
"Ya, tuhan kakak ipar cantik sekali." Ujar Gilang yang nampak terpesona dengan penampilan Andini saat ini.
"Hei brengsek, kau Jagan menatap calon istriku seperti itu." Ucap Andre kesal sembari memukul lengan Gilang, sedangkan Gilang hanya mengangkat kedua bahunya tanpa menanggapi perkataan Andre.
Andini berjalan menghampiri Andre dan sekertaris Gilang, yang masih duduk di sofa.
"Bagaimana dengan yang ini." Andini memutar-mutar kan tubuhnya, mengoreksi penampilan.
"Cantik." Ujar Andre tanpa mengalihkan pandangannya dari Andini.
"Terima kasih." Andini tersenyum manis mendengar pujian dari Andre.
"Bukan kau, tapi gaunnya."
Andini menarik nafas dalam dan membuangnya kasar setelah mengetahui ternyata gaun nya lah yang dibilang cantik.
"Sial banget sie gue." Batinnya
Andre nampak tidak bisa menahan, untuk tidak tertawa melihat ekspresi kesal Andini.
"Lihat lah kak, kakak ipar nampaknya kesal banget sama kamu." Ujar Gilang
"Bukankah dia imut kalau lagi ngambek seperti itu."
"Hemm, imut banget."
"Hei, kau jangan ikut-ikut memuji calon istriku, hanya aku yang boleh melakukan nya."
Andre menatap tajam Gilang, yang masih duduk manis disampingnya. Sedangkan Gilang hanya bisa nyengir melihat tatapan tajam yang Andre berikan.
"Gue Khan hanya menjawab omongan nya, kenapa masih salah juga sie." Gumamnya dalam hati.
***
Andini berangkat lebih pagi dari biasanya hari itu, dia harus bergegas menyelesaikan semua pekerjaan nya sebelum mengajukan cuti untuk pernikahan nya dengan Andre. Walaupun Andini akan menikah dengan pemilik perusahaan tempat ia bekerja, tak ada hal yang istimewa tentang itu. Sebab Andini sudah meminta Andre untuk merahasiakan pernikahan mereka terutama pada semua karyawan Mono Group, tak terkecuali Maya dan Rizky.
Andini masih fokus dengan beberapa berkas yang ada di meja kerjanya, nampak beberapa proposal kerjasama dengan perusahaan mitra Mono Group yang harus segera ia diskusikan dengan Pak David manager nya. Andini menatap jam dinding yang tergantung tidak jauh dari tempat ia duduk.
"Masi jam 8 kurang, masih terlalu pagi untuk menemui pak David." Batinnya
Andini berjalan meninggalkan meja kerjanya menuju kantin perusahaan, untuk sekedar mengisi kekosongan perutnya yang belum sempat ia isi karena berangkat lebih pagi hari itu.
Secangkir kopi dan dua bungkus roti isi coklat menemani Andini yang nampak sudah duduk disamping jendela kantin pagi itu. Suasana masih teramat sepi, hanya ada beberapa karyawan yang nampak menikmati sarapan pagi di kantor. Mungkin nasib mereka sama dengan Andini, berangkat pagi dan belum sempat mengisi kekosongan perutnya.
Pemandangan cukup indah nampak terlihat dari tempat Andini duduk saat ini. Tempat itu selalu menjadi favorit Andini saat menikmati makanan di kantin Mono Group.
Setelah menikmati sarapan pagi sederhana nya, Andini kembali kemeja kerjanya untuk mengambil berkas yang akan digunakan untuk menemui pak David. Saat menikmati lamunannya menunggu didepan lift, nampak Andre dan Gilang sudah berdiri didalam lift saat pintunya mulai terbuka. Ada dua karyawan yang merupakan bagian dari team sekertaris Gilang juga berada di dalam lift itu.
"Anda mau masuk nona?". Tanya seorang staf sekretaris Gilang.
"Oh, iya." Andini memasuki lift itu sembari tersenyum manis ke arah Gilang tanpa menatap sedikit pun ke arah Andre.
"Oh, jadi gue di kacangin, tunggu pembalasan ku." Batin Andre.
Andre memberi isyarat Gilang untuk mengeser tubuhnya agar sedikit menjauh dari Andre . Dengan sengaja Andre bergeser ke arah Andini dan meraih tangan Andini dalam genggamannya, hal itu nampak membuat Andini terkejut dan reflek menarik tangan nya dari genggaman Andre.
"Hei, kau sudah gila yach." Umpat Andini sedikit kesal dengan nada yang cukup tinggi. Hal itu membuat Gilang dan kedua staf sekertaris nya menoleh ke arah Andini.
"Sial, gue dikerjain". Batin Andini, bersamaan dengan itu pintu lift terbuka, dan dengan terburu-buru Andini keluar serta berpura-pura sedang marah-marah sembari mengumpat orang dibalik sambungan telepon.
Andre menyeringai puas dengan tingkah bodoh Andini, sangking senangnya Andre tak bisa menahan untuk tidak tertawa. Ia tertawa terbahak-bahak didalam lift sampai lift itu terbuka, kedua staf sekertaris Gilang hanya terdiam tanpa berani menoleh untuk hanya sekedar melihat tingkah aneh Bos nya itu.
Kedua staf sekertaris itu berjalan terlebih dahulu meninggalkan Gilang dan Andre, setelah berpamitan kepada bos yang mungkin di anggap gila oleh mereka.
"Apa kita perlu ke rumah sakit?, nampaknya ada yang tidak beres dengan otak kakak." Ujar Gilang pada Andre, setelah kedua staf wanita itu sudah nampak menjauh.
"Diam lah, aku lagi senang hari ini."
Gilang hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Andre hari ini, "terserah lah asal kau bahagia." Gerutunya dalam hati
***
"Berapa hari kau akan mengajukan cuti?" tanya pak David setelah menyelesaikan pembahasannya.
"Empat hari pak." Jawab Andini
"Apa yang akan kau lakukan sampai ambil cuti empat hari?" Rizky berbisik dengan penuh rasa penasaran kearah Andini.
"Kepo banget sie kamu."
Rizky hanya mendengus sebal dengan jawaban Andini. "Huh, dasar." Batinnya
Setelah beberapa saat pak David mengajak Andini untuk keruangan CEO guna meminta persetujuan proposal kerjasama, yang akan ditawarkan kepada D&T group. Pak David meminta Rizky untuk menyelesaikan data-data tambahan yang masih belum selesai, sedangkan Andini diperintahkan pak David untuk menemani nya menemui pak Andre.
"Pak, bagaimana kalau kak Rizky saja yang menemani anda ke ruangan pak Andre?" Ujar Andini dengan penuh harap, agar pak David memilih Rizky yang menemaninya menemui Andre.
Pak David mengangkat sebelah alisnya mendengar permintaan Andini itu.
"Kau harus bertanggung jawab atas pekerjaan mu, jangan malah melemparkan nya pada orang lain. Kalau kau tidak menyelesaikan pekerjaan ini, maka kau juga tidak akan bisa mengajukan cuti. Apa kau mengerti?".
"Ba-baik pak." Jawab Andini yg tanpa berani membantah perkataan pak David lagi.
Pak David beranjak keluar ruangannya untuk menemui Andre, sedangkan Andini hanya mengekor managernya itu, sembari menenteng berkas-berkas proposal untuk D&T group.
"Selamat siang Manager David, ada yang bisa dibantu." Sapa Mira staf sekertaris, yang berada di depan ruangan Andre saat pak David dan Andini sudah berada di depan ruangan CEO Mono group itu.
"Siang mbak Mira, saya mau bertemu dengan pak Andre, apa beliau bisa ditemui?" ujar pak David sembari tersenyum, sedangkan Andini hanya menundukkan pandangannya tanpa berani menatap Mira karena masih merasa malu dengan kejadian di lift pagi tadi.
"Bisa pak David, silahkan masuk."
Pak David memasuki ruangan Andre, setelah staf sekertaris Mira mengatakan bahwa Andre bisa untuk ditemui.
Di ruangan itu, nampak Gilang dan Andre sedang sibuk berkas-berkas yang nampak berserakan di meja kerja Andre. Pandangan mereka teralihkan dengan manager David yang memasuki ruangan itu, dan kemudian diikuti Andini yang mengekor di belakangnya.
Sekertaris Gilang meminta pak David dan Andini untuk duduk terlebih dahulu, dan beberapa saat kemudian nampak Andre berdiri dari kursinya menghampiri pak David dan juga Andini, diikuti sekertaris Gilang yang setia berdiri disamping CEO muda dan tampan itu.
"Apa ini proposal untuk D&T group pak David?" tanya Andre sembari membolak-balik proposal yang di serahkan pak David.
"Iya pak Andre, bapak tinggal tanda tangan dan nanti nona Andini dan Rizky yang akan menemui utusan dari D&T group."
Andre hanya mengangguk-anguk kan kepalanya, tanda mengerti ucapan manager David itu.
"Seharusnya masih dua hari lagi urusan dengan D&T group pak Andre, cuman di majukan karena nona Andini mengajukan cuti." Ujar manager David kemudian
"Berapa hari kau mengajukan cuti nona Andini?" Andre menatap Andini yang masih menunduk tanpa menatapnya sama sekali.
"Empat hari pak."
"Empat hari? apa yang akan kau lakukan sampai cuti selama itu, apa kau akan menikah?" tanya Andre lagi, masih dengan wajah tanpa ekspresi nya.
Andini nampak terkejut dengan pertanyaan yang diajukan Andre padanya, mata indah gadis itu membulat penuh seakan hendak meninggalkan tempatnya.
"Apa benar kamu akan menikah Din?" ujar manager David yang juga nampak penasaran.
"Ti-tidak pak, saya hanya ada keperluan keluarga." Jawab Andini sembari menatap tajam kearah Andre. Sedangkan Andre hanya membalas tatapan tajam Andini, dengan mengangkat kedua bahunya sembari tersenyum mengejek tanda tak perduli dengan tatapan amarah gadis itu.
"Ya, Tuhan laki-laki ini sungguh menyebalkan." Umpat Andini dalam hati.
*
*
*
Mohon maaf untuk beberapa hari kedepan, kemungkinan author tidak bisa update setiap hari. Dikarenakan ada beberapa Bab yang harus segera direvisi. Terima kasih ^_^