
Bara turun lebih dulu ke meja makan, sementara Sabiya masih berada di dalam kamar. Sabiya masih mengeringkan rambutnya. Wajahnya menghangat karena teringat moment di kamar mandi tadi. Bara menggosok punggungnya dan mendaratkan kecupan hangatnya di bawah gemericik air shower.
"Ya, Tuhan. Kenapa selalu terbayang" gumam Sabiya sambil memejamkan matanya.
Sabiya malu sekali untuk turun ke bawah bertemu dengan suaminya. Sekilas bayangan tingkah liarnya melintas kembali. "Bagaimana aku bisa seperti itu. Sabiya!! Benar-benar memalukan" gumamnya lagi.
Di meja makan, mama Bara sudah menyiapkan sarapan pagi untuk anak dan menantunya itu. Mama Bara tersenyum ketika melihat tanda merah di leher anaknya.
"Sepertinya rencanaku berhasil" batin wanita itu sambil melihat juga rambut Bara yang masih basah.
"Biya kok belum turun?" tanya mama Bara.
"Hmm, dia sedang berpakaian, Ma" jawab Bara.
"Berpakaian kok lama sekali" protes mamanya menahan tawanya.
Tak lama kemudian Sabiya keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Dia menuju ke meja makan menghampiri Bara dan mertuanya.
"Ayo, sarapan" tawar mertuanya. Sabiya hanya mengangguk. Dia mengambil tempat duduk di samping Bara.
"Biya ada kuliah nggak hari ini?" tanya mama Bara.
"Kuliah, Ma" jawab Sabiya sambil meraih selai di dekat Bara.
"Bara akan mengantar kamu, kan?" selidik mama Bara.
"Nggak, Ma. Aku pergi sendiri saja. Soalnya agak siang sedikit, nanti Mas Bara bisa terlambat kalau mengantarku" elak Sabiya cepat.
Mama Bara telah selesai sarapan, tapi sebelum dia beranjak dari tempat duduknya, wanita itu melirik anaknya.
"Ba, sebelum berangkat ke kantor jangan lupa untuk menutupi tanda merah di lehermu" ucap mamanya tersenyum kemudian beranjak pergi.
Bara yang baru menyadari langsung memegangi lehernya sambil tersenyum. Sementara Sabiya memejamkan matanya menahan malu. Semua tanda itu karena ulahnya.
"Tanda cinta" bisik Bara ke telinga Sabiya.
Rasanya Sabiya ingin tenggelam ke bumi. Wajahnya sudah memerah karena malu.
"Jangan meledekku. Aku malu!!" rengek Sabiya manja. Bara tertawa kecil melihat istrinya tersipu malu. Sabiya tampak begitu menggemaskan di matanya.
"Aku sudah selesai sarapan. Mau aku temani?" tawar Bara.
"Nggak usah" tolak Sabiya. Dia memang terlambat ke meja makan.
"Baiklah. Aku mau siap-siap berangkat kerja. Pelan-pelan saja makannya" ucap Bara sebelum dia beranjak dari tempat duduknya.
Jeda 30 menit Bara pergi, Sabiya barulah berangkat ke kampus. Lebih baik dia cepat-cepat pergi dari rumah. Karena bayangannya yang sedang menggoda Bara selalu terlintas di pikirannya.
Mama Bara menemui Mia yang sedang menyiapkan menu makan siang.
"Mia, rencanaku berhasil kan" ucap mama Bara tersenyum.
"Bagaimana Nyonya bisa tahu?" tanya Bik Mia heran. Apa majikannya itu semalam telah mengintip ke kamar anaknya.
"Tanda merah di leher Bara" jawab mama Bara.
"Wah, betul itu. Pasti hot sekali di kamar itu semalam" ujar Bik Mia cekikikan.
"Iyalah, kalau tidak begitu. Kapan aku bisa punya cucu" ucap mama Bara semangat. "Besok aku mau pulang. Semoga aku cepat mendapatkan kabar bahagia dari mereka" sambung wanita itu.
***
Sekretaris Bara masuk untuk mengambil berkas yang sudah dia berikan kepada Bara untuk ditandatangani.
"Pak, berkas tadi sudah ditangani?" tanya Hanny.
"Berkas?. Ya, ampun, Han. Sorry, aku lupa" Bara segera meraih map berisi berkas yang tergeletak di atas meja kerjanya.
Hanny hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Ada apa dengannya hari ini?" batin Hanny.
"Ini. Ada lagi yang mau ku tanda tangani?" tanya Bara sebelum Hanny keluar dari ruangannya.
"Tidak ada, Pak. Saya permisi" jawab Hanny kemudian meninggalkan ruangan Bara.
Bara menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Bayangan tubuh indah istrinya melintas di pikirannya. "Ya, Tuhan. Kenapa aku jadi menginginkannya kembali setiap terbayang peristiwa semalam" gumam Bara.
"Biya, kau harus bertanggung jawab" laki-laki itu sudah tidak bisa berkonsentrasi lagi. Dia meraih ponselnya dan menghubungi Sabiya.
Sabiya yang baru saja keluar dari ruangan kuliahnya segera merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya.
"Mas Bara" ucapnya dalam hati sambil melihat layar ponselnya.
"Biya, jadi kan kita ke mall pulang ini?" tanya Elsa menyakinkan lagi apakah Sabiya akan ikut atau tidak.
"Sebentar, ya. Aku mau mengangkat telepon dulu" ujar Sabiya sambil menggeser layar ponselnya.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam. Biya, kamu masih di kampus?" tanya Bara.
"Iya. Ini mau pulang, tapi Elsa, Suci dan Irma mau mengajakku ke mall"
"Mau cuci mata?. Nggak usah. Tunggu di sana nanti aku jemput"
Sabiya hanya mengerucutkan bibirnya. Memang sih, mereka berdua mengajaknya hanya sekedar untuk cuci mata saja. Belum tentu mau membeli, namanya juga anak kost. Harus hemat. Sabiya terpaksa menuruti perintah suaminya itu.
Setelah Bara memutuskan sambungan telponnya, Sabiya mencari alasan agar tidak ikut dengan Elsa, Suci dan Irma.
"Kamu takut sekali dengan Om Bara. Kamu kan punya hak untuk di luar rumah tanpa izin darinya. Apalagi kedua orang tuamu sudah tiada" protes Elsa.
"Papaku sudah menitipkan aku kepadanya. Sudah, kalian berdua pergi sana" usir Sabiya agar kedua temannya itu meninggalkannya sendirian. Elsa dan Irma akhirnya pergi juga.
Tak lama dari kepergian kedua temannya, mobil Bara sudah datang menjemputnya. Laki-laki berparas tampan itu turun dari mobil dan mendekati Sabiya.
"Sudah lama menunggu?" tanya Bara basa-basi sambil menatap Sabiya.
"Aduh, kenapa jantungku jadi berdebar kencang begini?" batin Sabiya menepis tatapan mata suaminya.
"Masuklah" perintah Bara yang sudah membukakan pintu mobil.
Sabiya masuk dan duduk di samping kemudi. Bara kemudian berjalan memutar dan masuk ke dalam mobilnya.
"Aku kan bisa pulang sendiri" ucap Sabiya tanpa melihat ke arah Bara.
"Aku lagi ingin pulang ke rumah" jelas Bara sambil matanya melirik Sabiya.
"Kenapa dia ingin pulang?" tanya hati Sabiya heran.
"Mau makan siang di rumah?" tebak Sabiya. Bara hanya tersenyum tanpa menjawab.
"Mau apa?" gumam Sabiya.
"Nanti aku jawab di kamar" ucap Bara misterius.
"Aneh. Mau menjawab itu saja harus di dalam kamar" pikir Sabiya lugu.
Tiba di rumah, mama Bara melihat anak dan menantunya itu sudah pulang. Mereka jalan beriringan menaiki anak tangga menuju ke kamar.
"Tumben Bara sudah pulang jam segini" gumam mama Bara. Wanita itu kembali ke dapur untuk menyiapkan makan siang.
Setelah berada di dalam kamar, Sabiya meletakkan tasnya di atas sofa. Sementara Bara juga sudah melempar jasnya di sofa. "Sekarang sudah di kamar, Mas mau menjawab apa tadi" ujar Sabiya menagih janji Bara di dalam mobil tadi.
Wanita muda itu baru saja menanggalkan hijabnya. Bara pun langsung menarik pinggangnya, sontak membuatnya terkejut. Mata mereka bertemu dan saling pandang. "Aku mau kamu" bisik Bara. "Biya, aku tidak bisa berkonsentrasi di kantor karena selalu teringat aksi kamu semalam."
Jantung keduanya berdetak kencang. Sabiya bisa merasakan hembusan napas suaminya yang memburu. Dia pun juga terbayang sikapnya yang memalukan itu. Tanpa dia sadari Bara sudah ******* bibirnya mesra.
Sabiya membuka sedikit bibirnya dan Bara pun semakin leluasa memperdalam pagutannya. Bara kemudian menjatuhkan tubuh istrinya itu ke atas ranjang. Istrinya itu juga menikmati setiap sentuhan jemarinya dan siap menerima penyatuan dari suaminya.
Aktivitas intim itu berakhir di balik selimut dengan peluh membasahi dahi. Sabiya tidak seagresif ketika di bawah pengaruh obat perangsang yang telah mertuanya berikan.
"Mas!!" panggil Sabiya. Bara memiringkan tubuhnya menghadap ke arah istrinya itu.
"Mau kembali lagi ke kantor?" tanya Sabiya. Bara hanya mengangguk tersenyum.
"Jadi Mas pulang hanya mau ..." Sabiya tidak melanjutkan ucapannya.
"Soalnya teringat kamu terus" ucap Bara menarik tubuh istrinya merapat ke tubuhnya.
"Mas!!" teriak Sabiya manja merasakan bagian atas tubuhnya menyentuh dada bidang suaminya.
"Kamu membuatku ketagihan, Sayang" ucap Bara kemudian menarik tengkuk istrinya dan dia pun ingin mengulanginya kembali.