A Marriage

A Marriage
Part 14



Sabiya menziarahi makam kedua orang tuanya. Dia pergi tanpa memberi tahu Bara. Hingga laki-laki itu pulang, dia belum tiba di rumah.


"Sabiya tidak bilang dia mau pergi kemana?" tanya Bara kepada Bik Mia.


"Waktu Bibik tanya, Non Biya bilang mau keluar sebentar, Tuan" jawab Bik Mia.


Bara menghembuskan napasnya. Dia kesal karena Sabiya pergi tidak membawa ponselnya sehingga dia tidak bisa dihubungi.


"Ck. Pergi kemana dia?" gumam Bara khawatir.


Tak lama kemudian Sabiya muncul dari arah ruang tamu. Dia melihat Bara sedang menatapnya. Tanpa kata Sabiya segera menaiki anak tangga untuk menghindari suaminya itu.


"Biya!!" panggil Bara.


Sedikitpun Sabiya tidak menoleh ke arah bawah, dia justru mempercepat langkah kakinya menuju ke kamar. Sikap Sabiya itu menguji kesabaran Bara. Dia masih menahan emosinya. Laki-laki berparas tampan itu pun menyusul Sabiya.


Bik Mia menatap heran. Sebenarnya apa yang terjadi di antara pasangan itu. Bik Mia kembali ke dapur, dia tidak mau ikut campur dengan urusan majikannya itu.


"Kamu darimana?" tanya Bara setelah menutup pintu kamar.


Sabiya hanya diam dengan posisi memunggungi Bara. Sungguh dia sedang tidak ingin bicara dengan laki-laki yang telah menjadi suaminya itu.


"Sabiya!! Kamu dengar tidak!" Bara sedikit mengeraskan suaranya.


"Ziarah" jawab Sabiya singkat tanpa melihat Bara.


Bara tercekat. "Kenapa tidak memberi tahuku? Aku kan bisa pulang dan mengantar kamu ke sana" ujar Bara mendekati Sabiya.


"Mas kan sedang sibuk menemani seorang gadis belanja. Aku tidak mau mengganggu" jawab Sabiya sinis masih membelakangi suaminya.


"Rupanya kamu pergi ke mall juga" bisik Bara ke telinga Sabiya.


"Aku melihat Mas bermesraan dengan gadis itu. Lepaskan!!" Sabiya berusaha melepaskan tangan Bara yang melingkar di perutnya tapi Bara malah mengeratkan pelukannya.


"Sayang, kamu nggak usah cemburu dengan gadis itu" ucap Bara dengan suara lembut.


"Kenapa aku tidak boleh cemburu?" tanya Sabiya marah. "Apalagi dengan gadis cantik seperti dia" batin Sabiya dongkol.


Bara kemudian membalikkan tubuh Sabiya menghadap ke arahnya namun tetap dalam pelukannya.


"Gadis itu keponakanku dan keponakanmu juga karena kamu sudah menjadi istriku" ucap Bara tersenyum sambil menjawil hidung mancung Sabiya.


Sabiya terkesiap dengan ucapan Bara. Dia tidak tahu akan hal itu. Memang dia belum banyak tahu tentang keluarga suaminya itu.


"Ayo, duduk di sini" Bara duduk di tepi ranjang lalu menarik tubuh Sabiya hingga jatuh terduduk dipangkuan Bara.


"Namanya Nadia, keponakanku itu memang begitu. Dia kadang suka memanfaatkan Om-nya ini untuk menolak cowok-cowok yang pendekatan dengannya. Dia bilang kalau aku ini pacarnya jadi cowok-cowok itu tidak akan mengganggunya lagi" jelas Bara masih melihat wajah istrinya cemberut.


"Mas tidak pernah bilang kalau punya keponakan sebesar itu" sungut Sabiya.


"Iya. Kakak perempuanku, mama Nadia yang sekarang tinggal di KL belum tahu dengan pernikahan kita. Mama dan papa akan memberi tahu dan meminta mereka pulang saat resepsi pernikahan kita nanti" ujar Bara.


"Kenapa Nadia tidak tinggal di rumah ini?" tanya Sabiya heran. Gadis itu malah ngekost.


"Kampusnya jauh dari rumah kita. Kondisi jalan yang macet bisa membuat dia datang terlambat. Makanya Nadia nekad mau ngekost. Ya, hitung-hitung biar anak itu belajar mandiri" jawab Bara.


Sabiya malu sendiri sudah berprasangka buruk dengan suaminya.