
Mobil metalik itu berhenti di depan pintu pagar rumah yang cukup tinggi. Security rumah pun membukakan pintu pagar.
"Bapak, teman Tuan Bara?" tanya Pak Aman, security di rumah Bara sebelum mobil Alfian masuk.
"Iya, betul" jawab Alfian.
Pak Aman langsung membuka lebar-lebar pintu pagar dan mempersilahkan mobil Alfian masuk ke dalam.
"Wah, rumahnya besar sekali, Pa" seru Alina melihat rumah Bara yang lumayan besar itu. Sabiya pun ikut takjub memandang rumah di depannya yang lebih besar dari rumah mereka.
"Ayo, turun" ajak Alfian. Mereka bertiga turun dari mobil dan di sambut oleh Mia di depan pintu masuk.
"Silahkan masuk, Bapak Alfian dan Ibu Alina" sambut Mia ramah.
"Pa, kok maid-nya tahu nama kita berdua?" bisik Alina.
"Pasti Bara yang sudah memberitahunya" jawab Alfian berbisik.
"Silahkan" ajak Mia lagi.
"Oh, iya. Terima kasih" balas Alina tersenyum kikuk.
"Bara ada di rumah, kan?" tanya Alfian sambil mengiringi langkah kaki Mia masuk ke dalam rumah.
"Iya, Tuan Bara masih berada di atas. Tadi ada telpon dari orang tuanya" jawab Mia kemudian mempersilahkan Alfian dan keluarga untuk duduk di sofa mewah Bara di ruang tamu.
"Besar sekali rumah ini. Penghuninya siapa saja?" tanya hati Sabiya. Dia lebih baik mengontrak rumah kecil saja daripada tinggal di rumah sebesar ini.
Tak lama sosok pria berpakaian casual berjalan santai menuruni anak tangga. Dia melihat Alfian dan keluarganya sudah duduk di ruang tamu. Alfian pun berdiri dari tempat duduknya.
"Hei, apa kabar?" sapa Bara meraih tangan Alfian. Mereka berdua pun saling berpelukan melepas rindu karena sudah lama tidak bersua.
"Tambah ganteng saja" puji Alfian melihat wajah Bara yang tidak ada perubahan.
Bara tertawa kecil mendengarkan pujian sahabatnya itu. "Kamu yang sepertinya tidak menua padahal sudah punya anak gadis" toleh Bara melihat gadis berjilbab yang duduk di sebelah Alfian.
Alfian pun hanya nyengir kuda. "Makanya nikah muda" sindir Alfian. Alina tersenyum geli melihat pertemuan kedua sahabat itu.
"So, siapa nama anakmu?" tanya Bara melirik ke arah Sabiya. Dia lupa dengan nama anak Alfian itu.
"Sabiya Awalina" jawab Alfian.
"Iya, Sabiya. Kamu kuliah ambil fakultas apa?" tanya Bara.
"Fakultas Ekonomi, Om" jawab Sabiya.
"Owh, mau meneruskan usaha papa kamu, ya. Pintar sekali" puji Bara sambil tersenyum.
Bara menyambut keluarga Alfian dengan ramah. Mereka pun makan siang bersama. Setelah acara makan siang, Mia mengantar Sabiya ke kamarnya yang berada di lantai atas karena di lantai bawah sudah ditempati oleh Mia dan suaminya serta Pak Aman dan Leha, istrinya.
"Ma, rumah ini terlalu besar untukku" keluh Sabiya kepada Alina ketika hanya mereka berdua di dalam kamar.
"Biya, kamu lihat sendiri kan rumah ini tidak jauh dari kampus kamu. Pinggir jalan lagi rumahnya" ujar Alina menolak keluhan anaknya.
"Pokoknya kalau aku nggak betah, aku mau pindah" rengek Sabiya.
"Iya, masa nggak betah. Kan ada Om ganteng itu yang akan menjaga anak mama ini" ucap Alina tersenyum sambil mencubit gemas pipi anak gadisnya itu.
"Ihh, mama apa, sih" tepis Sabiya. Dia tidak tahu apa maksud ucapan mamanya itu.
Setelah melihat kamar anaknya, dan cukup lama berbincang-bincang dengan Bara, Alfian pun berpamitan pulang.
"Aku titip anakku. Kamu tidak usah segan-segan untuk menegurnya jika dia melanggar aturan di rumahmu" pesan Alfian kepada Bara.
"Tenang saja, di sini banyak yang akan memantaunya" ucap Bara sambil menepuk pundak Alfian.
Sabiya memeluk mama dan papanya sebelum mereka masuk ke dalam mobil.
"Mama dan papa nanti akan datang ke sini. Tidak usah sedih begitu" ucap Alina mengelus pipi Sabiya.
Setelah mobil Alfian menghilang dari pandangannya, Sabiya masih berdiri di teras memandangi jalan di luar pagar rumah.
"Ayo, masuk. Semoga kamu betah tinggal di sini. Jangan sungkan, Biya. Anggap saja rumah sendiri" ujar Bara memecah lamunan Sabiya.
"Iya, Om" sahut Sabiya kemudian mengiringi langkah Bara yang bertubuh tinggi menjulang di depannya.
Bara melihat Sabiya berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya. Sementara dia duduk di sofa ruang tengah.
"Gadis kecil itu sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik" batin Bara. Dia ingat ketika bertemu dengan Sabiya yang baru berusia 5 tahun. Bara menggendong dan menciumi pipi tembam anak sahabatnya itu. Masih kecil, Sabiya memiliki wajah yang sangat menggemaskan.
"Kalau kamu sudah besar nanti, Om jadikan istri, ya" canda Bara tertawa kala itu sambil mencium pipi Sabiya kecil.
Entah kenapa, tiba-tiba ucapannya 13 tahun yang lalu teringat kembali.
"Ah, hanya bercanda juga" gumam Bara menepis ucapannya yang terngiang-ngiang di telinganya.
Di kamar Sabiya
"Besok aku pergi ke kampus naik bis atau ojek saja" gumam gadis itu sambil merapikan pakaiannya di dalam koper. Dia menata pakaiannya ke dalam lemari yang sudah disediakan di dalam kamar. Kamar itu juga terdapat kamar mandi sehingga dia bisa lebih leluasa beraktivitas membersihkan diri hanya di dalam kamarnya saja. Baju kotornya saja yang akan dia bawa ke bawah untuk dicuci.
Sabiya membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang terlihat sangat empuk itu. Tanpa terasa matanya pun terpejam. Perjalanan dari rumahnya tadi telah membuat tubuhnya lelah hingga dia tertidur masih dalam balutan jilbabnya.