Andini

Andini
Kesepakatan Pra-Nikah



"Menikah lah nak, Menikahi lah dengan Andre".


Andini nampak terkejut mendengar permintaan ibunya itu. Andini refleks menatap Andre yang berdiri tidak jauh dari dirinya mencoba mencari penjelasan. Namun laki-laki itu hanya mengangkat bahunya tanda dirinya pun tidak mengerti.


"Andre Bu? apa ibu tidak salah?" Jawab Andini kemudian.


Andini merasa sangat tidak mengerti akan permintaan ibu nya itu, bukannya dulu ibu Hayati memintanya untuk menikah dengan Bobby, tapi kenapa sekarang Andre.


"Ibu, kenapa ibu jadi aneh-aneh gini sie Bu. Kenapa tiba-tiba Andre bu, kemaren bukan nya ibu minta Andini menerima lamaran dari kak Bobby?". Ucap nya dengan heran.


"Memang nya kenapa, kamu sudah berjanji akan memenuhi semua kemauan ibu." Bu Hayati menatap sendu wajah putri bungsunya .


"Andre saja tidak keberatan dengan permintaan ibu, iya kan nak?" Bu Hayati mengalihkan pandangannya pada Andre yang masih berdiri tak jauh darinya dan Andini.


Andre berjalan menghampiri kedua wanita yang sedang menatapnya.


"Tentu saja Bu." Jawabnya sembari mengulas senyum pada ibu dari sahabatnya itu.


Andini membulatkan kedua matanya mendengar jawaban dari Andre, bagaimana bisa laki-laki itu dengan mudahnya menyanggupi permintaan dari ibunya.


"Hei, jangan asal bicara." Andini mencubit lengan Andre yang berdiri disampingnya sembari berbisik. Namun sialnya laki-laki itu hanya tersenyum mengejek tanpa membalas ucapan Andini.


"Huh, dasar laki-laki menyebalkan." Umpat Andini.


***


Sore itu Hujan menguyur deras membasahi bumi, memberikan kesejukan hati yang terasa terguyur bersama rintikan hujan. Ada alasan setiap kali hujan jatuh ke bumi, tapi entah mengapa aku tidak punya alasan kenapa hatiku jatuh padamu.


Andre mengangkat cangkir yang berisi kopi hitam, meneguk nya sampai tak bersisa. Seulas senyum manis tiba-tiba terbit dari sudut bibirnya, ya suasana hati laki-laki itu nampak baik hari itu. Kejadian di rumah sakit dua hari lalu saat ibu Hayati memintanya menikahi Andini sungguh membuat hatinya nampak dipenuhi berbagai jenis bunga.


"Bagaimana bisa gadis itu tidak menyadari kalau para orang tua telah merencanakan ini semua." Batin nya.


Andre merasa Andini itu terlalu polos atau bodoh, ya diantara salah satunya. Bagaimana bisa ia tidak mengetahui kalau kedua orang tuanya dan keluarga Andre telah mengerjainya habis-habisan, hanya agar dia menuruti permintaan mereka tanpa membantah.


Andini sungguh tidak menyadari, bahwa sebenarnya ibu Hayati kemaren hanya berpura-pura sakit. Karena dengan cara itulah Andini akan menuruti semua permintaan kedua orangtuanya. Dan hal itu pun terbukti saat Andini menyetujui permintaan ibu nya untuk menikah dengan Andre sahabatnya.


"Memang tak ada yang bisa mengalahkan seorang ibu." Gumam Andre sembari menyandarkan kepalanya disebuah sofa yang berada diruang kerjanya, sejenak laki-laki itu mentap kosong keluar jendela, menikmati suasana hujan yang terlihat dari luar jendela gedung Mono Group.


Suara ketukan pintu membuat Andre mau tidak mau membangun kan nya dari lamunan bersama hujan.


"Siapa sie ganggu saja." Umpatnya sembari mempersilahkan masuk siapa pun itu yang sudah menganggu waktu berharga nya.


Nampak seorang gadis manis berhijab memasuki ruangan itu dengan wajah sedikit masam. Iya gadis itu adalah Andini calon istrinya.


Andre seketika mengertutkan dahinya melihat ekspresi gadis itu.


"Kenapa?" Ujarnya yang masih tak mengalihkan pandangan pada Andini.


Andini berjalan menghampiri Andre yang masih terduduk di sofa. "Geser duduk mu,


ada yang ingin aku bicarakan."


Andre mengeserkan badan nya, memberi ruang Andini untuk bisa duduk disampingnya.


"Apa yang ingin kau bicarakan, hemm?" Andre menatap Andini yang sudah duduk disampingnya sembari menyandarkan kepala di sofa.


Andini menarik nafasnya pelan dan membuangnya secara kasar mencoba untuk mengeluarkan semua keluh kesah yang ada di hatinya.


"Ndre, apa yang harus kita lakukan sekarang."


Andre mengalihkan pandangannya kesembarang arah, seolah sudah mengerti maksud dari perkataan Andini.


"Melakukan apa nenek tua?" Jawabnya pura-pura tak mengerti.


Andini melirik sekilas pada Andre.


"Ya masalah pernikahan kita lah, memang


"Kenapa, apa kau ingin cepat-cepat menikah dengan ku?. Andre tersenyum menggoda kearah Andini.


Andini mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban dari Andre.


"Ya Tuhan, ni anak kenapa sie". Batinnya kesal


"Aku serius Ndre, apa yang harus kita lakukan dengan permintaan ibu."


"Tentu saja kita akan menikah sesuai kemauan ibu, bukannya kita sudah menyetujui Masalah ini, kenapa sekarang kamu masih juga membahasnya hemm?"


suara Andre sedikit meninggi mendengar perkataan Andini. "Bukankah kemarin dia dan Andini sudah sepakat tapi kenapa masih dibahas lagi". Pikirnya


"Apa kau yakin? menikah bukanlah perkara mudah, apalagi hanya karena kau menuruti permintaan ibu ku." Andini menatap gusar Andre yang masih terdiam disudut sofa.


"Bagaimana kalau aku menerimanya karena aku benar-benar mencintaimu, apa kau akan mempercayai nya?"


"Tidak, kau dulu pernah meninggalkan ku begitu saja, tidak ada jaminan bahwa kau tak akan mengulanginya untuk yang kedua kali."


Andini beranjak pergi meninggalkan Andre, dengan cairan bening yang sudah membasahi kedua sudut mata indahnya.


Andre berdiri dari tempat duduknya dan langsung menarik lengan Andini yang sudah beranjak pergi.


"Itu lain cerita Din, dulu kita bukan siapa-siapa jadi tidak ada alasan juga untuk kau marah sampai seperti ini."


Andini masih menundukkan pandangannya, menghindari tatapan mata Andre yang sekarang lagi menatap tajam ke arahnya.


"Hei, kenapa kau diam? aku benarkan? kecuali


kau dari dulu sudah mencintai ku makanya sampai kau semarah ini." Andre mencubit pipi Andini mencoba mencairkan suasana di antara mereka.


Hal itu nampaknya berhasil membuat Andini mengangkat dagunya dan menatap wajah Andre.


"Sembarangan." Jawabnya sembari memukul lengan Andre. "Kau itu sahabat ku dari kecil, makanya aku sangat marah padamu saat kau pergi begitu saja tanpa memberi tahu ku."


"Hanya sahabat?" Andre memincingkan mata bulatnya mencoba mencari kebenaran dari wajah Andini .


"Iya lah, memang apa lagi." Jawab andini


Andre mengusap pucuk kepala Andini sembari tersenyum manis ke arahnya.


"Baiklah aku mengerti, kau tidak perlu menangis lagi. Sudah jelek jadi tambah jelek kau ini kalau menangis."


"Sialan." Ujar Andini kesal, sedangkan Andre hanya terkekeh melihat kekesalan gadis manis itu.


"Ayo kita duduk lagi, nampaknya masih ada yang ingin kau bicarakan." Andini mengikuti Andre yang duduk kembali di sofa ruangannya itu.


"Ndre, bagaimana kalau kita membuat kesepakatan selama kita menikah."


"Maksud mu?" Andre mengerutkan dahinya tajam mencoba mencerna permintaan Andini.


"Ya kesepakatan, kita kan menikah hanya karena menuruti permintaan ibu ku dan tidak ada rasa cinta di antara kita berdua."


"Bicaralah, kesepakatan apa yang kau inginkan." Andre mencoba mendengarkan apa keinginan sahabatnya dan juga calon istrinya itu. "Huh, memang kau itu apa yang kau tau Din, dari dulu aku mencintaimu saja kau tidak tau." Batin Andre


"Kesepakatan Pra nikah." Ujar Andini sembari menatap gusar ke arah Andre.


*


*


*


*