A Marriage

A Marriage
Part 22: Pergi darimu



"Kamu pernah nggak sih merasakan perasaan cinta sama seseorang sementara orang itu masih mencintai orang di masa lalunya ?" tanya Nayara kepada Randy ketika mereka sedang  duduk di taman mencari angin.


Randy mengeryitkan dahinya, dia tidak tahu ke mana arah pembicaraan Nayara.


"Belum sih, lagian juga gadis mana yang mau sama sopir sepertiku ini" jawab Randy merendahkan dirinya.


Wajah Randy lumayan juga sih, penampilan saja bak ajudan pribadi. Tinggi, tegap dan berambut cepak.


"Tapi kan gaji kamu lebih besar dari pegawai negeri golongan tiga, Ran," Nayara tersenyum tipis.


Abrisam mendekati Randy dan Nayara yang tampak asik ngobrol di bangku taman yang berbeda. Nayara yang sempat melirik dan tahu kehadiran Abrisam berdiri di belakang Randy, langsung berdiri.


"Ran, aku ke kamar dulu ya," ujar Nayara datar.


Nayara berjalan melewati suaminya tanpa meliriknya sedikit pun. Hatinya berdenyut setiap ingat kejadian di mall dan di pesta Anthony. Dia pun jadi malas melihat Abrisam apalagi berbicara dengannya.


"Eh, Tuan Bri," Randy segera berdiri setelah menyadari kehadiran Abrisam di belakangnya.


"Kenapa aku datang, dia malah pergi?," tanya Abrisam heran setelah melihat Nayara pergi dari hadapannya.


"Oh...itu. Saya juga tidak tahu, Tuan," jawab Randy tersenyum bingung.


Sungguh Randy tidak tahu ada apa di antara mereka. 'Apa pertanyaan Nay tadi ada hubungan dengan tuannya?,' pikir Randy.


***


Nayara ke kamar lebih dulu, dia melihat dari jendela kamar suaminya masih mengobrol dengan Randy.


Malam ini, dia tidak dapat memejamkan matanya. Hingga Abrisam menyusulnya ke kamar, dia hanya pura-pura tertidur saja. Nayara tidur memunggungi suaminya. Tiba-tiba dia merasakan badan Abrisam merapat ke punggungnya lalu menciumi tengkuknya.


Nayara memejamkan matanya. Dia tidak bisa memenuhi keinginan suaminya malam ini karena hatinya telah tersakiti. Nayara lalu bangun dan duduk di sisi ranjang memunggungi Abrisam.


"Maaf Mas. Aku tidak bisa. Sebaiknya Mas tidak usah menyentuh aku lagi," ucap Nayara datar memberi peringatan kepada Abrisam.


Abrisam begitu kaget mendengar ucapan istrinya. Apa maksudnya?


"Nay, kamu kenapa? Sejak Mas pulang, tingkah kamu jadi aneh begini?," tanya Abrisam heran.


"Kamu bicara apa, Nay?" Sungguh Abrisam benar-benar tidak mengerti apa maksud ucapan Nayara.


"Sudahlah Mas!!. Nggak usah berpura-pura. Mas ternyata masih mencintai dia, kan ?," tuduh Nayara dengan nada tinggi. Dia benar-benar kesal dengan sikap suaminya yang seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


"Dia siapa?!!" tanya Abrisam pun berteriak tak kalah kesal dengan tingkah istrinya itu.


"Aura!!!" balas Nayara tak kalah nyaringnya berteriak kepada suaminya.


"Pantas saja Mas tidak pernah mengucapkan kata cinta kepadaku. itu karena Mas masih mencintainya. Iya kan?," sambung Nayara dengan mata berkaca menuntut jawaban dari Abrisam.


Abrisam hanya diam mencerna kata-kata Nayara. Bagaimana bisa Nayara menuduhnya masih mencintai wanita yang sudah dia hapus dalam hatinya.


"Kalau Mas ingin kembali lagi dengannya. Kembalilah!!. Aku tunggu surat cerai dari Mas di rumah ayah. Akan ku tanda tangani. Tugasku mengurus Mas sudah selesai. Sekarang Mas tidak membutuhkan aku lagi. Aku pergi," tegas Nayara tidak ingin berlama-lama lagi di hadapan Abrisam.


Nayara lalu mengambil tasnya dan pergi meninggalkan kamar. Dia tidak perlu membawa pakaiannya karena di rumah orang tuanya juga masih ada sisa pakaiannya di sana.


"Nay...tunggu!!!" teriak Abrisam memanggilnya.


Nayara tak menggubris panggilan suaminya.  Dia terus berjalan cepat sambil memanggil Randy.


"Ran, antar aku pulang ke kampung," pinta Nayara.


"Malam-malam begini?," tanya Randy terkejut.


"Cepat, Ran !!! Jangan banyak tanya lagi," teriak Nayara marah.


Randy yang tidak tahu menahu ikut terkena amarah Nayara juga. Laki-laki itu pun menurut saja melihat Nayara tampak seperti singa betina yang sedang mengamuk. Belum pernah dia melihat Nayara semarah itu.


"Nay...Nayara!!!" teriak Abrisam mengejar Nayara yang sudah masuk ke dalam mobil.


Abrisam menatap nanar mobil yang sudah membawa Nayara pergi meninggalkan rumah mewah papanya.


Nayara tidak memikirkan lagi bahwa tindakannya pergi tanpa izin suami itu memang tidak dibenarkan. Saat ini yang ada di dalam benaknya, dia hanya ingin menenangkan diri tanpa harus bertemu Abrisam.