
"Apa ada yang sakit?" ujar Andre singkat tanpa menghentikan langkahnya. Andini hanya menggelengkan kepalanya dan semakin menengelamkan wajahnya di dada bidang laki-laki itu. Kedua sudut matanya nampak mulai tidak bisa menahan cairan bening yang sudah terasa penuh dan membanjiri mata indah nya.
"Ya, Tuhan sungguh memalukan." Gerutunya dalam hati.
Andre menggendong Andini dari lobi menuju lift khusus yang biasanya digunakan hanya untuk para petinggi perusahaan. Andre menekan tombol 15 dimana dilantai itu lah ruangannya berada.
Tidak ada pembicaraan yang keluar diantara mereka berdua, hanya suara Isak tangis Andini pelan terdengar dari balik wajah yang masih ia sembunyikan di dada bidang laki-laki tampan itu.
"Berhenti lah menangis gadis bodoh."
Andini mengangkat dagunya menatap tajam kearah Andre. Perkataan laki-laki itu sungguh tidak dapat membuat suasana hatinya membaik, yang ada hanya menumpahkan minyak pada api yang sudah membara.
"Apa kau tau betapa malunya aku?"
Andini semakin tak bisa menahan luapan emosi yang sudah penuh sesak di dadanya, gadis manis itu semakin menangis terisak dalam dekapan sahabatnya.
Andre mendudukkan tubuh Andini disebuah sofa warna cream yang terdapat diruang kerjanya. Ruangan yang sangat luas dengan desain interior clasic yang didominasi dengan warna putih dan hitam. Setiap sudut ruangan terdapat berbagai jenis bunga hidup dengan kelopak bunga berwarna ungu menambah ruangan itu terasa lebih hidup dan nyaman.
"Tunggulah sebentar, aku akan mengobati luka di kakimu." Andre melangkah meninggalkan Andini menuju sebuah ruangan yang berada dibalik sofa tempat duduk Andini.
Andini menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan kerja sahabatnya itu, ia membersihkan air mata yang masih membasahi wajahnya dengan sebuah tisu yang tergeletak dimeja kerja Andre .
"Gila ruangan si bodoh itu nyaman sekali." Batinnya.
Rak-rak berjajar rapi terisi koleksi buku-buku, serta majalah-majalah bisnis juga nampak menghiasi ruangan itu. Andini mengeserkan tubuhnya untuk menatap keluar gedung untuk menikmati pemandangan yang terlihat dari lantai 15 perusahaan Mono Group. Langit nampak berwarna biru cerah dengan dihiasi gumpalan awan berwarna putih di siang yang cukup terik.
"Lihatlah kaki mu terluka, kau ini ceroboh sekali." Andre sudah berdiri tegap disamping Andini dengan membawa kotak P3K.
"Huh." Andini mengambil nafasnya dalam dan menghembuskan secara berlahan, gadis itu sungguh malas meladeni perkataan laki-laki yang berdiri disampingnya.
Andre mendudukkan tubuhnya tepat didepan Andini, sembari melepaskan sepatu yang di kenakan gadis itu. "Lukanya cukup parah, kau ini seperti anak kecil saja yang tak bisa jaga diri dengan baik." Omel Andre
Andini menarik kaki nya sehingga terlepas dari genggaman tangan Andre . " Udah gak usah di obati biarkan saja kalau kau tidak ikhlas." Ucap Andini.
"Mana sengaja aku menarik meja tadi, siapa juga yang mau mempermalukan dirinya seperti ini. Lagian apa yang kau lakukan, mengapa malah menggendong ku , apa kau sengaja mau aku semakin jadi bahan pembicaraan karyawan lain Khan? iya Khan?."
Andini sungguh sangat kesal pada Andre yang sedang terduduk sambil mengobati luka di kakinya itu, bagaimana bisa Andre malah mengomel dalam situasi seperti ini.
Andre nampak tak menggubris perkataan Andini, laki-laki itu sibuk membersihkan darah yang ada disekitar luka kaki gadis itu. "Apa perlu ke rumah sakit ?" Ucapnya setelah sesaat terdiam.
"Tidak usah."
Andre tersenyum mendengar jawaban singkat Andini yang nampaknya lagi marah terhadapnya. "Imut banget sie calon istriku ini ." Batinnya
"Tunggu lah sebentar, aku akan meminta seseorang mencarikan baju ganti untukmu."
"Tidak perlu." Jawab Andini masih dengan nada merajuk.
" Lukamu sedikit dalam kita ke rumah sakit saja setelah kau ganti baju."
"Tidak perlu ganti baju, biar aku pergi bersama Maya saja." Andini nampak akan berdiri dari sofa tempat ia duduk, namun belum sempat ia melangkah kan kakinya gadis itu nampak meringis menahan sakit dan darah segar mulai mengalir di kaki kanannya.
"Ya Tuhan keras kepala sekali gadis ini." Gumam Andre . Laki-laki itu sontak menahan tangan Andini yang akan beranjak pergi. "Kalau kau masih keras kepala, aku akan menggendong mu lagi saat keluar dari ruangan ini." Ancamnya
Tubuh Andini sontak membeku dan langsung mengurungkan niatnya mendengar ancaman dari sahabatnya itu. Kejadian pagi tadi masih membuatnya sangat malu, apa yang akan terjadi bila Andre benar-benar akan menggendong nya lagi saat keluar dari kantor . Membayangkannya saja sudah membuat gadis itu merinding ngeri.
Andre nampak mondar-mandir sambil sibuk dengan handphone yang ia genggam. Sesekali ia melirik kan pandangan nya pada Andini yang masih terduduk di sofa sembari menikmati pemandangan luar gedung itu.
"Tunggulah sebentar lagi, aku sudah meminta Gilang membawakan baju ganti untukmu dan nampaknya kita tak perlu ke rumah sakit, aku juga sudah menyuruh dokter keluargaku datang kesini." Ucap Andre sembari mendudukkan tubuhnya di samping Andini .
"Siapa Gilang?"
"Sekertaris ku, dulu dia teman baik ku saat diluar negeri."
"Ohh.."
"Apa kau lapar? nampaknya tadi kau belum sempat makan." Tanya Andre sambil menghadapkan wajahnya ke arah Andini yang duduk disampingnya.
Andini menoleh kearah Andre yang masih saja menatapnya sedari tadi. " Apa yang kau lihat? kenapa menatap ku seperti itu? jangan-jangan kau terpesona dengan ku?." Ujar Andini sembari tersenyum meledek.
"Siapa? aku terpesona pada mu? yang benar saja." Andre mengusap kasar wajah Andini sembari berdiri dan memalingkan wajahnya dari tatapan tajam Andini. "Bahaya" ujarnya dalam hati.
"Mau makan tidak ?"
"Makanlah, pesankan porsi Doble laper banget aku." Jawab Andini sembari tersenyum manis ke arah Andre berharap laki-laki itu menuruti keinginan nya.
"Huh, baiklah."
"Hemm."
"Bagaimana kalau para karyawan sini mulai bergosip tentang kita?"
Dahi Andre mengerut tajam mencoba menerka maksud dari perkataan Andini. "Maksud kamu?"
"Ya gosip tentang kejadian tadi, mana banyak wartawan lagi, kamu sih pakai main gendong orang saja." Andini nampak memikirkan lagi kejadian dilobi tadi.
"Baguslah, harusnya kau senang digosipkan dengan laki-laki tampan seperti gue."
"Astaga, aku serius Ndre. Kau tak lihat tatapan para karyawan wanita saat kau mengendong ku tadi? tatapan mereka seperti akan menelanku hidup-hidup."
"Bagaimana kalau kau jadi kekasih ku saja, jadi mereka tak perlu berbicara gosip." Jawab Andre santai
Andini memukul lengan Andre karena kesal dengan jawaban santai sahabatnya itu.
"Hei, aku dari tadi bicara serius kenapa kau selalu saja bercanda, itu tidak lucu sekali."
"Aku juga serius Bodoh." Jawab Andre masih dengan gaya santainya. "Apa kau lebih suka digosipkan dengan pak David dari pada sama gue."
"Ya, bukan begitu aku kan sudah punya kekasih jadi tidak baik juga kalau digosipkan dengan mu." Andini mengalihkan pandangannya dari Andre berharap laki-laki itu tidak mengetahui kalau dia sedang berbohong.
Andre terkekeh mendengar perkataan Andini, "Kekasih? emang siapa kekasih mu? Bobby? bukanya kau sudah menolak lamaran dari Bobby sayang?."
"Sial kenapa dia tahu segalanya." Batin Andini
"Kenapa kau menolaknya? bukannya dia cinta monyet mu Din ? apa jangan-jangan kau menunggu lamaran dariku?" Tanya Andre lagi karena tak ada jawaban dari gadis manis itu.
"Huh, terserah kau saja mau bicara apa. Ndre kenapa makanannya lama sekali?" Andini mencoba mengalihkan tema pembicaraan mereka.
"Sabar sayang, masih dalam perjalanan."
"Sayang, sayang kepalamu peyang." Jutek Andini .
Andre tampak tak kuat menahan tawa melihat tingkah imut Andini , ada binar bahagia yang tergambar di wajah tampannya, karena sikap Andini padanya sudah mulai kembali seperti dulu lagi.
***
Seorang laki-laki nampak memasuki ruangan Andre dengan membawa paper bag warna coklat yang tergantung di tangan kanannya serta satu kantong makanan yang tergantung ditangan kirinya.
"Sorry bro, jalannya tadi macet baget." Ucapnya sembari menyodorkan paper bag itu pada Andre . " Baju buat siapa bro?" tanya nya kemudian.
"Banyak tanya!!" Andre mengambil paper bag itu tanpa menjawab pertanyaan Gilang yang masih berdiri didepan pintu ruangan Andre .
"Gantilah baju mu, habis itu kita makan." Andre menyodorkan paper bag itu pada Andini .
"Tapi kaki ku sakit sekali dipakai jalan."
Mendengar perkataan Andini itu tanpa banyak bicara Andre langsung mengangkat tubuh gadis itu ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
"Hei, kenapa kau malah mengendong ku lagi." Protes Andini .
"Kau bilang kaki mu sakit, bukan kah itu artinya kau minta aku untuk mengendong mu?"
"Ya Tuhan, kau ini masih saja bertindak semau mu."
"Sudah jangan banyak bicara, nanti ku lempar kau keluar jendela kalau masih banyak bicara." Ancam Andre yang membuat Andini tak berani membatah perkataan laki-laki itu lagi.
"Cepatlah masuk, aku tunggu didepan pintu."
Andini menutup pintu kamar mandi dengan keras, karena kesal akan tingkah laku sahabatnya itu. Disisi lain Gilang yang nampak terkejut mendengar perdebatan Andre dan Andini, serta merupakan momen langka bagi seorang Andre bisa sedekat itu sama seorang wanita, Gilang pun akhirnya berjalan menghampiri sahabat dan juga bos nya itu dengan rasa penuh penasaran.
"Hei apa dia Andini calon kakak ipar ku?" Tanya Gilang pada Andre sembari mengulas senyum penuh tanda tanya.
"Siapa yang calon kakak ipar mu, dia hanya calon istriku." Jawab Andre tak terima.
*
*
*
mohon like, vote, favorit dan komenya yang baik ya kakak-kakak
follow ig@ idae_movic. terima kasih.