A Thousand Miles

A Thousand Miles
Taman Kota



"kamu kenapa sih Rey? pulang-pulang tingkah mu menjadi aneh begini" ucap Doni, salah satu sahabat sejati Reykii.


"dan coba cerita kan, siapa gadis pelayan itu??" tanya Erlan kemudian.


diikuti dengan tatapan menyelidik dari Bagas, pria satu itu tak banyak bersuara sejak tadi. pasalnya ia sudah paham dengan apa yang sedang terjadi. Manusia baru itu sedang dalam fase jatuh cinta. Tunggu saja pengakuan nya sebentar lagi.


"kamu kok diam aja sih Gas?? gak kepo nih?!" Tanya Reykii saat melihat sahabat nya yang satu itu hanya diam saja sejak tadi.


"untuk apa bertanya, aku sudah tau situasi ini. kamu sedang jatuh cinta kan Rey?" ucap Bagas seraya memberi pertanyaan.


Erlan dan Dobi seketika tertawa lebar mendengar penuturan dari Bagas. mereka tak terlalu percaya ucapan pria itu.


"Hei Gas?? bercanda??" Tanya Erlan masih diiringi dengan tawaan.


sedangkan Doni juga masih dalam fase ngakak nya.


"iya tuh, mana mungkin si Batu Bernafas ini bisa jatuh cinta" ucap Doni sambil menatap Bagas, sedang kan pria itu hanya cuek sambil menggidik kan bahu nya.


"hei!! kalian ini keterlaluan, mana mungkin aku tak bisa jatuh cinta. aku ini juga manusia yang berperasaan tauu!" ucap Reykii tak terima atas kalimat yang diucapkan oleh Doni tadi.


"jadi, kamu beneran jatuh cinta Rey??" tanya Erlan agak terbata.


"off Crouse , aku suka sama si pelayan tadi. Gadis yang begitu imut" ujar Reykii sambil tersenyum kecil mengingat buku harian gadis itu.


"Hah??!! Seriusss??" ucap ketiga sahabat Reykii bersama an.


saat tengah bersiap-siap untuk mengeluarkan pertanyaan lagi, mereka dikejutkan oleh kedatangan Eireen sambil membawa nampan berisi makanan yang mereka pesan.


"Ini pesanan kalian, silahkan dinikmati" ucap Eireen sambil menata beberapa piring di meja mereka.


keempat orang pria itu seketika terdiam, menunggu Eireen pergi untuk bertanya lagi kepada Reykii tentang keseriusan ucapan nya barusan.


"hah, untung saja gadis ku itu tak dengar, bisa-bisa ngamuk lah dia" gumam Reykii pelan sambil mengusap-usap kedua telapak tangan nya.


"jadi dia Rey orang yang kamu suka?" tanya Erlan ketika melihat Eireen yang sepenuh nya telah hilang di balik pintu.


"huum, gimana?? cantik kan??" tanya Reykii antusias.


"lumayan sih, tapi kalo diliat dari statusnya. kayaknya dia orang dari kalangan biasa" ucap Doni yang diikuti oleh tatapan nyalang dari Reykii.


"heiii?? aku tidak peduli dengan kelas sosial nya. yang aku tau aku suka sama dia, dia harus jadi milik aku" ucap Reykii penuh ketegasan. membuat ketiga sahabat nya terdiam sekaligus tercengang.


akhirnya keempat orang pria itu larut dalam canda dan tawa, mereka tak lagi membahas tentang perasaan gila yang baru saja Reykii rasa.


sementara itu, sejak tadi Eireen tak bisa fokus bekerja lantaran kedua mata nya selalu ingin melihat Reykii. Sama-sama gila mereka berdua ini?!


...🐻🐻🐻...


Senja telah menghampiri, Eireen langsung pulang ketika shift nya telah selesai.


Sungguh melelahkan, Gadis itu langsung berjinjit memasuki kamar mandi untuk menyegarkan tubuh nya yang terasa begitu lengket.


*segarnya" ucap Eireen sambil mengeringkan rambut nya yang basah menggunakan handuk kecil. gadis itu lalu duduk di tepian ranjang.


Pandangan matanya terhenti pada kotak kecil berwarna hitam yang tengah bertengger manis di atas meja belajar.


Ia meraihnya dan menatap kotak itu lekat-lekat. Ingatan nya kembali meruak pada kejadian tadi siang.


"Reykii" ucap gadis itu sambil menatap kotak tersebut. Niat nya untuk membuka kotak itu terhenti kala ada panggilan masuk ke handphone miliknya..


Eireen menatap layar handphone yang menyala itu " nomor yang sama dengan tadi siang, siapa pemilik nomor menyebalkan ini? " gerutu Eireen sambil menarik ke atas tombol hijau.


"hmm?" tanya gadis itu dengan suara malas, siapa yang berani mengganggu malam Seorang Eireen?


"Hai Reen.. apa kamu sudah tidur?" suara dari seberang terdengar tak asing baginya.


Damn It


"Reykii" desis gadis itu pelan namun masih terdengar oleh si penelpon.


"kamu ingat namaku Reen?" tanya Reykii dengan suara renyah


" ya" jawab Eireen acuh. Namun jantungnya berdetak tak karuan.


HENING


"selamat malam Reen" ucap Reykii dari seberang setelah beberapa saat.


HENING LAGI


"darimana kamu mendapatkan nomorku?" Tanya Eireen membuka pembicaraan.


Tut.. Tut... Tut..


sambungan terputus.


"dasar menyebalkan" umpat Eireen dalam hati.


Aku langsung menaruh kembali handphone nya ke atas meja belajar. Eireen segera membaringkan tubuhnya dan mencoba memejamkan mata.


Sangat sulit, bayangan pria itu terus menghantui gadis muda itu. namun gadis itu memaksa untuk langsung terlelap dalam tidur.


...🐻🐻🐻...


Pagi menyambut dengan wajah mendung, hawa dingin meruak masuk seakan menguliti tubuh mungil nya, gadis itu mengurungkan niat nya untuk melakukan ritual pagi.


Ia memilih untuk kembali menarik selimut tebal berwarna coklat yang tergeletak sembarangan di atas tubuhnya. gadis itu menariknya hingga menutupi setiap jengkal kulit putih nya.


ia memejamkan matanya kembali, Berharap bahwa rasa dingin yang menusuk ini bisa sedikit berkurang.


Alih-alih mendapat ketenangan, gadis itu justru kembali masuk ke dalam dunia fantasi yang memenuhi setiap sudut otak mungil nya.


Ia membuka matanya saat Hujan mulai turun, kala awan hitam itu tak lagi mampu membendung uap air miliknya, Ia menumpahkan semua air matanya jatuh mengenai wajah bumi.


gadis itu mengeluarkan kepala nya dari balik selimut kala indra pendengaran nya berhasil menangkap suara dentingan air yang semakin keras mengenai atap.


Ia menyunggingkan lengkung tipis di bibir nya. segera gadis itu membuang tak beraturan selimut yang tadinya menutup habis setiap jengkal tubuhnya. Ia segera melangkah kan kakinya menuju ruangan 2x3 mΒ² yang ada di bagian belakang kost an.


Ia berjinjit dari kamar mandi dan berdiri mematung di depan lemari, menatap tumpukan baju dengan warna yang sama, Hitam. Cukup lama ia termenung sampai akhirnya ia tersadar karena seekor semut menggigit kakinya.


Damn It!


Gadis itu segera memakai pakaian, Sebagai atasan, ia memakai Hoodie berwarna hitam dengan gambar tengkorak di belakang nya, dan celana Jins hitam sebagai bawahannya.


gadis itu kemudian berlalu dan menutup daun pintu lemari seraya mendekatkan wajahnya tepat di depan cermin yang tertempel di lemari itu juga, ia memandang kosong pantulan wajahnya sendiri


ia segera meraih sisir berwarna hitam yang tergeletak di atas meja belajar miliknya. Menyisir rambut nya yang berantakan. Merapikan nya dengan mengikat rambut nya bak ekor kuda.


Gadia itu hanya memoles wajahnya dengan sedikit bedak dan liptint. ia segera melangkah keluar.


Hujan semakin deras dan gadis itu hanya acuh berjalan di bawahnya. Ia menikmati setiap tetes nya yang jatuh mengenai tubuh tubuh ringkih gadis itu.


Ia berjalan menyusuri gang sempit yang mengarah pada taman kota yang sangat sepi karena hujan.


dipandangi nya setiap sudut taman itu. Ia selalu bermimpi bisa bermain ke taman bersama seseorang yang menyayanginya.


telat di tengah-tengah hujan, Eireen mulai menari. menikmati indahnya kesunyian, Diiringi nada mellow yang bersumber dari kafe yang tak jauh dari posisi nya saat Ini.


Eireen lelah, gadis itu sangat lelah. ingin sekali berteriak mengatakan pada dunia bahwa ia ingin menyerah, Ingatan nya kembali merosok jauh kembali kepada masa lalu. gadis itu tertunduk lesu menatap pantulan dirinya di genangan air.


'Sungguh Menyedihkan' ucap Eireen dalam hati seraya tersenyum miring.


"Apa yang kamu lakukan Reen?" suara berat itu menuntun Eireen untuk membalik kan badan.


"kamu bisa sakit kalau terus bermain hujan, Bodoh" sambung pria itu sambil mengeratkan rangkulannya pada bahu kanan Eireen. l


Eireen nasih terdiam menatap pria itu kosong, sembari melangkahkan kaki nya sejajar dengan langkah pria tersebut.


"Reykii mengapa kau selalu bersama ku saat aku mulai ingin jatuh??"


^^^-Eireen^^^


...🐻🐻🐻...


.


.


.


see you again guys... Author so miss you allπŸ’•πŸ’•