
Eireen masih setia menangis di pundak Reyki, menumpahkan segala kekalutan hatinya yang selama ini terus saja tertahankan.
Sesekali Reykii menepuk-nepuk punggung Eireen pelan, memberi ketenangan yang selama ini tak pernah dapat ia rasakan.
Tadi siang saat Ara mengatakan bahwa Eireen tiba-tiba pergi, pikiran Reykii sudah bisa menebak kemana gadis itu pergi. Benar saja, ia kembali ke desa itu lagi, menunggu di pinggir danau itu lagi. Tanpa harapan yang selalu ia harapkan. Tidakkah itu semua begitu menyakitkan?
Perlahan Eireen mulai menegakkan kepala nya yang sejak tadi terus menempel di pundak Reykii.
Kedua matanya kini menatap wajah pria yang tengah duduk di samping nya dengan pandangan mata yang masih lurus ke depan.
"Apa sudah lebih baik?" Tanya Reyki membuka suara. Kali ini kepala pria itu telah menoleh menatap wajah cantik yang tengah murung dengn begitu sendu.
Eireen tak menjawab, gadis itu hanya menganggukkan kepalanya pelan. mencoba meresapi keberadaan Reyki yang harus ia akui bahwa itu sangat menenangkan.
Reykii tersenyum simpul melihat anggukan kecil itu, hatinya sedikit senang mengetahui bahwa perasaan Eireen sedikit membaik. Bukankah itu berkat kehadiran nya?
"Menunggu memang melelahkan, kita tidak tahu harus sampai kapan kita bersabar" ucap Reykii bermonolog sendiri, meski pria itu menyiratkan kalimat yang di tujukan kepada Eireen.
"Aku tau, meski aku sudah tau bahwa dia tak akan kembali. Aku masih tetap akan menunggunya di sana" ucap Eireen.
Reyki terlihat menghela nafasnya dalam, benar saja . Ia juga tau bagaimana rasanya menunggu tanpa sebuah kejelasan. Meski disini penantian nya tak seberat yang di hadapi wanita itu, tapi rasanya akan sama saja. Melelahkan.
"Ayo" Reyki berdiri dari duduknya, tangan pria itu seketika menggenggam erat lengan kanan Eireen.
kepala gadis itu mendongak menatap sang pemilik tangan kekar.
"kemana?" Tanya Eireen masih dengan suara sendu nya.
"kita cari makan, kamu pasti belum makan sejak pagi" Ucap Reykii menatap gadis itu lembut. Eireen tak menjawab, tapi tubuh gadis itu bergerak mengikuti langkah panjang Reykii.
...****************...
Disinilah mereka berdua, di sebuah warung pecel lele kecil di pinggir jalan. Awalnya Reykii sama sekali tak berniat untuk singgah ditempat yang sama sekali belum pernah ia singgahi itu, namun gadis muda yang ia bawa tersebut sangat bersikeras dan berjanji bahwa rasa makanan yang disajikan warung pecel lele tersebut sama seperti di restoran yang sering Reykii kunjungi.
"kita duduk nya di mana Reen?" Tanya Reykii sedikit bingung saat mendapati semua kursi sudah terisi penuh.
"emmm" Eireen terlihat melihat sekeliling mencari sesuatu yang seharusnya sudah warung itu gelar sedari tadi.
Bukannya menjawab pertanyaan Reykii, Eireen malah menoleh menatap salah satu karyawan yang sedang memotong mentimun.
"permisi, apakah ada tikar? kami ingin duduk dibawah pohon itu" Ucap Eireen sambil menunjuk sebuah pohon yang cukup rindang.
"ohh ada, tunggu sebentar ya" Ucap karyawan tersebut lalu berlalu pergi meninggalkan dua anak muda itu.
Beberapa saat kemudian, tangan kanan karyawan berusia sekitar tiga puluh tahun itu membawa sebuah tikar kecil berwarna kuning.
Eireen mengambil tikar kecil itu dengan balik tersenyum juga, hanya senyum kecil namun merubah mimik muka Reykii. Yang benar saja, pria muda itu sedikit tercubit hatinya.
kedua nya berlalu menuju pohon rindang itu setelah kedua nya memesan dua porsi menu. Eireen memilih makan pecel lele, sementara Reykii, pria itu memesan seporsi bebek goreng, katanya ia belum pernah makan lele goreng, dan tidak berniat untuk mencoba nya. aneh, padahal itu enak sekali.
Eireen membentang tikar kecil itu segera, terdengar gerutu kecil dari bibir Reykii saat yang bersamaan dengan itu.
"kenapa kamu?" tanya Eireen tanpa menoleh, tangan kecil gadis itu masih sibuk membenahi tikar yang belum tergelar dengan rapi.
"kenapa tidak dia saja yang membentang nya? kenapa malah kita? kita kan pelanggan disini" Ucap Reykii sedikit keras, pria itu ingin karyawan tadi berasa tak enak hati, jahat sekali memang.
"kenapa berkata begitu? dia bisa tersinggung dengan ucapan mu itu" Ujar Eireen melotot malas.
"biar saja, aku memang berniat begitu" ucap Reykii lagi.
Eireen hanya diam tanpa menimbali ucapan pria itu, sekitar setengah jam yang lalu Eireen merasa Reykii sebagai sosok yang begitu membuat nya nyaman, menangis di punggung pria itu membuat nya merasa seperti begitu di sayangi. Namun sekarang? lihatlah betapa menyebalkan nya dia.
"duduk lah, tidak capek berdiri terus seperti itu?" Ucap Eireen pada akhirnya, Reykii segera duduk karena kaki nya sudah mulai terasa pegal.
Eireen duduk menatap Orang-orang yang tengah berlalu lalang, matanya tak henti-henti nya mengikuti kendaran yang tengah melintas.
"apa yang kamu lihat?" Ucap Reykii mengikuti arah pandang gadis pujaan hatinya itu.
"Tidak ada, hanya melihat orang-orang berlalu" Jawab Eireen tanpa mengalihkan pandangan nya.
"apa kamu masih sedih?" tanya Reykii lagi sedikit hati-hati.
"tentu saja masih, mana ada orang yang bisa menyembuhkan kekecewaan nya begitu cepat?" Ucap Eireen sedikit panjang.
"Yah aku tau, maaf karena sudah mengingatkan mu lagi tentang hal itu" ucap Reykii sedikit tak enak hati. membuat Eireen terpaksa mengalihkan pandangan nya tepat didepan wajah pria itu.
Eireen tersenyum manis kali ini, tak biasanya gadis itu bisa tersenyum begitu tulus seperti itu, ada apa?
"It's Oke, aku sudah lebih baik, terimakasih karena sudah menemani ku" Ujar gadis itu lalu kembali menatap jalan.
"cantik jika tersenyum begitu, aku suka" Ucap Reykii menatap wajah cantik milik gadis di samping nya itu. Lagi-lagi jantung nya berdebar kencang tak menentu. membuat sesak seakan tak ada udara yang bisa ia hirup.
...****************...
Orang-orang sering berkata bahwa kebahagiaan selalu ada di manapun kamu berada, hanya saja kamu tak pernah menyadari nya.
Happy Reading ❤❤❤