
Di kampus
Selesai mengikuti mata kuliah, keempat mahasiswi itu menuju ke kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah menuntut dari tadi.
"Biya, kamu mau ikut kita ke mall nggak?" tanya Irma sambil menuang saos ke dalam mangkuk baksonya yang masih beruap-uap.
"Ikut aja, Biya. Om Bara kan tahunya kamu masih ada di kampus" bujuk Suci melihat Sabiya belum merespon ucapan Irma.
"Kalian mau belanja atau sekedar cuci mata aja?" tanya Sabiya yang sudah menikmati mie ayam pesanannya.
"Ya, belanjalah. Aku baru dapat duit dari papaku" jawab Irma senang.
"Kamu mau beli apa, Irma?" selidik Elsa.
"Cari sepatu, El. Untuk gonta-ganti supaya nggak cepat rusak" jawab Irma.
"Eh, Biya. Kamu nggak takut apa Om Bara di luar sana bakalan dilirik wanita lain? Berhubungan Om Bara itu gantengnya kebangetan" tanya Suci tersenyum sambil melirik Sabiya.
Sabiya tidak kepikiran sampai sejauh itu. Suami tampan seperti Bara sudah pasti banyak wanita yang meliriknya. Kalau suaminya tidak menanggapi kenapa dia mesti khawatir.
"Jurus jitu supaya suami tidak melirik wanita lain" sela Elsa.
"Eleh, kayak kamu udah nikah aja, El" cibir Irma.
"Hei, aku punya kakak perempuan yang udah menikah. Dari dia, aku mendapatkan ilmu itu untuk bekalku berumah tangga nanti" jelas Elsa.
"Wah, boleh juga tuh, El. Apa jurusnya?" tanya Suci bersemangat.
"Suguhi suami dengan pemandangan yang membuatnya tidak akan melirik wanita lain" ujar Elsa pelan takut pengunjung kantin lain mendengarkan pembicaraan mereka.
Irma mengeryitkan dahinya. Sabiya tetap santai makan sambil memasang telinga.
"Contohnya seperti apa?" tanya Irma penasaran.
"Pakai baju seksi di depannya. Apalagi kalau pengantin baru, Sabiya pasti udah tahu selanjutnya apa yang akan terjadi" jelas Elsa sambil melirik Sabiya.
"Huaaa, kamu selalu seksi di depan Om Bara, ya, Biya?" tatap Suci ke arah Sabiya.
"Nggak, kok" elak Sabiya.
"Nah, mulai sekarang kamu harus gunakan jurus dari Elsa tadi, Biya" sela Irma. Temannya yang lain pun mengangguk setuju.
"Hah, yang benar saja. Bisa-bisa dia minta jatah terus setiap hari kalau aku berpakaian seksi" batin Sabiya.
"Yang kedua, buat suami puas di atas ranjang" lanjut Elsa membuat ketiga temannya histeris mendengarkan jurus kedua kakak Elsa itu.
"Udah, ah. Ini bahasan orang dewasa nggak usah dilanjutkan lagi" protes Irma. "Nanti pikiranku ternoda."
"Hahaha, nggak usah dibayangkan" Elsa terkekeh melihat Irma.
Selesai makan di kantin, mereka pun melanjutkan rencana mereka yang mau pergi ke mall.
Di kantor
"Ada apa?" tanya Bara.
"Om cepat datang ke mall, aku lupa bawa dompet dan nggak bisa bayar belanjaanku" oceh suara seorang gadis di seberang sana.
"Jadi maksudnya minta dibayari. Enak aja!!" tolak Bara.
"Please, Om. Kalau aku nggak membayar semua belanjaanku, aku mau dibawa satpam" rengeknya.
"Kamu itu anak kost, nggak usah hidup boros, Nadia!!" sungut Bara.
"Udah, Om. Nggak usah ngomel lagi. Cepat bantuin aku" ucap Nadia memohon.
Bara memutus sambungan telpon dari gadis itu setelah dia memberitahu lokasi mall yang dikunjunginya.
"Cari masalah saja" gumam Bara. Dia mengambil kunci kontak mobilnya dan segera pergi meninggalkan ruangannya.
Tiba di mall, Bara segera membayar semua belanjaan Nadia.
"Terima kasih Om Bara ganteng" ujar Nadia bergelayut manja di lengan Bara.
"Lain kali, Om tidak mau membantu kamu, ya, kalau sampai ini terjadi lagi. Biar mamamu di KL sana yang datang untuk mengurusi anaknya yang tengil ini" ucap Bara sambil menjitak kepala keponakannya itu.
"Biya ... Biya" panggil Suci kaget atas apa yang dilihatnya sambil menarik tangan Sabiya.
"Apa, sih?" tanya Sabiya.
"Itu lihat di depan sana" tunjuk Suci. Ketiga pasang mata lainnya ikut melihat arah yang ditunjuk oleh Suci.
"Itu Om Bara, kan? Siapa gadis yang menggandeng mesra tangan Om Bara itu?" tanya Suci tidak percaya.
"Biya!" toleh teman-temannya ke arah Sabiya.
"Aku nggak tahu" jawab Sabiya pelan. Dia pun masih terkejut melihat kepergian suaminya sambil digandeng mesra oleh seorang gadis berpakaian modis itu.
"Biya, nggak mungkin kan Om Bara selingkuh?" tanya Elsa tidak yakin dengan penglihatannya.
Sabiya hanya diam membisu. "Eh, ayo masuk ke toko" ajak Irma mengalihkan pembicaraan agar Sabiya tidak kepikiran.
Mereka pun masuk ke dalam toko sepatu ternama disalah satu mall tersebut.
"Biya, nanti kamu tanya langsung saja siapa gadis centil itu" bisik Suci.
Sabiya tidak menggubris ucapan Suci, hatinya sudah diliputi rasa cemburu. Dia tidak rela tubuh suaminya disentuh wanita lain.
Pulang ke rumah Sabiya menghempaskan tas ranselnya ke sembarang tempat. Beginilah rasanya cemburu. Masih terbayang dalam ingatannya bagaimana gadis itu bergelayut manja di lengan suaminya.
Gadis berambut panjang bergelombang itu begitu dekat dengan suaminya.
"Mereka belanja bersama" gumam Sabiya mengingat Bara di mall menjinjing belanjaan gadis itu.
Sabiya mengganti pakaiannya kemudian masuk ke kamarnya yang lama. Di sana dia melihat figura kecil di atas nakas. Foto mama dan papanya. Sabiya menitikkan airmatanya. Dia merindukan kedua orang tuanya.