Andini

Andini
Penyakit Cinta



Senja mulai datang dengan keangkuhan nya, bersama matahari yang mulai pergi meninggalkan kegelapan yang merangkul seisi bumi. Sebuah mobil berwarna abu-abu nampak siap menyusuri gelapnya bumi bersama hiruk pikuk yang menyelimuti nya.


Sebuah bunyi telepon genggam menyadarkan Andini dari lamunannya.


"Iya kak"


"Dimana?" Suara Bobby yang terdengar dari sambungan telepon Andini.


"Di jalan, dari rumah sakit." jawabnya


"Besok saja kak, hari ini saya lelah sekali, " oh, iya baik kak." Andini nampak mengakhiri sambungan teleponnya.


Terputusnya sambungan telepon itu membuat suasana kembali hening, tak ada suara manusia terdengar, yang ada hanya bisikan lembut dari suara mobil yang sedang melaju.


"Siapa?" Tanya Andre setelah beberapa saat terdiam dan hanya fokus memandang jalan yang terbentang di depannya.


"Manusia." Jawab Andini tanpa mengalihkan pandangannya.


Andre melirik kan kedua ekor matanya mendengar jawaban Andini. " Ya, jelaslah mana bisa ayam pakai handphone."


"Nah tu tau, ngapain Masi nanya."


"Ya Tuhan ni anak, maksud gue manusia yang telpon kamu itu siapa?"


"Ih, ngapain nanya-nanya suka-suka aku dong mau telponnya sama siapa." Ujar Andini dengan nada kesal.


Andre hanya menahan ketawa sekuat tenaga melihat tingkah Andini yang sedang marah terhadapnya. Bagaimana tidak, seharian gadis itu harus terperangkap dalam ruangannya tanpa bisa melakukan apapun. Dokter keluarga yang ia katakan hendak datang pun tak menampakkan batang hidungnya, hal itu membuat Andini semakin kesal saja. Ditambah lagi di rumah sakit Andre tak henti-henti menggoda gadis itu. ditengah keramaian orang berlalu lalang disana Andre lebih memilih mengendong Andini dari pada menggunakan kursi roda untuk masuk rumah sakit, padahal perawat sudah beberapa kali menawarkan padanya untuk membawa Andini menggunakan kursi roda dan sialnya Andre malah memilih berdebat dengan perawat laki-laki itu yang membuat Andini malu setengah mati.


Di dalam kamar perawatan Andre pun tidak henti-hentinya membuat Andini malu, laki-laki itu sempat-sempatnya membuat keributan untuk meminta ganti dokter, hanya karena dokter yang jaga kala itu selalu tersenyum manis dan nampak menggoda Andini. Ya, hari itu Andre berperan layaknya seorang suami yang over protective terhadap istrinya. Dan Andini hanya bisa mengumpat dalam hati melihat sikap laki-laki itu. "Ya, tuhan kenapa laki-laki ini menyebabkan sekali."


"Kamu marah ya?" Tanya Andre kemudian.


"Huh, apa kau tau kau sangat menyebalkan hari ini." Andini mengambil nafas dalam mencoba meredakan kekesalannya bersamaan dengan nafas yang ia hembuskan.


"Tidak, aku tidak tahu sama sekali."


"Astaga, kau memang laki-laki paling menyebalkan, dulu kau pergi begitu saja meninggalkan ku dan sekarang tiba-tiba kau kembali berlagak seolah-olah kau ini suami ku saja, sungguh tak tau malu kau ini." Kata Andini .


"Jangan seperti ini, jangan bercanda berlebihan, karena perasaan ku tak sebercanda itu." sambungnya kemudian dengan wajah sedikit sendu.


Andre tak bergeming mendengar perkataan Andini seolah membenarkan semua yang telah diucapkan gadis manis itu.


"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu." Ujar Andre


"Sudahlah lupakan, awas saja kalau kau seperti itu lagi aku pasti akan membunuhmu." Ancam Andini sembari menatap Andre yang masih fokus dengan kemudinya dengan tatapan yang tidak dapat dijelaskan, sedangkan Andre hanya mengulas senyum tipis dikedua sudut bibirnya.


"Ndre?"


"Hemm."


"Emm,,, tidak jadi." Andini mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil milik sahabatnya itu dan hanya terdiam tanpa melanjutkan perkataan nya sampai mobil BMW abu-abu milik Andre itu berhenti tepat didepan rumah Andini .


Andre segera melepaskan seat belt nya dan beranjak berdiri membukakan pintu mobil untuk Andini. Dengan sigap laki-laki itu mengangkat tubuh Andini keluar dari mobil yang ia miliki.


"Andini, kamu kenapa?". Suara seorang yang berdiri tidak jauh dari rumah Andini dengan wajah yang nampak gelisah seolah sangat mengkhawatirkan gadis itu, dan hal itu membuat Andre seketika menghentikan langkah kaki nya.


"Kak Kelvin? apa yang kakak lakukan disini?" Tanya Andre sembari mengerutkan dahinya melihat kakak iparnya berdiri didepan rumah Andini.


"Hai kakak." Sapa Andini


"Oh, tadi mama Susi minta aku nganterin kue buat Andini." Jawab Kelvin. "Kaki kamu kenapa dek? kok bisa terluka?" Tanya nya kemudian setelah melihat kaki Andini yang nampak dibalut perban putih.


"Tidak kak, aku tidak ap-" sebelum Andini menyelesaikan perkataannya Andre sudah memotong perkataan gadis itu.


" Kak, gimana kalau bertanya nanti saja, masalah nya Andre lagi gendong bayi gajah ini kak berat banget." Kata Andre sembari memasang wajah cemberut


"Tuh kak, kakak bisa lihat kan kalau adik ipar kakak ini ngeselin banget." Kata Andini kemudian


Kelvin terkekeh sembari memegang perutnya melihat kelakuan dua orang di hadapannya itu.


"Baiklah, kalian berdua masuk sana kakak mau balik dulu."


"Oke kak, hati-hati ."


Andre berjalan masuk rumah Andini bersamaan dengan Kelvin yang juga beranjak pergi dari tempat itu.


***


Mobil yang dikendarai Andre beranjak meninggalkan rumah Andini setelah beberapa saat laki-laki itu nampak mengobrol bersama kedua orag tua Andini. Sebenarnya setelah mengantar Andini tadi Andre hendak langsung pergi dari rumah gadis itu karena sudah ada janji bertemu dengan Gilang sekertaris nya, namun pak Harun ayah Andini meminta Andre untuk tinggal dan mengobrol dengannya, sehingga laki-laki itu pun tak kuasa menolak permintaan ayah dari wanita yang sangat ia cintai itu.


"Gil, temuin gue di cafe X 15 menit lagi." Bunyi pesan yang dikirimkan Andre untuk Gilang sekertaris nya.


"Baik bos." Jawab Gilang.


Mobil Andre nampak memasuki area parkir sebuah cafe setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, ya malam itu jalanan sedikit ramai jadi memakan waktu jauh lebih lama dari seharusnya. Andre menyapukan pandangannya setelah memasuki cafe itu mencoba mencari sosok Gilang sekertaris nya.


"Kak." Gilang berteriak sambil melambaikan tangannya setelah melihat Andre berdiri didepan pintu cafe.


Andre berjalan menghampiri Gilang yang sudah lebih dulu duduk disebuah sofa sembari menikmati kopi dan kue yang lebih dulu ia pesan untuk nya dan juga Andre.


"Sorry Gil, tadi jalannya macet." Ucapnya sembari mendudukkan tubuhnya.


"Emang ada apa kamu minta bertemu hari ini kak, besok gue kan udah masuk kerja."


Andre meminum kopi yang ada didepannya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan dari Gilang .


"Gil, gue mau kamu meriksa laporan keuangan Mono kontruksi, nampaknya ada yang tidak beres dari laporan yang gue cek tadi pagi."


"Mono kontruksi? bukanya itu dipegang paman mu kak? kakak yakin?" tanya Gilang.


"hemm, tapi ada yang aneh dari laporan keuangan nya mana ada laporan keuangan sampai merugi padahal perusahaan selalu dapat tender besar. Sebenarnya dari dulu Almarhum Papa selalu berselisih paham sama paman gue, paman gue tu mata duitan banget sampai-sampai uang perusahaan habis di embat nya."


"Baik Kak, besok gue urus."


"Gil sama satu lagi, Andini sering bilang ke gue kalau orang perusahaan ada yang sering bergosip tentang dia, coba kamu cari tahu juga siapa orang itu." Perintah Andre lagi


"Kalau perlu kau pecat aja tu orang." Ujar Andre kemudian sembari meneguk habis kopi didepannya.


Gilang mengerutkan dahinya dalam mencerna perkataan dari bosnya itu.


"Serius kak?"


"Hemmm." Jawab Andre singkat.


"Wah, nampaknya kamu memang tergila-gila sama gadis yang bernama Andini itu Ndre."


"Kerjakan saja, jangan banyak bicara."


Gilang hanya bisa mengangguk tanda mengerti tanpa membalas perkataan Andre lagi."Begitulah orang yang sudah terkena penyakit cinta." Batinnya.


*


*


*


mohon like, vote, favorit dan komenya yang baik ya kakak-kakak.


follow ig@ idae_movic, terima kasih.