
Tak ada yang tak terluka dengan perpisahan begitu juga dengan Gilang. Kehilangan keluarga satu-satunya yang ia miliki di dunia ini sungguh bukanlah suatu hal yang mudah.
Namun, berlarut dalam kesedihan juga bukan hal yang disarankan, karena setiap jiwa hidup pasti akan merasakan yang namanya kematian.
Setelah sepeninggal Gina adiknya, Gilang sudah tak bekerja part time lagi di L'Elysee Artisan Cafe and Patisseri. Gilang di minta tante Dian untuk bekerja part time di perusahaan keluarga Wijaya yang ada di London, hitung-hitung belajar sebelum ia membantu Andre kelak saat kembali ke Indonesia. Gilang sempat menolak tawaran tante dari sahabatnya itu, akan tetapi saat ia mengingat hutang nya pada Andre, mau tidak mau laki-laki itu pun menyetujui nya.
"Bisa-bisa Andre membunuh gue kalau menolak tawaran nya." Pikirnya
***
Perusahaan Mono Group
Sudah dua Minggu berlalu, tanpa terasa Andini sudah menghabiskan hari-harinya tanpa melakukan kegiatan apapun. Ya, setelah kejadian memalukan di lobi Mono group yang mencederai kaki kanannya, gadis manis itu harus beristirahat total dan itu mengharuskan nya untuk cuti dari perusahaan tempat ia bekerja.
Dengan langkah pelan, Andini berjalan memasuki gedung Mono Group.
"Masih sepi, apa aku berangkat ke pagian." Gumam Andini sembari menaiki lift.
Susana gedung Mono Group masih teramat tentram pagi itu, belum banyak terlihat lalu lalang karyawan, hanya beberapa petugas kebersihan yang sudah nampak memulai pekerjaannya.
Andini nampak sudah menempati kursi kebesarannya, dimana sudah dua Minggu gadis itu meninggalkan tempat itu. Nampak tumpukan berkas menggunung di meja kerjanya.
"Ya Tuhan, apa-apa ini." Andini mengusap kasar wajahnya setelah melihat tumpukan berkas yang ada di mejanya.
"Bukannya Ita harusnya menghendel ini semua selama aku cuti?" Batinnya.
Andini mulai berkutat dengan pekerjaan yang sudah sempat ia tinggal, gadis itu berdecak kesal karena tak ada yang mengambil alih pekerjaan nya selama ia cuti. Andini sempat ingin menanyakan hal itu pada Ita, namun hal itu ia urungkan dan lebih memilih untuk menyelesaikan nya sendiri.
"Males banget pagi-pagi berurusan dengan dengan Mak lampir satu itu." Batinnya
Setelah setengah hari menyelesaikan tumpukan berkas yang ada di mejanya, Andini akhirnya bisa bernafas lega.
"Sudah waktunya makan siang." Ujarnya sembari melihat jam yang melingkar di tangan kanannya.
"Ah, Rizky sama Maya kenapa belum balik sie." Andini berdiri sembari merenggangkan tubuh nya yang terasa kaku karena terlalu lama duduk. Andini menyapukan pandangannya pada ruangan departemen pemasaran, berharap Maya dan Rizky sudah kembali dari tugas lapangan mereka.
Andini berjalan menuju kantin dan memesan secangkir kopi serta sebuah sandwich. Setelah beberapa saat, gadis itu beranjak dari tempat itu sembari membawa kedua camilan yang bisa disebut pengganjal makan siangnya menuju lift yang ia tekan tombol roftoop.
"Wow, udaranya segar sekali." Andini menghirup nafas dalam dan membuangnya secara perlahan, menikmati sejuk angin yang berhembus dari roftoop Gedung Mono group.
Andini menyesap kopi hangat miliknya, dan kemudian memasukkan sandwich kedalam bibir mungilnya itu. Suasana cukup tenang, tak ada seorang pun yang berada di tempat itu kecuali dirinya.
"Kenapa baru sekarang aku baru kepikiran ketempat senyaman ini." Gumam andini sendiri an.
"Apa yang kau lakukan disini?". Andre beranjak menghampiri Andini yang duduk di sebuah kursi dekat taman roftoop Mono group. Sebenarnya sedari tadi Andre sudah berada di tempat itu, namun Andini tidak menyadari keberadaan nya.
"Hanya mencari angin, kau?" Andini kembali melahap sandwich miliknya yang tinggal satu gigitan.
"Mencari nyamuk."
Andini melirik kan kedua ekor matanya mendengar jawaban Andre." Kau ini ada-ada saja."
Andre mendarat kan tubuhnya di tempat duduk disamping Andini.
"Kau mau?". Andini menyodorkan kopi bekas bibirnya pada Andre.
Andre mengulas senyum di kedua sudut bibirnya, dan Andini yang melihat hal itu nampak hanya bisa mengerutkan dahinya tak mengerti.
"Kenapa tersenyum?" Tanya Andini sedikit heran.
"Kau itu tidak tahu, apa pura-pura tidak tahu." Jawab Andre dengan tatapan menggoda.
"Apa?" Andini semakin dibuat tak mengerti dengan sikap sahabatnya itu.
"Ha.ha.ha.ha, sudah lupakan saja." Andre mengusap kasar wajah Andini dengan tangannya.
" Gadis ini, apa dia tidak sadar itu namanya ciuman secara tidak langsung." Batin Andre.
Andini hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan tingkah Andre siang itu.
Suasana hening sesaat, baik Andre dan Andini tak ada yang berucap sepatah katapun lagi. Hanya terdengar suara deburan angin menyapa lembut tubuh kedua anak manusia itu.
"Paketan datang." Suara Gilang memecah keheningan. Laki-laki itu membawa sekotak besar pizza dan sekantung soda.
"Hai kakak ipar." Sapa Gilang saat melihat Andini yang ternyata juga berada ditempat itu.
"Apa aku mengganggu kencan kalian?" Ujarnya kemudian, dengan wajah menggoda kedua orang yang masih diam membisu.
"Banyak bicara, cepat bawa sini." Andre merampas pizza dari tangan Gilang.
Andini mengangkat dagunya mencoba menatap Gilang yang berdiri di depannya.
"Kenapa kau terus memanggil ku kakak
"Karena kau sebentar lagi jadi ipar ku." Gilang menarik kedua sudut bibirnya menciptakan lengkungan sempurna, sembari melirik kan sebelah ekor matanya pada Andre yang nampak tak menggubris dan memilih menikmati makan siangnya.
"Dasar gila." Jawab Andini sembari mengambil sepotong pizza dan memasukkan nya kedalam mulutnya.
"Apa kalian sering makan siang disini?" Tanya Andini kemudian
"Kadang-kadang, aku suka suasana disini tenang tak ada yang menggangu."
"Bagaimana kalau kita sering Roftoop lunch disini?" Potong Gilang.
"Kalau sama Andini sie gue mau saja, tapi kalau sama kamu malas banget." Ujar Andre sarkastik.
Gilang membuang kasar nafasnya mendengar jawaban Andre. Sedangkan Andini hanya bisa terkekeh melihat kelakuan dua laki-laki di depannya.
Tak sampai sepuluh menit sekotak pizza, dan tiga kaleng soda sudah habis tak bersisa. Mereka bertiga pun akhirnya beranjak pergi dari Roftoop lunch versi sekretaris Gilang.
Andre menarik tangan Andini untuk mengikuti nya memasuki ruang kerja laki-laki itu setelah pintu lift terbuka dilantai 15.
"Hei apa yang kau lakukan?" Andini terkejut saat Andre menarik tangannya. Bersama an dengan itu handphone Andini nampak berdering tanda panggilan masuk.
"Iya yah." Jawab Andini pada sambungan telepon nya.
"Apa? Bagaimana bisa? baik Andini akan segera kesana." Andini menarik tangannya dari genggaman Andre setelah memutus sambungan teleponnya.
"Ndre antar aku, ibu masuk rumah sakit."
Andini berlari masuk kembali kedalam lift, diikuti Andre dan Gilang yang nampak mengekor dibelakang nya.
***
Setelah sekitar 30 menit perjalanan, mobil yang dikendarai Andre bersama Gilang dan Andini memasuki sebuah parkir rumah sakit swasta dimana ibu Andini di rawat.
Andini berlari terburu-buru setelah melepaskan seat belt nya, menuju ruangan dimana ibu Hayati berada. Namun setelah tiba diruangan itu, Andini nampak terkejut sembari mengerutkan dahinya melihat mama Susi serta Linda bersama Kelvin suaminya sudah berada di ruangan tempat ibu Hayati dirawat.
"Loh mama Susi kok bisa disini?" Ujar Andini
"Iya sayang." Mama Susi memeluk tubuh Andini dan membelai lembut tubuh gadis manis itu.
"Loh mama?" Andre tak kalah terkejut melihat keberadaan mama nya.
Andini melepaskan pelukan mama Susi dan beranjak berjalan menghampiri ibu Hayati yang tertidur.
"Ibu kenapa Ayah?" Andini memeluk tubuh ibu Hayati yang masih tertidur.
"Tadi tiba-tiba pingsan Din, kata dokter tekanan darah nya tinggi."
Andini membela lembut wajah ibu Hayati yang nampak masih tertidur. "Buk, ibu kenapa bisa begini, apa ada yang membuat ibu kepikiran hemm?".
"Ibu kamu tidak apa-apa sayang, dia hanya butuh istirahat, sebaiknya kita tunggu diluar saja Yach." Mama Susi mengandeng tubuh Andini keluar dari ruangan. Andini sesaat menatap wajah Ayahnya meminta pendapat, yang dijawab anggukan oleh laki-laki paruh baya itu.
Andini duduk disebuah taman yang terdapat di depan ruangan tempat ibu Hayati dirawat. Sudah hampir dua jam gadis itu duduk terdiam dengan tatapan kosong. Pikirnya sungguh kacau melihat ibunya tiba-tiba jatuh sakit.
"Din, ayo kita masuk kata mama ibu mu sudah bangun." Andre menautkan jemarinya dengan jemari Andini, menuntun gadis itu berjalan memasuki ruangan ibu Hayati.
"Ibu sudah baikan?" Andini memeluk tubuh ibunya yang sudah tersadar dari tidurnya.
"Sudah nak, ibu sudah baikan." Ibu Hayati membelai lembut punggung putrinya yang masih berada dalam pelukannya.
"Ibu akan lebih sehat lagi, kalau Andini mau memenuhi permintaan ibu."
Andini melepaskan pelukannya setelah mendengar perkataan dari ibunya.
"Katakan Bu, apapun permintaan ibu Andini pasti akan melakukan nya." Jawab Andini dengan penuh kepastian.
Mendengar jawaban dari anak gadisnya itu pun bu Hayati tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. "Benarkah?"
Andini menganggukkan kepalanya sembari mengulas senyuman di kedua sudut bibirnya.
"Iya Bu."
"Menikah lah nak, Menikahi lah dengan Andre?"
Andini nampak terkejut mendengar permintaan ibunya itu. Andini refleks menatap Andre yang berdiri tidak jauh dari dirinya mencoba mencari penjelasan. Namun laki-laki itu hanya mengangkat bahunya tanda dirinya pun tidak mengerti.
"Andre Bu? apa ibu tidak salah?" Jawab Andini kemudian.
*
*
*