A Thousand Miles

A Thousand Miles
Gadis Pengemis



Mobil berwarna gelap itu terus melaju membelah jalan yang sangat padat. Beberapa orang terlihat duduk di bawah halte bus. Ada juga yang berjalan menerobos di bawah teriknya matahari. Eireen dan Ara duduk berdampingan dalam diam, kedua mulut gadis itu seperti terkunci. Tak ada pembicaraan di antara mereka.


Ara sibuk dengan ponselnya, sementara Eireen sibuk melihat keluar kaca mobil. memperhatikan orang-orang yang tengah berlalu lalang. Kedua mata Eireen melirik gadis yang tengah duduk di sebelah nya. Hembusan napas dalam itu terdengar begitu nyata.


Eireen kembali menatap ke luar kaca, kali ini mobil yang mereka tumpangi berhenti disebuah lampu merah. Orang-orang berpakaian lusuh itu segera mendekat dan menengadah kan telapak tangan nya.


Seorang gadis kecil menghampiri mobil Ara, pakaian gadis itu begitu lusuh dan bau tubuhnya pun begitu tak sedap. Sehingga Ara meminta sopir pribadi nya untuk menutup jendela mobil.


"Pak tolong tutup jendela nya, anak itu bau sekali" Pintar Ara yang langsung diikuti oleh sang supir.


Eireen langsung menoleh menatap Ara, bukankah itu menyakiti perasaan gadis kecil itu?? Jika memang ingin pengemis itu pergi, Ara bisa memberi nya uang. Tak perlu banyak, seribu rupiah pun sudah cukup. Gadis kecil itu pasti akan pergi setelah menerimanya.


"kenapa kau seperti itu Ra?? pak tolong buka lagi jendela nya" Ucap Eireen kemudian, Ara hanay mengernyit alisnya heran, kemudian sangat supir segera membuka jendela mobil itu lagi.


"Dek, tunggu!!" Eireen memanggil gadis kecil yang sudah berjalan beberapa langkah dari tempat ia berdiri tadi.


"Eireen.... Apa yang kau lakukan??" Ucap Ara bertanya meski gadis itu sudah tau apa yang akan Eireen lakukan.


Eireen tak memperdulikan ucapan Ara, tanpa menoleh, Eireen langsung saja merogoh saku rok sekolah nya. Tangan gadis itu mengeluarkan uang dua puluh ribu rupiah lalu memberikan nya kepada gadis kecil itu.


"Terimakasih kasih ya kak" Senyum manis segera terbit dari kedua sudut bibir gadis pengemis itu.


Eireen kembali duduk seperti posisi semula, gadis menoleh menatap Ara yang sejak tadi masih menatap nya.


"apa??" Ucap Eireen menatap Ara.


"kenapa kamu memberikan uang kepada pengemis?? mereka itu penipu Reen. Mereka hanya berpura-pura saja" Ucap Ara dengan nada kesal.


Eireen menatap Ara dalam, gadis cantik itu menghembuskan napas nya dalam.


"Tidak semua seperti itu, gadis kecil itu berbeda" Ucap Eireen biasa.


"apanya yang beda Reen?? aku tau bahwa mereka itu disuruh oleh orang tua mereka. Mereka hanya ingin mendapatkan uang tanpa bekerja" Ungkap Ara lagi, gadis itu terlihat agak tersulut emosinya.


"sudahlah, kau tak akan mengerti karena kau tidak pernah memperhatikan. Aku melihat gadis kecil itu keluar dari dalam apotik sambil menangis. Dan ia melihat lampu merah sedang menyala, gadis pengemis itu segera menghapus air matanya dan berlari ke jalan ini. Kau tau apa arti nya itu??" Ucap Eireen sambil menatap tajam Ara. Kedua mata Eireen seperti mengobarkan api.


Ara hanya diam tanpa berkomentar, karena memang ia tak melihat kejadian itu.


"kau tidak akan pernah tau karena kau tak pernah dalam posisi seperti itu Ra, hidupmu sejak kecil selalu berkecukupan. Kau tidak tau betapa berharganya uang dia luluh ribu untuk mereka" Ucap Eireen lagi. kali ini gadis itu menatap Ara dengan mata marah nya.


"Kau tidak akan pernah melihat semua pemandangan menyakitkan itu karena kau hanya diam dalam kendaraan mewah mu dan menatap ponsel canggih mu itu" Ucap Eireen lagi sambil mengarah kan pandangan nya ke dapan.


Ara diam, gadis itu seperti tertampar oleh keadaan. Ia sadar bahwa ucapan Eireen benar, ia memang tak pernah melihat jalan ketika dalam perjalanan.


Ara selalu sibuk dengan ponsel nya tanpa memperdulikan sekitarnya. Benar-benar tak berguna.


Ara kemudian melihat ke arah gadis pengemis itu berlari. Ia melihat betapa senangnya gadis kecil itu Hanya dengan uang dua puluh ribu rupiah saja.


siapa yang mengira bahwa sopir pribadi Ara melebarkan senyum nya. Sang sopir merasa bahwa orang seperti Eireen adalah orang terbaik di dunia ini. Peduli akan hidup orang lain.


...🐻🐻🐻...


Eireen dan Ara sampai di sebuah gedung bertingkat yang cukup mewah. Meraka berdua telah sampai di depan Apartemen milik sepupu Ara.


Tanpa menunggu lama kedua gadis itu segera melangkah masuk. Namun saat tiba di depan pintu lift, kaki Eireen mendadak berhenti.


"kenapa??" Tanya Ara menatap Eireen dari dalam lift.


"aku tidak bisa ikut, aku harus pergi sekarang" ucap Eireen sambil menatap arloji di tangannya.


"hah?? ada masalah apa?" Tanya Ara bingung sedangkan pintu lift sudah hampir tertutup.


"sampaikan salam ku kepada Reykii" Ucap Eireen sambil melangkah berbalik menuju arah pintu keluar. Ara melihat kepergian Eireen dengan perasaan bingung nya. Ada masalah apa sampai Eireen tiba-tiba pergi.


Kini Ara telah berdiri di depan kamar apartemen Reykii. Gadis itu segera menekan sandi pintu tersebut lalu masuk ke dalam setelah pintu tersebut berhasil terbuka.


"Rey... " Panggil Ara setelah melihat keberadaan sang sepupu.


"kak Ara, ngapain kesini??" Tanya Reykii sambil berjalan mendekati sang kakak sepupu.


"memangnya tidak boleh?? kakak kan hanya ingin melihat kondisi mu. Katanya sakit." Ucap Ara agak sewot. Gadis itu segera melangkah menuju arah dapur lantaran ingin minum.


Reykii mengikuti langkah Ara, Reykii kemudian duduk di salah satu kursi meja makannya.


Ara membuka tudung saji yang hanya menampilkan beberapa wadah makanan yang sudah kosong.


"kamu makan semua nya Rey?? Kata Eireen tadi dia masak banyak loh" Ucap Ara sambil melihat tak percaya.


"Aku lapar, jadis aku habiskan saja semua nya" Jawab Reykii tak perduli.


"Isss, padahal aku pengen banget nyobain masakan nya Eireen" Ucap Ara lagi sambil cemberut.


"Kak, Eireen tadi ngapain saja di sekolah?" Tanya Reykii sambil menampilkan Puppy Eyes nya. Ara menatap sepupunya itu dengan jengah.


"Mana kakak tau, kakak kan bukan ibunya." Jawab Ara acuh.


"serius dong kak, maksud aku tuh masa kakak nggak liat Eireen. Pas di dalam kelas loh" Ucap Reykii lagi. Ara terlihat sedikit berpikir.


"Tadi Eireen tuh agak gimana gitu waktu Bu Lia minta kami buat bikin tulisan tentang Keluarga. Dia lama banget ngeliatin kertas nya. Abistu dia liat HP. kayak nya bikin tugas itu liat di Google deh" Ucap Ara panjang lebar.


Reykii hanya diam, itulah yang selalu buat pikirkan. Ia takut bahwa Eireen sedih atau sedang tak memiliki teman untuk bicara. Reykii takut bahwa Eireen selalu seperti itu. Dan ternyata Eireen memang seperti itu.


...🐻🐻🐻...