A Thousand Miles

A Thousand Miles
Sudah Ke Dua Belas Kali Nya



Hari semakin sore, matahari mulai turun ke ufuk barat. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, Eireen masih berjalan memasuki sebuah desa yang terletak cukup jauh dari jalan raya. Gadis itu melangkah kan kaki nya melewati jalan setapak yang terbuat dari tanah.


Beberapa menit kemudian tubuh gadis itu telah sempurna berada di bawah pohon beringin besar yang terletak di tepi danau. Eireen masih berdiri termenung menatap kosong ke depan, senyum yang tadinya sempat merekah kini layu seiring bertambah gelapnya hari.


Rasa kecewa itu kembali menggerogoti perasaan nya, kenapa ia harus kecewa lagi? kenapa pria yang ia tunggu tak pernah kembali? Ia letih, lelah menunggu kata suatu hari itu terwujud tanpa arti ambigu yang selalu membuat nya ingin jatuh.


Kapan janji itu bisa di tepati? Kapan rindu nya bisa berlabuh tanpa takut runtuh? Kaki Eireen mulai menekuk, gadis muda itu kemudian berjongkok tak dapat menahan beban tubuhnya yang terasa semakin bertambah.


Mata sendu Eireen kembali memancarkan kilatan kecewa dan marah, sulit untuk di tahan bahwa cairan bening itu ingin segera luruh membasahi pipinya.


Ia kembali mengingat peristiwa dua belas tahun lalu dengan perasaan perih yang mendera hati terdalam nya.


"Adek tunggu ya, kakak pasti pulang" Ucap seorang anak laki-laki berusia delapan tahun.


Sedangkan seorang gadis kecil yang menjadi lawan bicara nya tampak menatap dengan mata sendu.


"kakak janji kakak pasti pulang, adek tunggu kakak ya!!" Ucap anak itu lagi sebelum keluarga barunya memanggil dan meminta ia untuk segera pindah.


Pria kecil itu menatap kembali adiknya yang hanya terdiam tanpa sepatah kata pun. Ia mendekatkan bibirnya lalu mengecup pelan pipi sang adik dengan sayang sebelum benar-benar berlalu dari hadapan gadis mungil itu.


Eireen menatap semua itu dengan perasaan nya yang tak karuan. Gadis kecil berusia enam tahun itu harus merelakan kepergian sang kakak. Ia menangis tersedu-sedu melihat mobil berwarna putih itu perlahan menghilang menyisakan rasa kehilangan yang tak pernah padam.


Eireen kecil terduduk sambil menangis meraung-raung, kedua tangan mungilnya terus saja memukul-mukul tanah tanpa jeda. Air mata terus meleleh membasahi setiap jengkal pipinya.


Belum sempat ia menjawab pernyataan kakak nya, tapi pria kecil itu telah pergi meninggalkan nya sendiri. Ingin ia memaki dan mengucapkan penolakan yang teramat. Tapi mulut kecil itu tak mampu mengucapkan apa yang sedang ia rasakan.


Hingga dua belas tahun kemudian ia tetap kembali ke tempat perpisahan itu dengan rasa kecewa yang terus bergelayut memenuhi rongga hatinya.


Ia tak tahu harus mencari keberadaan sang kakak kemana, Satu-satunya cara adalah dengan menunggu pria itu di tempat perpisahan ini. Setiap tanggal yang sama pada tahun berikutnya.


Eireen meremas jarinya dengan lelehan air mata yang tak kunjung reda sejak tadi. Ia kembali berjalan menyusuri jalan setapak yang tadi ia lalui. Kedua netra nya menatap bangunan tua yang masih terlihat kokoh itu dengan tatapan nyalang.


Kenangan pahit itu lagi-lagi menghampiri nya, ia tak tahu harus bagaimana. Mengingat semua perlakuan orang-orang di sana membuat nya tak ingin mengenal tempat itu lagi.


Berjuang keras untuk bertahan hidup meski badai sering kali menerpa nya. perasaan takut yang sering kali menggerogoti kepercayaan dirinya.


...🐻🐻🐻...


Eireen kembali ke tempat semula dimana ia seharusnya berdiri dan bertahan hidup. Gadis muda itu telah duduk di dalam sebuah bus seperti beberapa jam yang lalu.


Matanya menatap keluar dengan kabut yang sedang menutupi rongga hati nya. Tak terasa lelehan bening itu kembali mengalir tanpa permisi, kenapa ia harus menjadi lemah begini? Kenapa ia tak pernah bisa benar-benar kuat? Ia benci menangis meski pada akhir nya memang itulah yang selalu menjadi jawaban dari rasa kecewa nya.


Bus yang ditumpangi Eireen akhirnya tiba di halte yang berada tak jauh dari rumah kontrakan nya. Kaki gadis itu melangkah keluar, Ia berdiri di depan halte bus dengan hembusan nafas yang terdengar begitu putus asa.


Ia kembali menatap langit malam ini, bintang-bintang yang terlihat begitu asik bersama teman-teman nya.


Tanpa menunggu lagi ia segera melangkah menuju gang sempit yang terletak di balik gedung-gedung pencakar langit yang terlihat begitu kokoh.


Samar-samar mata gadis itu menangkap sosok yang tak asing tengah duduk di depan teras kontrakan nya dengan kepala yang menunduk. Gadis itu menyipitkan bola matanya guna mempertajam penglihatan yang hanya dibantu oleh cahaya yang begitu remang.


"Reykii.. " Gumam Eireen pelan saat tubuh gadis itu telah sempurna berdiri di depan teras kontrakan nya.


Pria yang bernama Reykii itu seketika mendongak menatap pemilik suara yang begitu ingin ia dengar itu.


Senyum nya terkembang seperti bocah yang melihat sebuah permen gula. Tubuh tinggi itu segera bangkit dari duduknya. Kini mereka berdua hanya diam dalam tatap-tatapan.


"Ada apa?" Tanya Eireen kemudian dengan nada suara tak bersahabat.


Reykii memperhatikan kondisi tubuh gadis itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tatapan yang sedikit memprihatinkan.


"Belum bertemu juga?" Tanya Reykii keluar dari dari topik pembicaraan semula.


Eireen menautkan satu alisnya, apa maksud dari pertanyaan pria satu ini? Lama gadis itu diam berkutat dengan pikiran nya.


Hingga suara berat Reykii kembali menarik alam bawah sadar nya.


"Aku tau kamu pergi ke Desa itu lagi, apakah kali ini tetap sama?" Reykii menelisik membaca raut wajah cantik yang ditekuk itu dengan seksama.


Eireen menghembuskan napas nya dalam, sudah bisa ditebak bahwa usaha nya kali ini juga tak membuahkan hasil.


Reykii segera menghampiri tubuh gadis itu, lalu menuntunnya untuk duduk di bangku panjang yang ada di depan kontrakan Eireen.


"Apa kau tau? ini sudah ke dua belas kali nya aku kesana. Kenapa ia tak pernah menepati janjinya?" Eireen berucap dengan mata yang sudah sejak tadi berair ingin segera meluncurkan buliran bening itu dengan bebas.


Reykii hanya diam tanpa berkomentar, sekeras apapun ia ingin bicara dan memberi nasehat. Tetap saja itu tak berguna karena ia tak pernah merasakan hal yang sama.


"Aku, aku tak mengerti kenapa seseorang dengan begitu mudah berjanji. Apa mereka berjanji hanya untuk merasa lebih tenang? bukan untuk menepati nya?" Kali ini Eireen telah menangis dengan sempurna. lelehan bening itu terus mengalir tanpa jeda membuat nafasnya tersengal-sengal.


Reykii segera merebahkan kepala gadis itu di pundak kokohnya. Setidaknya ini akan membuat gadis itu merasa lebih nyaman. Tak ada penolakan dari Eireen, seperti nya gadis itu benar-benar lelah dengan segala kondisi buruk yang menerpa nya.