
"Hei apa dia Andini calon kakak ipar ku?" Tanya Gilang pada Andre sembari mengulas senyum penuh tanda tanya.
"Siapa yang calon kakak ipar mu, dia hanya calon istriku." Jawab Andre tak terima.
"Ya berarti dia calon kakak ipar ku donk, kalau dia calon istrimu."
"Enak saja, memang kau__" perkataan Andre terhenti setelah terdengar pintu kamar mandi terbuka dan Andini sudah nampak berdiri disana. Kedua mata laki-laki itu saling pandang menduga-duga apakah Andini mendengarkan pembicaraan mereka.
"Hai kau pasti Andini, gue Gilang sekertaris tampan Mono Group." Gilang mengulurkan tangannya pada Andini yang masih menatapnya dan Andre secara bergantian.
Andre menjabat tangan Gilang yang ia ulurkan pada Andini, "Gak usah pakai salam-salaman." Jawabnya singkat, sedangkan Andini hanya tersenyum datar melihat tingkah dua laki-laki aneh itu.
" Ayo kita makan." Andre beranjak mendorong sedikit tubuh Gilang agar menjauh dari Andini, dan kemudian laki-laki itu mengangkat tubuh Andini keluar dari kamar mandi untuk menikmati makan siang yang sudah dibawa Gilang .
"Sial, gue di kacangin." Gerutu Gilang dalam hati.
" Makanlah." Andre menyodorkan satu kotak makanan pada Andini yang terlebih dulu ia dudukan disebuah sofa.
"Ndre, bisa pinjam handphone kamu?" Ujar Andini sembari memasukan satu sendok makanan kedalam mulutnya.
"Untuk ?"
"Telephon Maya, buat anter tas aku kesini."
"Gil.." Andre menjentikkan jarinya meminta Gilang mendekatinya yang lagi duduk makan bersama Andini .
"Apa?"
"Duduklah, makanlah ini." Andre memberikan satu kotak makanan yang ia ambil dari tas yang dibawa Gilang sebelumnya.
Gilang hendak mendudukkan tubuhnya di sofa sebelah Andre, namun belum juga tubuh itu mendarat sempurna diatas sofa Andre sudah merubah lagi permintaan nya.
" Bagaimana kalau kau makan nanti saja, kau ambilkan dulu tas Andini di departemen pemasaran lantai 5." Kata Andre tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Gilang refleks menoleh dengan wajah sebal kearah Andre "Ya tuhan, yang benar saja kau bro." Ucapnya kesal, " Tidak gue mau makan dulu, lagian gue baru besok kerjanya." ujarnya kemudian.
"Sudah biarkan dia makan, nanti aku ambil sendiri saja." Andini memotong perkataan Andre yang hendak menjawab perkataan sekertaris nya itu.
"Tidak, Gilang tidak lapar biarkan dia ambil tas kamu dulu saja, iya Khan Gil ?" Jawab Andre
"Tuh kan kakak ipar jauh lebih pengertian dari pada kamu bos." Jawab Gilang sembari melirik kan sebelah ekor matanya kepada Andre, dan benar saja laki-laki yang duduk disampingnya itu sedang menatap tajam kearah dirinya. "Sial salah ngomong gue" . Batin Gilang.
"Siapa kakak ipar?" Tanya Andini dengan wajah sedikit bingung.
"Bu-bukan, maksudku kakak ipar ku lagi menunggu ku dibawah, jadi aku akan menemuinya sebentar sekalian ambil tas kamu ya." Gilang langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan ruangan itu. "ahh padahal gue laper banget, sialan Andre emang." Umpatnya dalam hati.
"Hei, kau nanti bisa bertanya pada Maya dimana meja kerjaku, tas ku ada didalam nakas samping meja." Teriak Andini pada Gilang yang hampir tak terlihat dari pandangannya lagi
"Gilang kak gue Gilang, bukan Hei !!!" Jawabnya sedikit kesal.
Setelah Gilang benar-benar menghilang dari pandangannya, Andini nampak merebahkan tubuhnya di sofa yang sama. Bosan dan lelah nampak tergambar di wajah gadis manis itu. Sudah hampir 3 jam gadis itu hanya duduk terdiam diruang kerja Andre tanpa melakukan apapun. Sesekali Andini melirik kan pandanganya pada Andre yang nampak sibuk dengan berkas-berkas yang berserakan dimeja nya.
"Ndre"
"Hemm".
"Apa dokternya Masi lama? aku sungguh bosan." Ucap Andini sembari menghembuskan nafasnya kasar mencoba membuang rasa jenuh nya.
Andre beranjak berdiri dari tempat duduknya menghampiri Andini. " Tidurlah jika kau bosan, Dokter Mul masi dalam perjalanan." Andre mengambil jas yang tergantung di leher sofa dan menylimutkan nya pada tubuh gadis manis itu.
"Baiklah."
"Ndre".
"Hemm, apa lagi?" Jawab Andre sedikit kesal
"Bagaimana kalau nanti pak David nyariin aku?"
"Baiklah, aku tidur nanti bangunin ya kalau dokternya datang." Andini memejamkan matanya sejenak mencoba mengalihkan rasa sakit yang menjalar di kaki kanannya.
***
Gilang nampak keluar dari lift dan sudah menginjak kan kakinya di gedung departemen pemasaran tempat Andini bekerja. Laki-laki yang tak kalah tampan dari Andre itu nampak kebingungan menyapu seisi ruangan departemen pemasaran.
"Ada yang bisa dibantu?" Seorang wanita menghampiri Gilang.
" Bisa bicara dengan Maya ?" Jawab Gilang sembari mengulas senyum manis nya.
Gadis yang berdiri didepan Gilang itu mengerutkan dahinya. "Gue Maya." Jawabnya singkat.
"Kebetulan sekali, gue mau ambil tas kakak ipar."
"Maksudnya? siapa kakak ipar?" Jawab Maya tak mengerti.
"Eh, maksud gue kak Andini, gue diminta ambil tas kak Andini sama pak Andre ."
Mendengar perkataan laki-laki itu Maya semakin memberikan tatapan tajamnya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Kamu siapa? gak bisa, aku gak akan kasih tas Andini sama orang tak dikenal seperti kamu." Ujarnya kemudian
"Ya, tuhan gadis ini menyebabkan sekali." Batin Gilang.
"Minggir lah gue gak punya waktu berdebat sama cewek bawel kayak lo." Gilang hendak beranjak pergi meninggalkan Maya, namun baru beberapa langkah gadis itu sudah meraih tangan Gilang sehingga laki-laki itu menghentikan langkahnya.
"Hei, kamu belum jawab pertanyaan aku?"
"Huh, Gilang gue Gilang, sekertaris pak Andre dan Lo bisa panggil gue sek Gil." Ujarnya dengan sedikit kesal.
"Matih aku" Gumam Maya
" Maaf kan saya pak Gilang, saya tidak tahu kalau anda sekertaris pak Andre, anda tunggu sebentar saya akan ambil tas Andini untuk anda." Maya berjalan meninggalkan Gilang menuju meja Andini sembari sesekali mengulas senyum disudut bibirnya. " Gila cakep banget sekertaris nya." Batin Maya .
Maya menghampiri Gilang yang masih berdiri tak bergeming sembari menatap tajam kepadanya.
"Ini pak." Maya menyodorkan tas milik Andini pada Gilang. "Oh iya pak, bagaimana keadaan Andini ?" tanya Maya kemudian.
"Ok, terimakasih." Gilang mengambil tas Andini dan berjalan meninggalkan gadis itu tanpa membalas pertanyaan yang diajukan kepadanya.
"Sial !!! sekertaris sama bos nya sama-sama aneh, apa dia bilang tadi Sek Gil?? dasar gila ." umpat Maya .
"Kenapa kau nampak kesal sekali?" Tanya Rizky yang baru saja datang dari ruangan pak David.
"Iya, tadi aku ketemu orang nyebelin banget." Jawab Maya dengan wajah yang masih kesal.
"Siapa?" Rizky mengerutkan dahinya dalam, mencoba memikirkan orang yang dimaksud Maya .
"Sek Gil".
"Siapa sek Gil, kok aku baru dengar." Wajah Rizky masih penuh tanda tanya.
"Sekertaris Gilang." Jawab Maya dengan nada kesal.
*
*
*
mohon like, vote, favorit dan komenya yang baik ya kakak-kakak.
follow ig@ idae_movic, terima kasih.