
"Dasar tua bangka tidak tau malu!!" Reykii berteriak sambil membawa motornya dengan begitu kencang. Rasa marah yang terus menghantuinya membuat dia menjadi pribadi yang tak dapat mengontrol emosi.
Reykii terus melajukan motor sport nya dengan sangat kencang, pria muda itu tak tau akan tujuannya. Ia pergi tanpa tau ingin pergi kemana.
Reykii marah, ia begitu kesal terhadap sang papa yang selalu berbicara tentang almarhumah mama nya, berbicara seolah-olah dialah orang yang paling terluka. Berbicara kepada dunia seolah-olah semua salah orang lain. Kenapa tidak pernah sadar??
pria itu kini memutuskan untuk berhenti di tepi jalan, perut nya mulai keroncongan karena memang sejak pagi perut pria itu belum terisi oleh apapun.
Reykii melajukan motor nya lagi, kali ini ia punya tempat yang akan di tuju. tempat untuk ia bisa melampiaskan seluruh amarah nya. Motor Reykii masih terus melaju dengan kencang membelah jalan raya.
sampai setelah beberapa saat kemudian akhirnya motor yang membawa nya pergi itu sampai di suatu tempat. Kini Reykii telah berhasil berdiri di depan sebuah bangunan yang cukup biasa dan sederhana, namun cukup menantang tentunya. Yaitu Ring arena tinju, tempat dimana banyak sekali orang berotot dan tubuh kelar di dalam nya. Reykii langsung melangkah masuk tanpa berpikir dua kali.
Tanpa pengaman apapun ia langsung meninju asal samsak yang di gunakan untuk latihan tinju itu. Kedua kaki pria itu terus saja menendang dan memukul samsak secara tak beraturan.
Ia memang tak pernah pergi ke tempat semacam ini sebelumnya. Ia juga bukan seorang pria yang bisa beladiri atau sebagainya. Tapi entah kenapa hari ini ia begitu ingin meninju dan menendang sesuatu
"sudah kukatakan kalau itu salah mu, kenapa trrus ingin menyalahkan orang lain??" Reykii berteriak sambil terus meninju samsak tanpa jeda.
"Apa kau tau?? bukan hanya kau saja yang menderita, aku juga!! Aku juga menderita, bahkan aku sangat sangat menderita!!" Reykii masih terus berteriak seperti orang kesetanan. Ia tak pernah merasa sejarah ini sebelumnya. Padahal apa yang di ucap kan papa nya tadi terbilang biasa-biasa saja, Tapi entah kenapa kalimat sederhana itu terasa begitu menusuk hatinya.
Reykii mulai lelah, perut nya yang sudah kosong ditambah lagi lelah karena sedari tadi ia memukul samsak secara membabi buta. Bodoh sekali!!
Reykii membungkuk memeluk samsak karena sudah tak kuat menahan beban tubuhnya sendiri. Sedangkan keringat sudah mengucur dengan begitu deras dari seluruh pori-pori tubuhnya.
Badan pria itu terasa sedikit panas, mungkin dia sakit atau demam. Sama saja bukan??
Dari balik tembok, Eireen muncul. Ia melihat semua nya, melihat semua kerapuhan Reykii. Ia tau rasa nya marah yang selalu tertahankan.
Eireen berjalan masuk ke arena Ring Tinju sambil melihat ke arah Reykii yang masih seperti semula. Kenapa?? kenapa saat ia ingin melupakan pria ini tapi ia selalu dipertemukan?? kenapa?
Eireen mulai mengambil ancang-ancang untuk meninju samsak yang ada di sebelah milik Reykii dengan cukup kuat, gadis muda itu terlihat begitu bugar dan bertenaga.
Reykii masih menunduk sambil memeluk samsak nya seperti semula. Ia tak menghiraukan kehadiran orang lain di arena Ring Tinju tersebut.
Eireen masih diam dan terus meninju lalu menendang samsak miliknya. Sampai akhirnya ia membuka suara.
"Tidak apa, kamu juga berhak untuk marah" Ucap Eireen tanpa mengalihkan pandangan nya dari sasaran tinju nya. Reykii mendengar ucapan itu, suara itu. Suara yang sangat familiar di telinga nya.
Reykii langsung mendongakkan kepalanya, kedua manik hazel pria itu seketika melotot tak percaya. Tubuh yang semula begitu lelah itu seketika berdiri tegap penuh tenaga.
"Eireen" lirih Reykii sambil menatap Eireen yang masih sibuk meninju samsak.
Eireen menoleh lalu menghentikan aktivitas nya, gadis itu berdiri di hadapan samsak miliknya. Kedua mata Eireen menatap wajah lelah Reykii tanpa berkedip. Rasa asing itu lagi-lagi menyeruak masuk memenuhi rongga dada nya. Terasa begitu menyesakkan.
Eireen hanya menatap Reykii tanpa bicara, kedua sudut bibir nya sedikit terangkat. Reykii masih terus mencoba fokus dengan penglihatan nya. Pria itu berulang kali mengerjapkan kedua matanya.
"Ini benar kamu Reen??" Tanya Reykii dengan sedikit limbung. Eireen menjawab pertanyaan Reykii dengan anggukan kecil. Gadis cantik itu sedikit terenyuh melihat rapuhnya pria satu itu.
Tanpa bicara Reykii langsung berjalan menuruni arena ring tinju, sedangkan Eireen tampak menatap pria itu dengan bingung. Ia memutuskan untuk kembali melanjutkan Olahraga nya, meski hati nya ingin mengikuti langkah Reykii namun misi nya untuk segera move on harus tetap jadi prioritas.
...🐻🐻🐻...
"Ayo ku antar pulang" Ucap Reykii sambil membenarkan kancing jaket miliknya.
Eireen mendongak menatap wajah tampan bak pangeran itu sambil mengernyitkan satu alisnya.
"tidak usah. aku bisa pulang sendiri" Tolak Eireen tak mau terlalu lama menatap wajah itu.
"jangan menolak, aku hanya ingin mengantar mu pulang. Hari sudah semakin malam" Ucap Reykii lagi.
"aku sudah biasa pulang sendiri" Eireen kembali menolak ajakan Reykii, gadis cantik itu bersikeras ingin melupakan perasaan nya dengan cara menghindar.
"Ayo, aku memaksa" Ucap Reykii sambil menarik lengan Eireen secara paksa.
Eireen terkejut bukan kepalang mendapat perlakuan seperti itu dari Reykii. Tubuh mungil nya langsung berdiri hampir menubruk tubuh Reykii, beruntung tenaga nya cukup kuat untuk menahan tubuh mungil nya agar tidak masuk dalam pelukan pria itu.
Reykii sedikit tertegun karena kejadian itu, ia ta dapat menahan debaran di dadanya yang semakin memburu. Namun sebisa mungkin ia menahannya agar Eireen tak merasa aneh dan canggung.
Mereka berdua akhirnya keluar dari bangunan itu, Eireen hanya diam sambil terus melangkah mengikuti langkah kaki Reykii. Entah kenapa ia selalu tak berdaya bila berdekatan dengan Reykii, kemana hilang nya semua kekuatan Eireen??
Reykii menyalakan motor miliknya, Eireen langsung naik seketika. Tidak ada adegan dimana sang gadis mengalami kesulitan untuk menaiki motor besar dan tinggi itu.
Reykii langsung melajukan motor nya, menembus dingin nya angin jalan petang itu. kedua nya masih di selimuti diam sejak tadi.
Tapi Reykii kemudian membuka suara nya.
"Reen temani aku ke alun-alun dulu ya??" Reykii berucap di tengah keheningan yang sudah sejak tadi menyelimuti mereka. Tanpa menunggu jawaban Eireen pria itu langsung membelokkan motor nya ke dalam area alun-alun kota yang cukup ramai.
Mereka berhenti di salah satu lesehan yang ada di tengah lapangan kota itu. Mereka duduk berdampingan tapi masih bersama dengan diam.
Reykii memesan dua kopi hangat americano, untuk diri nya dan juga untuk Eireen. Setelah pesanan mereka tiba, Reykii langsung menyeruput minuman hangat itu.
Sedangkan Eireen, sejak tadi gadis itu masih diam sambil terus menatap langit. Reykii menatap wajah cantik gadis itu sambil tersenyum. entah kenapa rasa amarah yang sejak tadi memuncak jadi hilang seketika setelah ia bertemu Eireen.
"kamu suka bintang yang mana??" Tanya Reykii memecah keheningan diantara mereka.
Tanpa menoleh Eireen menunjuk satu bintang kecil
yang terdapat agak berjauhan dari bintang lainnya. Bintang kecil itu sendirian tanpa satu orang teman.
Reykii menatap bintang kecil yang di tunjuk oleh Eireen tadi.
"kenapa suka yang itu??, dia sendirian, pasti rasanya begitu tidak enak" Tanya Reykii sambil terus memandang bintang kecil yang terlihat begitu kesepian itu.
Eireen Mengambil napas sebelum membuka suara nya. gadis itu sedikit mengerutkan keningnya.
"Bintang itu seperti aku pada sepuluh tahun lalu. Kecil dan sendirian, Takut setiap kali malam akan datang. Aku terus bersembunyi dibalik tempat yang jarang orang bisa menyadari keberadaan nya" ucap Eireen sambil terus menatap bintang kecil itu. Reykii diam sambil terus memasang pendengaran nya. menunggu Eireen melanjutkan kalimat nya.
Bersambung....
...🐻🐻🐻...