Asmara Gisca

Asmara Gisca
22. Nicole cemburu



gisca masih sibuk dengan pizza nya, menghabiskan ukuran reguler tanpa sisa. ia tampak bersandar di kursi kekenyangan sambil mengelus perutnya.


raybi yang melihat tingkah nya hanya tertawa


bagaimana bisa ini bocah makan ga ada jaim-jaim nya di depan cowok.


raybi pun tampak sudah menyelesaikan makan nya. dia duduk bersantai menunggu gisca sambil memainkan ponselnya.


"hmm... mas ray tadi itu pacarnya ya?" gisca membuka obrolan


"heeheh.. menurut kamu?" raybi bertanya balik


"ya mana aku tau, maka nya aku tanya. tapi.. kayaknya waktu itu pernah liat juga deh dia sama mas ray waktu di cafe." gisca menyedot milkshake nya sampai habis.


raybi masih sibuk di ponselnya.


"udah yok, hampir 1 jam ini." raybi berdiri melihat jam di tangan dan tak menjawab pertanyaan gisca.


huuhh.. mengalihkan topik nih..


gisca mengikuti raybi yang berjalan ke luar restoran. mereka jalan bersejajar di trotoar menuju area mall.


"eh gis, pacar kamu ga pulang-pulang ya?" giliran raybi yang balik bertanya.


"mungkin liburan semester tahun depan baru pulang."


jawb gisca acuh


"kamu ga takut dia punya pacar baru disana." tanya raybi lagi


"enggak lah. aku percaya sama dia." jawab gisca datar


"kalo dia percaya ga sama kamu? secara kamu cantik gini banyak yang godain pasti" raybi bertanya seolah menyelidiki sesuatu


"hahhahaah... yang penting aku nya ga tergoda."


gisca berjalan mendahului raybi memasuki pintu mall.


raybi hanya memandangi nya dari belakang.


jawaban gisca yang seperti itu seakan membuatnya makin penasaran dengan gadis itu.


mereka pun kembali ke store, melakukan aktivitas berniaga di store hingga jam tutup seperti biasanya.


dan seperti kemarin.


lagi..dan lagi raybi memaksa untuk mengantar gisca pulang, tapi lagi lagi pula gisca menolak.


gisca beralasan bahwa mama nya akan menjemputnya. tapi bukan raybi namanya bila dia tak berhasil mendapatkan apa yang dia mau, hingga akhirnya mereka sudah berada di parkiran saat ini.


"aku ga mau ngerepotin mas ray kalo harus nganter aku terus." gisca bicara dengan suara pelan.


"aku ga merasa di repotin kok gis, lagian kita searah."


ujar raybi berbohong, padahal jelas-jelas mereka sangat berlawanan arah.


"aku ga mau nanti aku terbiasa." gisca bergumam


"apa? kamu bilang apa gis? tanya raybi tak begitu mendengar ucapan gisca barusan


gisaca hanya menggeleng. lalu membuka pintu mobil dan akan masuk, namun dia menoleh seketika saat seseorang di seberang mobil tiba-tiba berteriak memanggil nama raybi.


"nicole...!!" raybi terkejut. "kenapa kamu bisa disini? bukannya kamu tadi udah pulang"


ciihhh.... nicole berdecak "aku nungguin kamu pulang, tapi kamu malah pulang bareng dia." tunjuk nicole terhadap gisca.


gisca kaget, dia kikuk.


"jangan salah paham, kenalin ini gisca, spg di store aku, kebetulan searah jadi aku anterin dia." ucap raybi mengenalkan gisca.


gisca mengulur kan tangannya dan menyebutkan namanya.


"udah, yuk pulang." nicole melewati gisca dan membuka pintu mobil depan kemudian dia masuk begitu saja.


gisca masih diam di tempatnya.


"yuk gis. aku anterin kamu dulu." ucap raybi tak enak hati.


gisca hanya mengangguk dan masuk, duduk di kursi belakang.


selama perjalanan yang canggung itu, mereka hanya saling diam. nicole yang tampak bergelayut manja di lengan raybi seolah tak menghiraukan kehadiran gisca di kursi belakang.


sesekali raybi hanya melihat gisca dari kaca depan, melirik, lalu fokus menyetir lagi.


gisca yang duduk di belakang tampak hanya memainkan ponsel dan kebanyakan memandang ke arah jendela.


akhirnya mereka sampai di rumah gisca.


gisca mengucapkan terima kasih sebelum dia turun. dia juga pamit terhadap nicole yang hanya dibalas nicole dengan senyuman kecil.


gisca membuka pagar dan masuk.


lalu mobil pun melaju lagi. meninggalkan gisca yang masih berdiri di depan pagar.


gisca menghela nafas kemudian masuk ke dalam rumahnya.


sementara itu di dalam mobil, nicole tampak marah dan cemburu kepada raybi. nicole menuduh raybi telah bermain hati dengan orang lain sepeninggal dia selama ini.


"udah nic, aku ga mau berdebat hal yang ga penting kayak gini, kamu kayak anak kecil tau ga" raybi masih fokus menyetir.


"akuu..? kayak anak kecil? bukannya kamu yang kepincut sama anak kecil itu." nicole kesal.


"pantes semenjak aku pergi kamu jarang hubungin aku, terus selama aku pulang kamu selalu bilang sibuk dengan kerjaan, rupanya kamu tuh sibuk ngejar dia." nicole menaikkan nada bicara nya


"aku ga ada apa-apa sama dia nicole, kamu jangan mancing emosi aku." raybi menarik nafas panjang "kamu sadar ga kita sudah terlalu lama bertahan dalam ketidak cocokan ini. kamu terlalu egois" raybi terpancing.


"hehh, lihat. kamu bilang aku egois, kamu bener-bener udah berubah, kamu keterlaluan ray." nicole menjerit.


"kamu yang berubah nicole, kamu ga sadar." raybi memukul stir nya


nicole mulai menangis "turunin aku disini"


"kamu jangan gila nicole,"


"turunin aku disini..!!" nicole menjerit, membuka paksa pintu mobil.


membuat ray menghentikan mobilnya.


nicole turun. langsung memanggil taksi dan meninggalkan raybi yang berusaha turun mengejarnya.


"sialaaannn...!!"


raybi menendang angin. dia emosi.


untung saja jalanan terlihat sepi, hanya ada dua tiga mobil yang melintas.


raybi kemudian masuk ke mobilnya lagi, melaju pulang ke apartemennya. kamu udah gila nicole..


***


nicole benar-benar kehilangan kendali. dia hanya menangis di dalam taksi membuat sopir taksi kebingungan.


kamu jahat ray... kamu ga tau tujuan aku pulang buat pertahanin kamu. kamu jahatt.. nicole memukul-mukul pahanya.


nicole memandang keluar jendela. ia sangat sedih. ia masih menangis.


dia merasa sia-sia untuk hubungan yang mereka jalani selama ini. hanya beberapa bulan terpisah sudah membuat hubungan diantara mereka memburuk. nicole benar-benar frustasi. dia tak menyangka raybi berbicara seperti itu padanya.


ada yang salah.. ini pasti ada yang salah..