Andini

Andini
Tidak baik-baik saja



Sebuah mobil perusahaan yang dikendarai Andini dan Rizky, nampak keluar dari gedung Mono group, ya siang itu juga gadis itu harus segera menuju kantor D&T untuk segera menyelesaikan program yang ia tawarkan pada perusahaan itu.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit, mobil yang dikendarai Andini dan Rizky memasuki parkir gedung D&T. Dengan langkah pasti kedua perwakilan Mono group itu, memasuki gedung D&T untuk menemui perwakilan dari perusahaan tersebut.


"Nona Andini." Sapa seorang wanita cantik yang sudah berdiri di lobi D&T group.


"Selamat siang nona, saya Raisa perwakilan dari D&T." Raisa mengulirkan tangannya memberi salam Andini dan Rizky.


"Hai, Raisa saya Andini, dan ini Rizky rekan saya." Andini membalas uluran perwakilan dari D&T itu, begitu juga dengan Rizky.


Raisa mengajak Rizky dan Andini menuju ruangan, tempat pertemuan yang ada di D&T.


Didalam ruangan itu sudah ada manager pemasaran dari D&T dan beberapa staf departemen pemasaran nya. Beberapa saat mereka nampak sedang sibuk berunding serta mengecek berapa data yang sudah dibawa Andini dan juga Rizky.


"Nona Andini, sebenarnya dari pihak D&T sudah menyetujui kerjasama yang sudah perusahaan anda ajukan, tetapi berhubung CEO kami masih ada di luar negeri, jadi kami belum bisa memberikan berkas perjanjian kerja pada anda."


"Baiklah nona Raisa, ini juga karena kesalahan saya, sudah memajukan jadwal kunjungan kesini." Jawab Andini


"Baiklah, bagaimana kalau kita menikmati secangkir kopi." Ajak Raisa pada Andini dan Rizky.


Rizky menatap Andini, meminta pendapat atas tawaran dari Raisa itu. Dan Andini hanya mengedipkan mata indahnya sebagai tanda persetujuan.


Andini, Rizky dan Raisa beranjak pergi meninggalkan ruang pertemuan itu, untuk menuju sebuah coffe shop yang tidak jauh dari D&T group. Namun langkah Andini terhenti saat telephon genggam miliknya terus berdering sedari tadi.


"Siapa sih, dari tadi telpon terus." Gerutunya dalam hati. Andini menarik nafas dalam dan membuangnya secara kasar setelah melihat nama yang sedari tadi terus mencoba menghubungi nya.


"Kak Bobby." Andini mengerutkan dahinya tajam. Andini mengampiri Rizky dan Raisa yang sudah berjalan terlebih dahulu.


"Maaf deh, kelihatannya kali ini aku tidak bisa ikut dulu." Ujar Andini pada Raisa dan Rizky.


"Apa?, yang benar saja kau ini Din." Rizky menatap tajam Andini, tak percaya atas apa yang barusan di ucapakan gadis itu.


"Sial, kau tadi yang menyetujuinya, sekarang malah kabur ." Gerutu Rizky kesal.


"Maaf kak, aku ada urusan mendadak. Nanti kakak langsung balik kantor saja, biar aku naik taksi baliknya." Andini berlari meninggalkan Riky dan Raisa tanpa menunggu jawaban dari Rizky. Sedangkan Rizky hanya bisa menatap kesal Andini yang sudah pergi menjauh dari pandangannya.


***


Andini duduk disebuah sofa yang terdapat disebuah sudut cafe. Ya, gadis itu memutuskan untuk menemui Bobby yang hari ini tak henti-hentinya menghubungi Andini.


Andini pikir cepat atau lambat ia harus tetap menemui Bobby, dan berhenti memberi harapan palsu yang akan semakin menyakiti hati laki-laki yang pernah mengisi hatinya semasa SMA dulu.


"Kak Bobby." Andini tersenyum manis sembari melambaikan tangannya, pada sesosok laki-laki yang baru saja memasuki cafe.


"Hai kak, apa kabar." Sapa Andini pada Bobby, yang sudah mendudukkan tubuhnya tepat didepan Andini.


"Baik." Jawab Bobby sembari menatap Andini, dengan tatapan sendu. Nampak gurat kesedihan terpancar dari sorot matanya. Sorot mata yang menyimpan sebuah luka, sebuah luka yang ia dapat dari gadis manis yang duduk tepat di hadapannya.


"Din, apa sudah tak ada lagi kesempatan untuk ku?." Suara Bobby bergetar saat mengucapkan kata itu pada Andini.


Andini terdiam, menundukkan kepalanya. Entah apa yang harus ia katakan pada laki-laki itu. Ia takut kalau Bobby semakin terluka dengan kata-kata yang ia ucapkan.


"Maaf kak, maafkan aku, aku tau aku salah."


"Tidak Din, kamu tidak salah. Sejak awal aku tahu pasti akan berakhir seperti ini. Aku saja yang terlalu percaya diri, bahwa perhatian ku bisa membuat mu melihat kearah ku lagi."


Andini semakin tidak bisa membendung air mata yang sudah memenuhi kedua sudut matanya, setelah mendengar perkataan Bobby. Gadis itu hanya bisa diam dan menangis karena telah mematahkan hati Bobby untuk kesekian kali.


"Apa kau sangat mencintainya?"


"Tidak kak, bukan seperti itu. Aku hanya menuruti permintaan ibu kak, Andini tidak mau melukai hati ibu lagi."


Seulas senyum terbit disalah satu sudut bibir Bobby. " Lalu kenapa dulu kamu menolak permintaan ibu untuk menikah denganku? padahal permintaan itu lebih dari satu kali."


"Maafkan aku kak."


Hanya kata maaf berulang kali lah yang keluar dari bibir mungil Andini, hal itu membuat Bobby semakin terluka dan tak tega melihat Andini yang terus menangis meminta maaf kepadanya.


Bobby beranjak berdiri mendekat kearah Andini, yang masih tertunduk sembari menangis tersedu. Laki-laki itu mengangkat dagu Andini dan mengusap air mata yang sudah membasahi wajah mungil nya.


"Berhentilah menangis, lihat lah wajahmu jadi jelek sekali."


"Maafkan aku kak."


"Sudah lah berhenti meminta maaf, aku sudah capek melihatmu seperti ini." Ujarnya kemudian.


Bobby mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna ungu dari dalam saku jasnya, dan menyodorkan kan nya pada Andini.


"Jika suatu saat dia membuat mu terluka, pakailah ini dan datanglah padaku. Tapi aku sungguh berharap itu tidak akan pernah terjadi Din, aku harap Andre dapat membuat mu bahagia."


Bobby meraih tangan Andini, mencoba menenangkan gadis itu.


"Din, kamu tidak perlu merasa bersalah. Semua ini sudah takdir. Jadi kakak mohon berhentilah menangis."


Andini hanya mengangguk kan kepalanya, sembari mengusap air mata yang masih terus mengalir dari kedua mata indahnya.


"Baiklah, aku akan pergi sekarang. Maaf ya Din, kakak tidak bisa mengantarmu pulang kali ini."


Bobby beranjak pergi meninggalkan Andini yang masih terdiam dengan air mata berlinang. Sedangkan Andini, hanya bisa menatap kepergian Bobby yang nampak menyimpan luka dibalik senyum manisnya.


***


Hujan mengguyur deras sore itu, seolah mengerti bahwa ada hati yang sedang terluka. Hati yang terluka akibat sayatan tak kasat mata, dan berharap dengan datangnya hujan dapat menemani sang pemilik hati saat rintikan nya datang membasahi bumi.


Andre masih duduk di kursi kebesarannya di gedung Mono group. Bersama sekertaris Gilang laki-laki itu masih berkutat dengan proyek-proyek yang segera harus di selesaikan. Laki-laki itu tampak fokus dengan apa yang sedang ia kerjakan, dan sekali-kali melirik handphonenya yang tergeletak tidak jauh dari pandangannya, seolah sedang menunggu kabar dari seseorang.


"Apa kau begitu mencemaskan nya?" ucap Gilang yang sadar akan tingkah Andre yang sedari tadi melirik handphone miliknya.


"Tidak!" Jawabnya singkat sembari mengukir senyum disalah satu sudut bibirnya, namun senyum tipis itu seketika hilang, setelah tatapan matanya bertemu dengan laki-laki setengah baya yang sudah berdiri tidak jauh dari nya.


"Paman." Ucapnya pelan


"Maaf tuan, bagaimana anda bisa masuk kesini." Gilang menghampiri laki-laki setengah baya, yang masih berjalan mendekat ke arah Andre.


Laki-laki itu tak merespon sama sekali, dan memilih duduk disebuah sofa serta mengangkat kedua kakinya bertumpu di meja.


"Jangan pernah mengusik Mono konstruksi." Ucap laki-laki setengah baya itu tanpa basa-basi.


"Paman." Jawab Andre dengan tatapan gusar yang ia tujukan pada laki-laki itu.


"Paman? cih, siapa yang kau panggil paman.


Asal kau tahu, aku kesini hanya untuk memberi peringatan kepadamu keponakan kecilku. Jauhi mono konstruksi, jika kau tak ingin orang yang kau sayangi terluka."


Laki-laki setengah baya itu berdiri dan beranjak meninggalkan ruangan itu, namun beberapa saat kemudian berbalik sembari tersenyum mengejek kearah Andre.


"Bersikaplah seolah tak tahu apa-apa seperti Dian, maka aku akan tetap mengganggap mu sebagai keponakan kecilku."


Brak!!!


Laki-laki itu membanting keras pintu Andre, saat keluar dari ruangan itu. Melihat itu Andre mengepalkan kedua tangannya, mencoba menahan luapan emosi yang terasa sudah mendidih didalam tubuhnya.


Ting, bunyi pesan masuk mengalihkan pandangan Andre. Dengan cepat Andre membuka pesan itu, dan berharap ada kabar baik yang dapat meredam amarahnya.


Prang......


Andre melempar kan handphone miliknya, hingga hancur berserakan.


"Brengsek!, Sial!, beraninya dia mengabaikan ku seharian, dan malah menangis didepan laki-laki lain."


Andre membuang semua berkas dihadapannya hingga berserakan tak bersisa. Laki-laki itu terus mengumpat, sembari menghancurkan semua benda yang ada disekitarnya.


Gilang hanya bisa menarik nafas dalam, melihat Andre yang meluapkan emosinya itu.


"Aku tahu kak, kamu sedang tidak baik-baik saja, jadi aku akan membiarkan mu melupakan emosimu kali ini." Ujar Gilang dalam hati, seolah mengerti penyebab dari tindakan Andre itu.


*


*


*