
Hujan deras nampak membasahi sudut kota London sore itu. Hawa dingin menyeruak menyapa setiap makhluk yang bernyawa tanpa memandang kasta. Kepada hujan yang menjamah bumi, dingin mu tak akan pernah usai, meski kau telah berlalu. Seperti rinduku pada seseorang, yang tak akan hanyut bersama dinginnya hujan yang sudah berlalu.
Tiga tahun terasa begitu cepat, secepat hembusan angin yang menerpa wajahku diujung jalan kota London yang teramat
sepi. Andini, aku titipkan rindu ini pada langit untuk disampaikan kepada mu lewat hujan.
"Huh, aku sangat merindukanmu Din, andai kau tau itu." Andre menyesap secangkir macchiato yang ada didepannya. Di L'Elysee Artisan Cafe and Patisserie laki-laki itu menikmati senja yang nampak akan berlalu bersama guyuran hujan.
Tidak ada yang berubah selama tiga
tahun, semenjak laki-laki itu meninggalkan Indonesia untuk menempuh pendidikan di London Inggris.
Kehidupan berjalan serasa begitu cepat baginya, semua aktivitas terasa membosankan dan tak ada yang istimewa.
Di tempat ini lah, Andre membunuh waktu nya sembari menikmati secangkir macchiato hangat setiap hari. Dan di tempat ini pula, ia bertemu dengan Gilang, mahasiswa Indonesia yang bekerja part time di cafe tempat ia biasa menghabiskan waktu sepulang kuliah selama tiga tahun terakhir.
Sudah hampir tiga jam berlalu namun, Andre masih belum beranjak dari tempat duduknya.
"Anda mau nambah macchiato nya tuan?" Pelayan cafe menghampiri Andre.
"Boleh." Andre menyapukan pandangannya seolah sedang mencari seseorang.
"Apa kau tau dimana Gilang nona? aku tidak melihatnya beberapa hari ini."
"Gilang lagi cuti tuan, adiknya lagi di rawat di rumah sakit."
"Rumah sakit?"
"Iya tuan di Great ormond street hospital, ada yang ditanyakan lagi tuan? kalau tidak saya permisi."
"Terimakasih nona untuk informasi nya." Jawab Andre.
"Kenapa Gilang diam saja kalau Gina sakit." Batin Andre
"Sial, kenapa handphone Gilang tidak bisa dihubungi." Gerutu Andre saat mencoba menghubungi Gilang. Andre menyesap habis macchiato miliknya dan berjalan keluar dari cafe itu.
***
Great ormond street hospital
Andre berjalan menyusuri lorong rumah sakit dimana Gina adik Gilang mendapatkan perawatan. Laki-laki itu memang tidak pernah melihat seperti apa wajah gadis kecil yang bernama Gina, tetapi Gilang sering bercerita tentang adik kecilnya itu pada Andre.
"Bruk" suara yang terdengar seperti orang sedang jatuh tersungkur. " Berdiri kau sialan, segera bayar hutang mu kalau tidak kau akan mati ditangan ku." Suara itu terdengar semakin keras ditelinga Andre, suara orang yang sedang berkelahi.
Nampak tiga orang laki-laki berwajah oriental sedang memukul, menendang tubuh yang sudah jatuh tersungkur dilantai lorong rumah sakit yang sepi malam itu.
Andre memicing kan penglihatan nya, mencoba melihat dengan jelas wajah laki-laki yang sudah tak berdaya tergeletak di lantai Great ormond street hospital.
"Hei, stop it !" Andre berlari menghampiri Gilang yang sudah tersungkur dan berlumuran darah.
"Pergilah tuan, kami tidak punya urusan dengan anda." Salah seorang laki-laki itu menarik kerah baju Andre mencoba menyingkirkan nya untuk tidak ikut campur.
"Cih, siapa yang ikut campur urusan kalian, gue hanya tidak bisa melihat tindakan kekerasan." Jawab Andre sembari melepaskan cengkraman tangan laki-laki didepannya.
"Dan satu lagi, dia yang kau pukul itu keluarga gue jadi gue harus balas tindakan kalian donk." Andre memukul laki-laki itu sampai jatuh tersungkur karena serangan tiba-tiba dari Andre.
"Itu balasan karena kalian telah berani menyentuh keluarga gue."
"ha.ha.ha.ha." Gilang tertawa keras mendengar perkataan Andre yang mengatakan bahwa ia adalah keluarga nya.
"Jangan percaya pada laki-laki pembohong itu, aku sama sekali tak mengenal nya, jadi kalian bisa membunuh ku sekarang juga."
Andre mengepalkan tangannya geram.
"Kau terlalu banyak bicara, diam lah biar gue yang membunuh mu jika kau memang menginginkan nya."
Andre mengambil selembar kartu nama miliknya dan melemparkan nya hingga terjatuh tergeletak di lantai.
"Ambil itu, kalian bisa menagih uang itu padaku."
Salah satu dari penagih hutang itu melangkahkan kakinya dan mengambil selembar kertas yang Andre lempar kan dihadapan mereka.
"Cih, jadi kau putra keluarga Wijaya?" Laki-laki itu mengerutkan dahinya sembari menatap tajam pada Andre setelah melihat nama yang tertera di selembar kertas kecil itu.
"Baiklah aku akan meminta uangku kepadamu, dan kau bocah kecil saya harap kita tidak akan pernah bertemu lagi." Ketiga laki-laki penagih hutang itu beranjak pergi meninggalkan Andre dan Gilang di lorong sepi Great ormond street hospital.
"Kau tidak perlu melakukan hal seperti itu,
kita itu hanya orang asing yang kebetulan berasal dari negara yang sama." Gilang mencoba berdiri menyandarkan tubuhnya.
"Berdirilah dengan benar brengsek, ayo antar gue keruangan Gina." Andre beranjak pergi meninggalkan Gilang yang masih nampak duduk sambil menyandarkan tubuhnya pada tembok lorong rumah sakit. Namun baru beberapa langkah Andre kembali berbalik menghampiri Gilang yang masih terdiam.
"Dan satu lagi, gue bayar hutang itu tidak secara gratis, kau harus membayar nya dengan bekerja dengan ku seumur hidupmu, apa kau dengar itu?".
"Apa? enak sekali kau bicara, tidak, gue tidak mau bekerja dengan orang keras kepala dan pemaksa seperti mu." Gilang berdiri dari duduknya dan berjalan mengekor pada Andre yang terlah melangkah terlebih dahulu.
"Hei brengsek tunggu gue!" Teriak Gilang
"Apa kau bilang, brengsek?" Andre berhenti mendengar perkataan Gilang dan berbalik menghampiri laki-laki itu.
Andre meremas kerah baju Gilang dengan emosi yang nampak mengkilat di kedua matanya.
"Panggil gue kakak mulai sekarang, jika kau masih banyak bicara aku akan benar-benar membunuh mu, bukankah kau tidak memiliki keluarga? jadi sangat gampang untuk ku menghilang kan orang tak berguna sepertimu."
Gilang menatap tubuh tegap Andre yang berjalan meninggalkan nya, ada sedikit rasa bahagia yang ia rasakan saat Andre mengatakan bahwa ia adalah keluarganya.
"Terima kasih kak, sudah dengan senang hati menganggap ku sebagai keluarga mu."
***
Tidak ada kehidupan yang abadi, setiap makhluk yang bernyawa pasti akan merasakan kepedihan dan sakitnya ditinggalkan, hingga tiba waktunya suatu saat kita pun akan meninggalkan kehidupan itu sendiri.
Gilang menatap nanar gundukan tanah yang sudah membalut tubuh kecil Gina adik kesayangannya. Tiga hari setelah melakukan operasi pencangkokan sumsum tulang belakang, gadis kecil itu tidak mampu bertahan. Mungkin Tuhan lebih memilih mengabulkan doa gadis kecil yang tak kuat menahan sakit menggerogoti tubuh mungilnya.
Hampir setiap malam gadis kecil itu menitihkan air mata, dan berharap Tuhan mengambilnya untuk segera berjumpa dengan ibu yang telah lebih dulu pergi menghadap Tuhannya.
"Kamu akhirnya meninggal kan kakak juga dek, berbahagialah kamu disana dek, semoga Tuhan selalu memberikan keselamatan bagimu."
Andre menepuk pundak laki-laki yang masih tertunduk di pusaran adik kecilnya itu.
"Jangan bersedih, kau sudah melakukan yang terbaik." Gilang hanya menjawab dengan anggukan kepala sembari mengambil nafasnya dalam dan membuangnya secara kasar.
Dian Wijaya beranjak mengampiri Gilang. Dipeluknya laki-laki yang usianya tak jauh beda dengan Andre keponakannya itu.
"Sudah nak, jangan bersedih lagi. Gina akan ikut bersedih jika kamu terus-terusan sepeti ini. Sekarang kamu bisa menganggap Andre dan Tante sebagai keluarga kamu."
Gilang semakin tak mampu menahan air matanya dalam pelukan Tante Dian, ya dia tidak baik-baik saja. Tak ada yang tak terluka dengan perpisahan begitu juga dengan Gilang.
*
*
*