A Marriage

A Marriage
Part 24: Matamu adalah Matanya



Nayara menatap pusaran yang bertuliskan nama Habib Arif Rahman. Nayara menyeka air matanya. Hatinya merasa sangat sedih. Bagaimana pun dia juga pernah menyukai Habib sebelum mengenal suaminya sekarang.


"Sudah lama Habib berpesan dengan umi. Jika dia mati nanti, dia ingin bola matanya didonorkan untuk suami mu. Walaupun dia tidak bisa memiliki cinta mu, Nay. Setidaknya mata Habib bisa menjadi kenangan untuk mu," ucap Umi Habib menemani Nayara ke makam putranya.


Tangis Nayara pun pecah kembali setelah mendengarkan penuturan umi Habib.


'Kenapa Mas Habib begitu mencintai ku' batin Nayara menangis pilu. Laki-laki itu terlalu baik kepadanya.


"Mas Habib akan mendapatkan istri yang lebih baik dari ku di surga nanti, umi," isak Nayara.


Ya, bidadari surga telah menanti kehadirannya.


Umi Habib memeluk Nayara lalu mengajaknya pulang. Tidak baik terus meratap di kuburan.


***


Di rumahnya Nayara baru tahu kenyataan yang sebenarnya mengenai mata suaminya bukan hanya dari Umi Habib saja tapi juga dari kedua orang tuanya.


"Jadi mata Mas Bri sekarang adalah mata Mas Habib," gumam Nayara.


Ayahnya menyakinkan Nayara bahwa apa yang diucapkan oleh umi Habib itu memang benar.


"Sebaiknya Bri tidak perlu tahu siapa pendonor matanya," ujar Sulaiman.


"Iya, apalagi sampai tau kalau yang donor mencintai kamu, Nay," tambah ibunya mengingatkan Nayara.


Nayara hanya mengangguk. Sudah dua malam dia di rumah ayahnya tetapi belum ada kabar apakah Abrisam akan menceraikannya atau tidak.


Niken datang menghampiri Nayara yang masih berbincang-bincang dengan kedua orang tuanya itu.


'Randy ke sini, apa dia membawa surat cerai dari Abrisam,' pikir Nayara.


"Aku temui Randy dulu," pamit Nayara kepada ayah dan ibunya.Nayara keluar menemui Randy yang sudah menunggunya dari tadi di teras.


"Nay," panggil Randy lalu berdiri dari kursi di teras ketika melihat Nayara menghampirinya.


Randy mengamati muka Nayara yang tampak sembab seperti habis menangis.


"Kamu bawa surat cerainya?," tanya Nayara langsung. Dia tidak mau berbasa-basi lagi.


"Surat cerai apa, Nay?. Aku ke sini mau ngasih tau kamu kalau Tuan Bri diopname di rumah sakit," jawab Randy dengan wajah sendu.


Nayara terkejut menatap Randy. 'Sakit apa dia?' tanya batin Nayara.


"Sejak kamu pergi, semua yang dimakan Tuan Bri selalu dimuntahkannya. Sampai akhirnya dia diopname karena badannya lemas dan tidak bertenaga. Kamu nggak mau kan kehilangan dia, sama seperti kamu kehilangan Habib untuk selamanya," lanjut Randy melihat Nayara yang hanya diam membisu.


"Apa?!," teriak Nayara tidak percaya sambil menutup mulutnya karena ternyata Randy juga tahu kalau Habib sudah meninggal.


'Tidak !!! Aku tidak mau kehilangan orang yang ku cintai' teriak batin Nayara.


"Aku tahu kalau mata Tuan Bri adalah mata Mas Habib. Tapi Tuan Bri tidak tahu...sebaiknya dia memang tidak perlu tau sama sekali siapa pendonor matanya, Nay," ujar Randy. Nayara mengangguk.


"Aku mencintainya, Ran. Tapi dia sudah menghianati aku," ucap Nayara hampir menangis lagi.


"Nay, Tuan Bri tidak pernah menghianati kamu. Dia sangat mencintai kamu, Nay. Apa penting ucapan itu dibandingkan sikapnya. Tuan Bri bukan tukang gombal," jelas Randy.


Sepertinya hati Nayara belum bisa diajak kompromi. Randy harus menjelaskan kepada Nayara agar temannya itu tidak salah paham dengan Tuannya, Abrisam.