
Loh jangan, kita rahasia kan dulu ini semua dari Andini, biar kita para orang tua saja yang tahu akan lamaran rahasia ini."
"Lamaran rahasia??" Ibu Hayati masih mencoba mencerna perkataan dari calon besannya itu.
"Iya jeng, biarkan anak-anak kita saling terbuka akan perasaan mereka terlebih dulu, yang terpenting jeng Hayati Jagan berikan Andini pada orang lain ya jeng, dia sudah jadi calon mantu saya." Senyum lebar nampak terpancar dari wajah cantik wanita paruh baya itu. Ibu Hayati dan pak Harun nampak menyetujui ide dari keluarga Andre, karena nampaknya orang tua dari Andini itu sudah mengerti alasan Andini yang selalu menolak lamaran dari Bobby selama satu tahun terakhir ini. Apalagi ibu Hayati yang selalu memaksa Andini untuk segera menikah dan menerima lamaran laki-laki itu tanpa mengetahui alasan yang dimiliki putri kecilnya.
"Biar Andre si bodoh itu yang berusaha juga Tan." Sahut Linda yang sedari tadi hanya diam tampak memperhatikan percakapan para orang tua itu.
"Heh adik sendiri dibilang bodoh." Mama Susi memukul lengan Linda mendengar perkataan putri sulungnya itu.
"Emang bener ma, Andre itu bodoh sekali masalah gini saja dibikin ribet nunggu kita dulu ngomong ke keluarga Andini."
"Bukannya kamu itu tidak jauh beda sama Andre sayang." Ledek Kelvin
"Maksud kamu?"
"Kamu dulu juga suka sama aku duluan," Kelvin merapikan rambut Linda yang sedikit tergerai ke depan," Tapi kamu juga tidak mau mengakui itu lebih dulu."Kelvin mendekatkan wajahnya ke telinga istrinya itu sembari mengangkat sebelah ujung bibirnya.
"Hei beda dong, aku Khan perempuan jadi jangan disamakan lah." Jawab Linda tak terima.
"Sama lah, kakak adik sama-sama bodoh." Ujar mama Susi memotong perdebatan anak dan menantunya itu.Ya kedua anaknya itu emang dikaruniai kecerdasan otak yang luar bisa tapi tidak untuk hal yang berhubungan dengan perasaan, mereka terlalu bodoh dalam hal mengungkapkan perasaannya.
Tidak ada yang salah untuk mengungkapkan perasaan yang kita rasakan, entah itu perasaan sedih, senang ataupun perasaan cinta. Belajar mengungkapkan adalah cara terbaik untuk saling memahami, sebab setiap manusia tidak mempunyai kemampuan membaca isi hati seseorang untuk apa yang sedang ia rasakan.
***
Suasana nampak lain pagi itu dilobi perusahaan Mono group, beberapa wartawan serta awak media nampak berlalu lalang memecah kesibukan para penghuni gedung berlantai 15 itu.
Meja, kursi serta podium sudah tertata rapi menghiasi lobi, di lorong gedung itu pun juga nampak berbagai makanan yang sudah tersedia bagi para karyawan, direksi serta tamu yang hadir di pagi yang nampak sibuk itu. Hari ini merupakan hari yang penting bagi Mono group, yang mana perusahaan itu akan memperkenalkan pada publik wajah baru yang akan meneruskan tongkat kepemimpinan perusahaan.
Hari itu Andre nampak tampan dengan setelan jas berwarna navy dipadu dengan sepatu pantofel berwarna gelap yang memberi kesan Dingin dan berwibawa tergambar jelas pada penampilan laki-laki itu. Wajah baru bagi Mono Group itu nampak memasuki lobi perusahaan bersama Ibu Dian yang tak lain adalah CEO lama serta Tante dari Andre .
Sekitar 15 menit setelah memasuki lobi perusahaan, Bu Dian nampak menaiki podium untuk memulai acara pagi itu. Wanita cantik dengan garis wajah tegas yang sekilas mirip dengan Andre keponakannya, sungguh gen keluarga yang sangat mengesankan.
Wanita cantik berusia 40an itu nampak lugas dan tegas dalam berbicara, senyum ramah yang selalu nampak dikedua sudut bibir sungguh dapat menambah karisma mantan CEO Mono group itu.
"Terima kasih kepada para dewan direksi, karyawan serta para awak media yang berkenan hadir untuk acara hari ini, terimakasih untuk bantuan dan dukungan nya selama saya di Mono Group, kedepannya saya harap para teman-teman dan rekan kerja sekalian tetap memberi bantuan dan dukungan positif kepada Mono Group. Andre yang merupakan keponakan laki-laki saya satu-satunya akan melanjutkan kinerja yang positif bagi kelanjutan mono group kedepannya." Bu Dian menghentikan perkataan nya sembari menoleh kearah Andre memberi isyarat keponakannya itu untuk maju ke podium bersamanya. Semua mata dan sorot kamera langsung terarah pada laki-laki tampan yang sedang berjalan ke arah podium itu. Ya sungguh nikmat Tuhan sangat berlimpah diberikan pada laki-laki itu Tubuh tinggi tegap nan tampan, otak yang cerdas serta harta yang melimpah.(author juga iri banget loh sama Andre .wkwkwkkwwk).
Andre berdiri disamping Bu Dian untuk melakukan serah terima jabatan secara simbolis didepan media dan semua bagian keluarga Mono group dari ob sampai dewan direksi.
Tepuk tangan meriah terdengar dari semua orang yang hadir di acara pagi itu setelah serah terima jabatan. Andre yang sekarang telah resmi dikenal publik sebagai CEO baru Mono group nampak memberikan beberapa ucapan singkat, sesekali senyum simpul terbit diujung bibir laki-laki yang sangat menawan itu. Mata indah nan tajamnya nampak menyapu seisi lobi, dan berhenti pada seorang gadis yang nampak berdiri bersama karyawan yang lain sembari menatap tajam ke arah dirinya. Cukup lama pandangan nya tertuju pada gadis itu, gadis yang dengan mudah dapat ia kenali walau berada ditempat ramai seperti pagi ini.
Setelah acara pagi itu, para awak media serta seluruh karyawan dari Mono group nampak menikmati hidangan yang sudah disiapkan tak terkecuali Andini, gadis itu berkeliling dari meja satu kemeja yang lain untuk mencicipi setiap makanan yang terhidang dimeja.
"Din, kenapa kau lama sekali?" Teriak Maya yang terlebih dahulu duduk ditempat makan.
"Sabar, bodoh!! kau ini ribut saja!!"
Andini berjalan tanpa memperhatikan gulungan kabel yang tertumpuk disamping ia berdiri. Seketika gadis itu tersandung dan reflek menarik meja yang diatasnya terdapat gelas minumman yang sudah terisi.
Pyar....
Gelas-gelas itu tumpah berserakan menimpa tubuh gadis manis itu.
"Andini!!!" Maya berteriak setelah melihat sahabatnya itu tersungkur basah kuyup dengan gelas kaca yang berserakan disamping tubuhnya. Semua orang yang hadir otomatis langsung menoleh dan terfokus pada Andini yang sedang tersungkur dilantai lobi perusahaan Mono group itu.
Andini meringis kesakitan akibat tertimpa gelas dari meja yang ia tarik. Baju dan jilbab terang yang ia kenakan nampak tidak mampu menutupi dalaman pakaian gadis manis itu."Ya tuhan malu sekali," Gerutunya dalam hati. Andini mencoba berdiri dan sungguh ia ingin segera keluar dari ruangan itu karena sungguh sangat memalukan.
"Hei, jangan bergerak kau bisa terluka." Suara laki-laki yang nampak terdengar dari kejauhan dan menghampiri Andini yang masih tertunduk. Laki-laki itu membalutkan jas yang ia kenakan untuk menutupi tubuh Andini yang basah kuyup. Andini mengangkat dagunya mencoba melihat wajah laki-laki yang berdiri tegap disampingnya.
"Andre?"Ujar gadis itu dengan nafas sedikit lega.
"Sudah ku bilang jangan bergerak!!." Andre membersihkan pecahan gelas yang masih terdapat disekitar kaki dan rok panjang Andini. Andre kemudian mengangkat tubuh gadis itu dan berjalan meninggalkan kerumunan orang yang masih menatap Andini.
"Apa yang kalian liat? Bubar sana." Andre menatap tajam orang-orang yang masih menatap gadisnya itu dengan tatapan penuh ketidaksukaan, hal itu otomatis membuat orang-orang itu berangsur pergi tanpa berani berucap sepatah katapun lagi.
Tante Dian yang melihat tingkah Andre dari kejauhan hanya bisa terkekeh sembari menggelengkan kepalanya." Dasar bocah nakal, sampai segitunya kalau sudah berurusan dengan Andini ." Ujarnya dalam hati.
Andini hanya bisa menyembunyikan wajahnya di dada lelaki tampan yang masih berjalan sambil menggendong nya itu. tangan gadis itu memegang erat lehernya agar tidak terjatuh.
"Apa ada yang sakit?"Ujar Andre singkat tanpa menghentikan langkahnya. Andini hanya menggelengkan kepalanya dan semakin menengelamkan wajahnya di dada bidang laki-laki itu. Kedua sudut matanya nampak mulai tidak bisa menahan cairan bening yang sudah terasa penuh dan membanjiri mata indah nya.
"Ya, Tuhan sungguh memalukan" Gerutunya dalam hati.
*
*
*
*
mohon like, vote, favorit dan komenya yang baik ya kakak-kakak
follow ig@ idae_movic. terima kasih.