Andini

Andini
Gaun pengantin



"Ndre, bagaimana kalau kita membuat kesepakatan selama kita menikah."


"Maksud mu?" Andre mengerutkan dahinya tajam mencoba mencerna permintaan Andini.


"Ya kesepakatan, kita kan menikah hanya karena menuruti permintaan ibu ku dan tidak ada rasa cinta di antara kita berdua."


"Bicaralah, kesepakatan apa yang kau inginkan." Andre mencoba mendengarkan apa keinginan sahabatnya dan juga calon istrinya itu. "Huh, memang kau itu apa yang kau tau Din, dari dulu aku mencintaimu saja kau tidak tau." Batin Andre


"Kesepakatan Pra nikah." Ujar Andini sembari menatap gusar ke arah Andre.


"Ya Tuhan, ada-ada saja kau ini. Terlalu banyak nonton drama Korea kau ini Din." Jawab Andre sedikit tak senang dengan permintaan Andini.


"Hei, ini tidak ada hubungannya dengan nonton drama." Andini beranjak dari tempat duduknya mengambil selembar kertas dan sebuah pena.


Andini mencatat poin-poin yang ia inginkan selama menikah dalam secarik kertas itu, lalu menyodorkan nya pada Andre.


Andre mengerutkan dahinya tajam setelah membaca kesepakatan yang dinginkan Andini. Ada sebanyak lima poin yang Andini inginkan untuk mereka berdua sepakati.


Dan poin yang paling menarik perhatian Andre adalah poin ketiga.


"Apa maksudmu menjaga jarak? dan kenapa kau mau merahasiakan status pernikahan kita?". Andre nampak mengangkat sebelah sudut bibirnya menatap Andini yang nampak kebingungan.


"Ya, aku tidak mau saja orang-orang berbicara buruk tentang aku yang tiba-tiba menikah dengan mu."


"Tidak ada lagi yang berani bicara buruk tentangmu, dan untuk menjaga jarak apa maksud mu itu?" Tanya Andre lagi.


"Emmm." Andini nampak memutar bola matanya memikirkan jawaban yang pas.


"Apa kau takut aku akan memakan mu?" Andre berbisik sembari mendekatkan wajahnya pada telinga Andini. Sontak gadis itu pun terlonjak kaget dengan tingkah Andre itu.


"Dasar gila." Umpat Andini sembari memukul lengan calon suaminya, sedangkan Andre hanya terkekeh melihat tingkah lucu gadis manis itu.


Bunyi pintu terbuka mengalihkan pandangan dua anak manusia yang sedang terlibat dalam perdebatan perjanjian pernikahan mereka.


Nampak sekertaris Gilang berjalan menghampiri keduanya dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Apa aku menganggu kencan kalian?" Ujarnya tanpa dosa.


Andre mengambil nafas dalam dan membuangnya secara kasar. "Lain kali kalau masuk ruangan orang itu ketuk pintu dulu bodoh." Umpatnya pada sekertaris Gilang, sembari melempar bantal sofa pada tubuh sekertaris nya itu.


Andre berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Andini.


"Kau lanjutkan kerjamu, nanti pulang kerja kita mampir ke butik langganan mama." Andre mengusap pucuk kepala Andini.


"Baiklah."


"Sampai jumpa kakak ipar." Ujar Gilang, sedangkan Andini berjalan keluar dari ruangan itu sembari melambaikan tangannya tanpa menjawab perkataan sekertaris Gilang.


***


Gilang menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat pada Andre yang nampak sudah terduduk di kursi kebesarannya.


"Apa ini?" Tanya Andre sembari melirik sekilas amplop berwarna coklat yang tergeletak di meja kerjanya.


"Laporan keuangan Mono konstruksi kak." Gilang menatap gusar raut wajah Andre yang nampak berubah setelah mendengar perkataannya.


" Benar yang kau pikirkan kemaren kak, ada penyelewengan dana sangat besar hingga berdampak meruginya perusahaan." Ujar Gilang lagi.


Andre menyandarkan kepala sembari memijit kening dengan tangannya.


"Paman tidak pernah berubah." Jawabnya


"Baiklah, kita urus masalah ini setelah pernikahan ku." Andre menggambil amplop coklat itu dan memasukkan nya kedalam nakas.


"Cie, yang akhirnya menikah dengan cinta dalam hatinya." Gilang memicingkan mata


nya sembari tersenyum menggoda ke arah Andre.


"Sebaiknya kakak mempercepat pernikahan, sebelum kakak ipar berubah pikiran dan membatalkannya pernikahan dengan mu kak."


Andre melempar kotak tisu yang ada di depannya ke arah Gilang. "Sialan kamu."


Gilang hanya meringis menahan sakit punggung tangan kanannya, yang terkena lemparan kotak tissue dari Andre.


"Oh ya kak, bagaimana dengan Ita?"


"Siapa Ita?" Andre mengarahkan pandangannya pada Gilang.


"Oh, kau urus saja dia."


"Siap bos."


"Ayo kita berangkat ke butik sekarang."


Andre dan Gilang beranjak meninggalkan gedung Mono Group menuju tempat parkir, dimana Andini sudah menunggu mereka terlebih dahulu.


***


Mobil yang dikendarai Gilang berjalan keluar dari gedung Mono Group. Andini duduk di kursi belakang sembari menyandarkan kepalanya, Sedangkan Andre yang duduk disamping Andini sibuk mengecek pekerjaannya lewat laporan yang ia terima via email.


"Gil, apa masih jauh?" Ujar Andini memecah keheningan yang ada. Andre yang mendengar ucapan Andini langsung menoleh, menatap gadis yang sedang melihat pemandangan luar jendela mobil miliknya.


"Bicaralah padaku, jangan malah bicara sama Gilang."


"Kau saja dari tadi sibuk, tanpa memperdulikan ku sama sekali." Ujar Andini sembari mengerutkan bibirnya.


Andre terkekeh melihat tingkah imut calon istrinya itu." Jadi kau marah, dari tadi aku diamkan."


"Siapa juga yang marah." Andini menangkis tangan Andre yang hendak mengusap kepalanya.


Andre tertawa keras mendengar jawaban dari Andini yang nampak sangat kesal terhadapnya.


Gilang yang masih fokus dengan kemudinya sesekali melirik ke sipon, " Ya Tuhan, beginilah nasib Jones, hanya jadi obat nyamuk." Batinnya


Setelah sekitar 45 menit perjalanan, mobil yang dikendarai Gilang memasuki parkiran sebuah butik. Setelah memarkirkan mobilnya Gilang beranjak berdiri membukakan pintu mobil untuk Andini.


"Terima kasih Sek Gil." Ujar Andini sembari menepuk pundak Gilang, sehingga membuat sekertaris calon suaminya itu nampak kaget dengan perlakuan Andini kepadanya. Karena Gilang tau, Andre bos nya itu tidak akan suka melihat Andini melakukan hal seperti itu pada laki-laki lain.


"Tuh kan sie bucin cemburu." Gerutu Gilang dalam hati setelah menyadari tatapan tajam Andre ke arahnya.


"Ayo masuk." Andini menarik tangan Andre untuk masuk kedalam butik. Dan hal itu membuat Gilang seolah terselamatkan dari terkaman harimau yang sedang cemburu.


"Selamat sore tuan dan nona, ada yang bisa saya bantu." Sapa seorang pegawai butik saat Andre dan Andini memasuki ruangan.


"Mbak bawalah gadis ini mencoba gaun pernikahan yang sudah di pesan ibu Susi."


"Oh, pesanan ibu Susi ya, silahkan nona ikut saya." Andini berjalan memasuki ruangan bersama salah satu pegawai butik, sedangkan Andre nampak mendudukkan tubuhnya di sebuah sofa dan diikuti oleh Gilang sekertaris nya.


Setelah sekitar 10 menit nampak Andini keluar dengan memakai putih warna putih tulang dengan bawahan warna batik yang membuat penampilan gadis itu semakin anggun.


"Bagaimana tuan?" Tanya pegawai butik pada Andre. Andre memicingkan matanya menatap tajam Andini dari kepala sampai ujung kaki.


"Coba liat yang lain mbak." Jawab Andre


Andini pun menuruti permintaan Andre untuk mencoba baju yang lain. Setelah percobaan kedua, ketiga dan keempat Andre selalu menjawab pertanyaan dengan kata-kata yang sama. Laki-laki itu seoalah-olah sedang mengerjai habis-habisan Andini calon istrinya itu.


"Kau saja yang pakai gaun nya." Andini melempar gaun ke lima untuk ia coba kearah Andre dengan nada kesal.


Andre beranjak dari tempat duduknya untuk menghampiri Andin. " Kita coba satu lagi ini Yach, masak aku yang pakai gaun nya. Khan gak lucu." Andre mencubit pipi Andini yang masih nampak kesal.


"Huh, baiklah." Andini akhirnya mengalah dan mencoba gaun lain untuk yang kelima kali.


Andre dan Gilang nampak mengobrol serius sembari menikmati kopi yang disediakan butik itu. Entah apa yang mereka bicarakan, namun dari raut wajah yang terpancar dari keduanya sudah dipastikan mereka sedang membicarakan masalah yang serius.


"Tuan." Suara seorang pegawai butik mengalihkan pandangan Andre dan Gilang.


Di belakang pegawai itu, nampak Andini berdiri dengan gaun pengantin yang terlihat sangat pas dan cantik saat ia kenakan. Hal itu membuat Andre dan Gilang tak mengalihkan pandangannya pada Andini.


"Ya, tuhan kakak ipar cantik sekali." Ujar Gilang yang nampak terpesona dengan penampilan Andini saat ini.


"Hei brengsek, kau Jagan menatap calon istriku seperti itu." Ucap Andre kesal sembari memukul lengan Gilang.


***


Kira-kira seperti inilah penampilan Andini 😁.



*


*


*