A Thousand Miles

A Thousand Miles
Harus Sampai Kapan?



Eireen berlalu dari apartemen Reykii dengan langkah kaki tergesa. Gadis muda itu memperlihatkan wajah cemas nya, bagaimana mungkin ia bisa melupakan hari penting ini?


Eireen berdiri di depan halte bus, beberapa kali ia melihat arloji yang melingkar manis di tangannya. Bus yang ia tunggu akhirnya datang, Eireen langsung naik dan segera mencari tempat duduk yang kosong.


Gadis itu menghela nafas nya dalam, rasa lelah dan juga penat bercampur jadi satu. Tiba-tiba ia mengingat Ara, teman sekelasnya yang dijuluki putri sultan.


Enak sekali jadi orang kaya, tidak perlu bekerja dan memikirkan apa yang harus di mana besok. Setiap kali bangun, semua sudah siap, tidak perlu gelisah sepanjang malam menanti esok tiba.


Eireen menyandarkan Kepala nya ke jendela bus, jujur Eireen sangat mengantuk. Ia tak tidur semalam karena menjaga Reykii yang sedang sakit. Tapi jika dipikir lagi, tidak semua hidup orang kaya menyenangkan.


Mata gadis itu mulai meredup, ia tak dapat menahan kantuk nya lagi. Eireen benar-benar terlelap dalam tidur tak sengaja nya itu.


Bus berhenti lagi di persimpangan, Eireen sedikit terganggu tapi matanya masih setia menutup seperti sedia kala. Kursi kosong di samping Eireen tiba-tiba terisi oleh seorang pria.


Pria muda itu menatap wajah lelah Eireen, ia begitu merindukan sosok gadis itu. Bertahun-tahun sudah mereka berpisah, sulit sekali menemukan keberadaan nya. Meski akhirnya mereka bertemu kembali, tapi tetap saja jika mengingat perpisahan itu rasa sesak masih terasa.


Pria itu mengalihkan kepala Eireen untuk bersandar di pundak nya. Ia ingin Eireen berbagi lelahnya bersama dia. Lewat sandaran pun tak mengapa. Eireen terlihat sedikit menggeram, mungkin tidur nya sedikit terusik. Tapi segera ia tepis perasaan yang mengganggu Eireen dengan menepuk-nepuk pipi gadis itu.


Ia berjanji akan selalu menjaga adik nya, meski dari jauh sekalipun. Eireen tak pernah benar-benar sendirian, pria tadi adalah kakak Eireen yang selalu menjaga nya. Dimana pun ia berada.


Eireen masih melanjutkan perjalanan nya yang masih sangat jauh. Gadis itu sempat terbangun dari tidurnya karena merasa ada sesuatu yang hilang.


Ia melihat ke kanan dan kiri, memastikan sesuatu tidak ada yang hilang.


"Sepertinya tadi ada kakak" Gumam Eireen pelan, raut sedih bergelayut tak beraturan di mimik wajah gadis itu.


Eireen menatap kosong ke luar jendela, harus berapa tahun lagi dia menunggu?? ini sudah lebih dari dua belas tahun. Apakah ia harus selalu menepati keinginan kakak nya?? Ia lelah, jujur saja ia begitu lelah. Bagaimana jika ia benar-benar menyerah?? sungguh menyebalkan.


Manik gadis itu menyisir sepanjang jalan, menatap setiap objek yang ditampilkan. Eireen menghela nafas dalam nya, perasaan rindu yang sudah terlalu lama itu seperti ombak yang sewaktu-waktu bisa saja menenggelamkan nya.


Eireen memilih diam tanpa mencari setiap detail kepergian kakaknya, meski ia mahir dalam dunia IT sekalipun. Gadis belia itu memilih untuk tidak mencari tahu apapun.


Eireen melanjutkan tidur nya yang sempat terputus, mata gadis itu kembali menutup seperti tadi, kini gadis itu kembali larut dalam tidur nya.