A Marriage

A Marriage
Part 23: Salah Paham



"Nay, sebenarnya ada apa sampai harus seperti ini?," tanya Randy sebelum Nayara turun dari mobil.


Nayara menyeka air matanya yang masih merembes di pipinya.


"Dia tidak mencintai aku, Ran. Dia sering bertemu Aura di belakang ku. Aura juga bilang dengan ku sendiri sewaktu di pesta Anthony kalau mereka masih saling mencintai dan ingin kembali bersama," jawab Nayara.


"Kamu percaya dengan ucapannya?," tanya Randy.


"Bagaimana aku tidak percaya?. Mas Bri tidak pernah mengucapkan kata cinta itu kepadaku. Itu membuktikan kalau di hatinya masih ada wanita itu," jelas Nayara emosi.


"Nay, percayalah. Tuan Bri sangat mencintai mu. Dia bisa seperti sekarang karena semangat yang sudah kamu berikan," bela Randy.


"Sudahlah. Buktinya dia hanya diam saja saat aku bilang itu. Aku juga melihatnya makan berdua di mall. Kurang bukti apalagi. Kalau dia mau menikahi wanita itu. Aku tunggu surat cerainya, Ran," Nayara keluar dari mobil lalu berjalan masuk ke halaman rumah ayahnya.


***


Di rumah kediaman Edzard.


"Apa!!! Jadi dia mengira kalau aku masih mencintai Aura," Abrisam menghembuskan napasnya kasar.


"Bagaimana dia bisa menuduh aku seperti itu. Apa dia tidak merasakan kebersamaan  selama setahun ini. Dia pikir aku hanya pura-pura," Abrisam memijit pelipisnya sambil menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya.


"Apa benar tuan sering bertemu dengan Aura?," selidik Randy.


Bagaimana pun Randy tidak ingin rumah tangga teman dan tuannya berakhir.


"Jadi kau juga tidak percaya denganku, Ran?," Abrisam menatap tajam Randy.


"Bukan begitu, Tuan. Kenapa Tuan tidak menjelaskannya kepada Nay kalau itu tidak benar," jawab Randy.


"Bagaimana aku mau menjelaskannya. Aku saja bingung. Dia menuduh sesuatu yang tidak pernah aku lakukan," ujar Abrisam. "Kapan aku makan berdua dengan Aura?"  tanya Abrisam heran sambil mengingat-ingat. Randy pun tidak tahu kapan Tuannya bertemu dengan Aura.


"Tunggu...tunggu..." ujar Abrisam mencoba mengingat-ingat kapan dia pernah bertemu dengan Aura.


Flashback on


*Abrisam bertemu dengan rekan bisnisnya Rafael, anak Anthony. Kemudian mereka makan siang di food court sekalian Rafael menjemput tunangannya untuk feeting baju.


"Raf, kayaknya Marsha masih lama deh. Kita makan duluan aja," ucap seorang wanita menghampiri meja mereka. Abrisam melihat ke sumber suara, begitu juga sebaliknya.


"Bri. Ini beneran kamu?," seru wanita itu hampir berteriak melihat Abrisam duduk di dekat Rafael.


"Bri, beneran kamu bisa melihat dan berjalan lagi?" tanya Aura masih tidak percaya menatap laki-laki tampan itu.


"Aura, kalau Bri masih buta dan nggak bisa berjalan, mana mungkin dia bisa ada di sini sendirian," celetuk Rafael sambil berdecak kesal. Aura ternyata menemani tunangan Rafael untuk fitting baju pengantin.


Aura menatap Abrisam terpesona. Laki-laki yang dicintainya itu ternyata masih tetap sama, tampan dan gagah.


"Oya, Bri. Aku tinggal ke toilet dulu, ya" ujar Rafael meninggalkan meja.


Kini tinggal mereka berdua di sana. Abrisam dan Aura. Abrisam melihat Aura dengan wajah datar. Gadis yang ada di hadapannya itu sudah tidak memiliki arti lagi dalam hidupnya.


"Bri, aku masih mencintaimu. Kamu juga kan masih cinta sama aku?," ucap Aura tersenyum ingin meraih tangan Abrism yang berada di atas meja.


Namun Abrisam dengan cepat menarik tangannya agar gadis itu tidak menyentuhnya.


"Cinta?" tanya Abrisam sinis menatap tajam Aura.


"Di mana kamu saat aku mengalami masa sulit itu?" tanya Abrisam lagi. "Di mana?!!"


Senyum Aura menghilang seketika mendengarkan ucapan Abrisam.


"Kamu malah membatalkan pernikahan kita. Kamu malu punya suami cacat sepertiku, iya kan?" lanjut Abrisam menatap tajam Aura. Laki-laki itu menuntut jawaban dari mantan calon istrinya itu.


Aura tak berkutik. Dia memang yang meminta ayahnya untuk membatalkan pernikahannya dengan Abrisam karena kondisi Abrisam yang buta dan tidak bisa berjalan lagi.


"Jangan bicara cinta denganku, Aura. Karena di hatiku tidak ada ruang lagi untukmu. Aku sudah melupakanmu sejak kamu membatalkan pernikahan kita," tegas Abrisam.


"Bri, maafkan aku. Sampai sekarang aku masih belum bisa melupakanmu" ucap Aura lirih.


"Omong kosong!!," ujar Abrisam sinis. "Aku sudah menikah dengan wanita yang tulus menerimaku ketika cacat. Harus kamu tahu, aku sangat mencintainya," sambung Abrisam pelan karena dilihatnya Rafael menghampiri mereka*.


Flashback off


"Ya ampun, Tuan. Jadi Nay melihat Tuan dan Aura makan berdua ketika Tuan Rafael ke toilet. Pantas saja Nay menduga begitu," ujar Randy mengerti setelah mendengarkan cerita Abrisam. Nayara ternyata sudah salah paham dengan Tuannya. Randy juga tidak percaya jika Tuannya telah berkhianat.


"Aku sangat mencintai Nay, Ran," gumam Abrisam sendu.


"Tapi perlu diungkapkan juga kata-kata itu, Tuan" ujar Randy mengingatkan.


Randy akan memberitahu Nayara dan menjelaskan semuanya agar masalah Tuannya selesai.