
"Wah, nampaknya kamu memang tergila-gila sama gadis yang bernama Andini itu Kak."
"Kerjakan saja, jangan banyak bicara."
Gilang hanya bisa mengangguk tanda mengerti tanpa membalas perkataan Andre lagi."Begitulah orang yang sudah terkena penyakit cinta." Batinnya.
"Gil"
"Iya Kak, apa ada lagi?", Gilang tak mengalihkan pandangannya pada Andre yang nampak sedikit gusar.
"Apa menurut mu rencana ini benar, gue takut Gil." Andre menatap gelas kopi kosong didepannya, " Tapi kau tau sendiri, Mono kontruksi adalah jerih payah Kakek dan papa dari nol hingga seperti saat ini, jadi gue sebisa mungkin harus melindungi nya."
Gilang menatap Andre yang nampak bingung akan keputusannya tentang mono konstruksi, Gilang tau betul sejarah kelam keluarga Wijaya yang ingin Andre kubur dalam bahkan dalam ingatannya sekalipun.
Bagi publik keluarga Wijaya hanyalah keluarga terpandang pemilik Mono group, sebuah perusahaan yang bergerak di berbagai bidang mulai dari konstruksi, produk makanan, produk obat-obatan bahkan pusat perbelanjaan. Tak heran keluarga Wijaya masuk dalam salah satu golongan keluarga terkaya di negeri ini. Tak ada informasi yang bisa menjelaskan mengenai keluarga yang sangat dikenal baik di mata publik itu.
Perusahaan Mono group mulai berkembang pesat saat tongkat perusahaan dipegang oleh Danu Wijaya yang tak lain adalah ayah dari Andre Wijaya dan kakak dari Dian Wijaya. Namun sebuah kecelakaan tunggal yang merenggut nyawa Danu Wijaya, perusahaan Mono group akhirnya di ambil alih sang adik Dian Wijaya setelah kejadian naas itu terjadi.
"Semua akan baik-baik saja kak, biar gue yang urus semuanya." Ujar Gilang sesaat setelah terdiam dan hanya menatap Andre.
"Terimakasih Gil, maaf merepotkan." Jawab Andre sembari menepuk pundak Gilang, "Ayo balik gue capek banget."
"Tidak usah sungkan kak, emang itu sudah tugas gue."
Andre dan Gilang beranjak meninggalkan cafe saat malam sudah mulai larut. Gilang masih berdiri menatap Andre yang mulai menjalankan mobil miliknya sampai mobil itu hilang dari pandangannya.
Gilang mengendarai mobil menuju sebuah apartemen mewah tempat ia tinggal. Laki-laki itu nampak memasuki lift apartemen setelah beberapa saat lalu memarkir mobil miliknya di area parkir bawah tanah apartemen itu.
"Huh". Gilang merebahkan tubuhnya disebuah sofa sembari menarik nafasnya dalam dan menghembuskan nya secara kasar.
"Gue akan memastikan semua berjalan sebagai mana mestinya kak, karena kamu satu-satunya keluarga yang gue milikki di dunia ini setalah Gina pergi menyusul ibu". Gilang menatap kosong langit-langit apartemen miliknya sembari memijit kepala nya mencoba memikirkan apa yang harus dia lakukan terlebih dahulu.
"Mending gue berendam air hangat sambil minum segelas susu, lelah banget gue." Gumam Gilang yang di iringi gerakan tubuhnya menuju kamar mandi dengan membawa segelas susu yang ia siapkan terlebih dahulu.
"Cih, baru hari pertama kerja gue harus sudah berurusan dengan laki-laki tak tahu diri itu." Gilang meneguk habis segelas susu hangat miliknya dan menidurkan tubuh tegapnya disebuah beth up mencoba merilekskan tubuh dan fikirannya.
***
London, 3 tahun yang lalu
Seorang laki-laki nampak berlari disebuah lorong Great ormond street hospital kota London. Laki-laki itu nampak terengah-engah sambil mengendong seorang gadis yang nampak tak sadarkan diri.
"Permisi nona adik saya tak sadar kan diri." Suara Gilang berbicara pada perawat yang jaga malam itu. Dengan sigap para perawat mengambil alih tubuh gadis itu dari dekapan Gilang.
"Ya tuhan demamnya tinggi sekali, sejak kapan adik anda tidak sadarkan diri tuan?." Ucap dari salah satu perawat.
"Sejam yang lalu nona." Jawab Gilang dengan tubuh bergetar dan ketakutan
"Baik, tuan silahkan isi data diri ke bagian administrasi, biar adik anda kita yang ambil alih."
"Baik nona, tolong selamatkan adik saya nona saya mohon." Gilang nampak berurai air mata saat tubuh adiknya itu dibawa ke IGD untuk mendapatkan pertolongan. Tubuh tegapnya terjatuh kelantai degan keringat bercucuran setelah berlari sembari mengendong tubuh adik perempuan nya yang sudah tak sadarkan diri.
Gilang nampak mondar-mandir didepan IGD
Great ormond street hospital. Sudah dua jam yang lalu adik perempuan nya masuk ruang IGD dan belum ada kabar dari dokter ataupun perawat yang menanganinya.
"Keluarga dari Gina?" Seorang dokter laki-laki nampak keluar dari ruang IGD.
"Iya dok saya." Gilang berjalan menghampiri dokter itu.
"Selamat malam tuan saya dokter Albert yang merawat Gina, mari keruangan saya ada yang perlu saya bicarakan dengan anda." Gilang dan dokter Albert berjalan menuju ruangan dokter Albert.
"Silahkan duduk tuan." Kata dokter Albert pada Gilang.
"Terimakasih dok."
"Tuan kondisi adik anda sangat lemah, dalam pemeriksaan awal terdapat gejala yang mengarah pada chronic lymphocytic leukemia (CLL) atau biasa disebut kanker darah, namun untuk memastikan itu kita harus melakukan pengecekan pada sumsum tulang belakang nona Gina."
Seperti tersambar petir disiang bolong, itu lah yang dirasakan Gilang saat itu setelah mendengar penjelasan dari dokter Albert. Bagaimana bisa adik kecilnya merasakan penderitaan yang sama persis dialami oleh almarhum ibunya.
"Leukimia dok?"
"Iya dok, ibu saya meninggal akibat penyakit serupa, apa CLL itu penyakit genetik dok?"
"Tidak juga tuan mungkin kebetulan saja,
sebab kanker darah bukan penyakit yang bisa diturunkan dalam keluarga. Bahkan ketika ibu mengandung terkena kanker darah, biasanya janin baik-baik saja. Saya harap tuan Gilang dapat menyiapkan semua nya segera karena biaya perawatan penderita kanker darah sangatlah besar tuan." Gilang hanya bisa menarik nafasnya dalam mendengar perkataan dokter Albert.
"Baik dok terimakasih."
Gilang nampak keluar dari ruangan dokter Albert dan berjalan ke ICU untuk menemui Gina adiknya.
"Kamu sudah bangun dek?" Gilang berjalan menghampiri Gina yang sudah tersadar.
"Kak, Gina tidak mau disini kak ayo kita pulang saja." ujar Gina dengan Suara pelan.
"Iya dek, nanti kalau Adek sudah baikan kita pulang ya sekarang Adek istirahat dulu." Gilang membelai lembut pipi Adek kecilnya itu.
"Maafkan Gina ya kak, Gina sudah jadi beban hidup kakak maaf kak, maafkan Gina." Gadis kecil itu nampak menangis dalam pelukan Gilang.
"Gina tidak boleh bicara seperti itu, Gina adalah keluarga kakak satu-satunya kakak pasti akan berusaha semampu kakak agar Gina bisa sembuh, percaya sama kakak ya dek."
Gina hanya bisa mengangguk pelan mendengar perkataan kakak laki-lakinya itu.
"Terimakasih kak." Gumam nya pelan.
"Tidurlah dek, kakak akan disni menjagamu." Gilang membelai pucuk rambut adiknya itu dengan penuh kasih sayang.
Gilang dan Gina adalah kakak beradik dari seorang ibu tunggal yang telah meninggal.
Gilang membawa Gina ke London Inggris setalah ia mendapat beasiswa dari pemerintah Indonesia untuk melanjutkan pendidikan di University Of London. Gilang terpaksa membawa Gina bersama nya karena hanya dia lah satu-satunya keluarga yang di miliki gadis kecil itu. Selama di Inggris Gilang bekerja part time di sebuah Cafe yang jaraknya dekat dengan kampus serta asrama miliknya untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan adik kecilnya.
Gilang nampak merebahkan tubuhnya disebuah kursi panjang yang terletak didepan ruang ICU tempat dimana Gina berada. Semalam laki-laki itu duduk menemani Gina yang masih tertidur lemas diruang ICU.
"Tuan adik anda mencari tuan." Suara seorang perawat ruang ICU memanggil Gilang, mendengar namanya dipanggil laki-laki itu bergegas bangun dan berlari ke ruang ICU.
"Gina?" Gilang terkejut melihat adiknya yang tergulai lemas tak berdaya setelah memuntahkan semua isi yg ada didalam perutnya.
"Kak, Gina sudah tidak kuat kak Gina lebih baik ikut ibu saja."
"Tidak dek, Gina tidak boleh bicara seperti itu, Gina harus kuat Gina tidak boleh tinggalin kakak sendirian." Gilang sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana ia harus seorang diri di dunia ini bila adik kecilnya itu pergi meninggalkan nya.
"Maaf, tuan Gilang anda bisa tunggu diluar sebentar ya." Ujar dokter Albert
Tidak berapa lama dokter Albert nampak keluar dari ruang ICU, "Tuan Gilang hasil dari tes yang sudah dilakukan terhadap nona Gina 99,9% adalah chronic lymphocytic leukimia stadium 3. Kondisi nona Gina sangat lemah jadi kami memutuskan untuk segera melakukan pencangkokan sumsum tulang belakang. Anda bisa menjadi pendonor bagi adik anda setelah kita lakukan check up." Ujar dokter Albert
Gilang hanya bisa memejamkan matanya mencoba menerima keadaan yang terjadi dalam hidupnya. "Terimakasih dokter Albert." Jawab Gilang singkat.
"Itu sudah menjadi tugas saya tuan Gilang, saya harap anda segera berkonsultasi dengan pihak administrasi mengenai penjadwalan operasi adik anda, kalau sudah tidak ada yang di tanyakan saya permisi dulu tuan." Dokter Albert beranjak pergi meninggalkan Gilang yang masih berdiri dengan tatapan kosongnya.
***
Diruang administrasi Gilang nampak berkonsultasi mengenai operasi yang akan dilakukan Gina adiknya.
"Selamat siang tuan, untuk pasien atas nama Gina dengan dokter penanggung jawab dokter Albert bisa dioperasi 3 hari lagi tuan, namun tuan Gilang harus membayar biaya operasi terlebih dahulu."
"Berapa nona untuk biaya operasi adik saya?"
"5.300 poundsterling tuan, untuk biaya operasi sumsum tulang belakang nya saja."
"Ya, tuhan dari mana saya dapat uang sebanyak itu." Batin Gilang sembari memijit keningnya.
*
*
*
mohon like, vote, favorit dan komenya yang baik ya kakak-kakak.
follow ig@ idae_movic, terima kasih.