang tengah.


beruntung raybi belum meninggalkan rumah gisca, disaat dia sedang sendiri begini setidaknya raybi bisa menemani dan menghilangkan rasa takut gisca sambil menunggu lampu kembali menyala.


mereka berdua diam, hanya cahaya lilin yang temaram menampakkan wajah manis gisca samar-samar yang sedang dipandangi raybi.


sunyi..senyap.. tak terlibat pembicaraan bahkan suara nafas mereka pun terdengar di tengah kegelapan malam itu.


bersambung