A Thousand Miles

A Thousand Miles
Tidak Bisa Menjadi Matahari Mu



"Bintang itu seperti aku pada sepuluh tahun lalu. Kecil dan sendirian, Takut setiap kali malam akan datang. Aku terus bersembunyi dibalik tempat yang jarang orang bisa menyadari keberadaan nya" ucap Eireen sambil terus menatap bintang kecil itu. Reykii diam sambil terus memasang pendengaran nya. menunggu Eireen melanjutkan kalimat nya.


"Aku takut setiap kali orang lain menatap ku. Aku benci di kasihani, aku benci setiap kali ada orang yang peduli padaku" ucap Eireen dengan mata yang masih tetap menatap bintang kecil tersebut.


Reykii terdiam, apa yang harus ia katakan??


"apa kau tak pernah punya seseorang yang kau sayangi??" Tanya Reykii


"Aku tak punya waktu untuk menyayangi orang lain. Aku hanya hidup untuk diriku sendiri. untuk bekerja dan bertahan dari apapun yang bersiap menimpaku" Ucap Eireen menjawab pertanyaan Reykii.


"Tapi sekarang kau tak perlu takut lagi, aku akan selalu ada untuk mu. Menemani mu kemanapun kau mau. Aku akan selalu mendukung mu dan berada di samping mu" ucap Reykii. Pria itu mengalihkan pandangan nya dari langit. Ia melihat wajah Eireen yang masih terus menatap langit


Eireen tertegun sesaat setelah mendengar ucapan pria itu. Tubuhnya berdesir tak karuan mendengar ucapan pria satu itu.


"Kau saja belum bisa mengendalikan emosi mu, bagaimana bisa melindungi aku??" Ucap Eireen sambil mengingat kejadian di arena ring tinju tadi sore.


Reykii tersenyum menatap Eireen. entah kenapa ia merasa bahwa ucapan Eireen tidak seperti merendahkan, tapi seperti seseorang yang ingin dilindungi tapi masih takut akan kecewa.


"Aku janji, aku akan berusaha jadi yang lebih baik lagi untukmu" Ucap Reykii sambil berjanji. Eireen yang mendengar kalimat itu pun hanya tersenyum kecut.


Melihat Eireen yang seperti nya tidak ingin menjawab ucapan nya. Reykii memilih untuk kembali menatap langit.


pria tampan itu kembali membuka suara.


"Apa kau tau?? dulu setiap kali aku melihat langit, aku selalu membencinya. Aku benci melihat bintang yang begitu indah kenapa harus di tempatkan di tempat gelap. Aku selalu berpikir hidup ku juga begitu, aku selalu merasa dunia ku begitu hitam dan gelap" Ucap Reykii memberi jeda pada kalimat nya


Eireen masih diam tanpa berkomentar, ia sepertinya mulai mengerti alur dari perbincangan ini.


"Aku tak mengerti kenapa Tuhan memberi ku semua itu dalam waktu yang begitu lama. sampai aku sadar bahwa Tuhan ingin aku bertemu dengan orang yang tepat. orang bisa mengerti diriku" Ucap Reykii menyelesaikan kalimat nya.


"Aku suka gelap, tidak bisa menjadi matahari mu" Ucap Eireen menjawab kalimat Reykii. meski ia juga menyukai kehadiran Reykii namun ia masih terlalu takut untuk mengakui nya. Eireen tau perasan suka seseorang hanya sesaat, setelah mereka tau semua tentang diri mu mereka akan meninggal mu. Dan Eireen tak mau itu juga terjadi pada dirinya.


Reykii diam sambil tersenyum mendengar penuturan dari Eireen, ia seperti telah di tolak meski hanay dalam sebuah kalimat tersirat.


Kali ini jantung Reykii kembali berdenyut nyeri, rasa nya sama seperti ditolak, meskipun belum dengan kalimat langsung.


Reykii bertekad untuk tidak menunjukkan perasaan nya lagi. Ia hanya akan menjadi teman gadis itu, meski sejujurnya perasaan berontak hatinya tak dapat ia bendung. bukankah itu lebih baik daripada harus di benci dan di jauhi oleh Eireen??


Eireen mulai menyeruput kopi yang sudah setengah dingin itu sambil berpikir. Ia tak mengerti dengan perasaan nya sendiri.


Kedua insan yang masih di landa perasaan aneh itu sama-sama diam tanpa suara. Reykii merasa tubuhnya semakin sakit dan dingin karena terus di terpa angin malam.


Eireen melihat wajah pucat Reykii, tanpa sadar tangan gadis itu menempatkan telapak tangannya di kening Reykii. Ia merasa tangan nya sedikit panas, mungkinkah Reykii sakit??


"Rey kamu sakit" Tanya Eireen sambil menatap Reykii.


bukannya menjawab pertanyaan Eireen, Reykii malah mengatakan hal lain.


"maukah kamu menjadi temanku??, tak masalah jika kamu tidak membalas perasaan ku. Aku hanya ingin bisa dekat dengan mu. Jangan pernah menjauhiku" Ungkap Reykii sambil merebahkan kepala nya di pundak Eireen.


"Jangan merasa terbebani karena ungkapan perasaan ku. aku mengungkapkan nya karena aku sudah tidak tahan" Reykii melanjutkan ucapan nya.


Eireen tak tau harus menanggapi ocehan pria ini dengan kalimat apa, satu hal yang Eireen tau Reykii seperti nya tidak sedang bercanda. Bahkan sejak tadi Eireen juga tau bahwa Reykii tidak sedang bercanda.


"seperti nya aku yang harus mengantar mu pulang" Ucap Eireen merasa bahwa tubuh Reykii semakin menghangat. Reykii hanya diam tanpa merespon ucapan gadis itu.


"Berdiri, aku akan mengantar mu pulang" Ucap Eireen lagi sambil sedikit menggerakkan tubuhnya.


"Tidak usah, aku yang akan mengantar mu pulang" ucap Reykii sambil beranjak untuk berdiri.


Eireen menatap wajah itu, ia sebenarnya khawatir. Tapi sekali lagi, ia mencoba untuk tak memperdulikan Reykii.


mereka berdua berjalan mendekati motor Reykii setelah membayar dua gelas kopi tadi.


...🐻🐻🐻...


motor Reykii sampai di didepan rumah kost milik Eireen, pria itu tak bertanya di mana rumah Eireen meski ini adalah kali pertama ia mengantar Eireen pulang.


Eireen turun dari motor Reykii sambil melepaskan helm yang ia kenakan. Eireen kemudian menyodorkan helm tersebut kepada Reykii.


"aku pulang dulu" Ucap Reykii yang masih menatap Eireen.


Eireen mengangguk kecil sambil berkata.


"iya, Hati-hati" ucapnya sambil tersenyum kecil. Reykii tersenyum mendengar ucapan Eireen. baru di beri kata seperti itupun jantungnya kembali berdetak tak beraturan. bagaimana jika lebih dari sekedar kata itu??


Reykii kemudian melajukan motornya, pria itu perlahan hilang dari pelupuk mata Eireen. setelah benar-benar hilang dari jangkauan, Eireen masuk ke dalam rumah nya.


gadis itu langsung berbenah dan segera mandi, karena sejak tadi tubuh gadis itu terasa begitu lengket dan tak nyaman.


setelah selesai melakukan ritual mandinya, ia kemudian beranjak untuk duduk di depan meja belajar nya. Gadis itu membuka laci yang ada di depan meja, lalu mengambil sebuah kotak yang cukup indah.


Eireen membuka kotak itu, jari lentik nya mengambil sebuah kalung liontin yang sangat cantik dan indah berwarna biru.


Eireen menatap kalung yang ia lepas sejak dua hari lalu itu dengan tatapan nanar. ia kembali teringat kepada Reykii, apakah ia sudah sampai dirumah?? apakah ia baik-baik saja?? apakah pria itu sudah minum obat?? Ia tak dapat membohongi perasaan cemas dan khawatir nya.


Namun secepat mungkin ia menepis rasa itu, ia yakin Reykii akan baik-baik saja. Pasti banyak pelayan yang akan mengurus pria itu.


...🐻🐻🐻...


Perasaan itu memang ada, perasaan nyaman dan tenang saat bersama mu. Tapi semua itu harus ku tepis karena aku penyuka gelap, dan tidak bisa akan menjadi matahari mu


^^^_Eireen^^^


mohon bantuan like, coment dan vote


thanks all❀❀❀