A Marriage

A Marriage
Part 10



Setelah melepaskan hasratnya dan mandi bersama, Bara pun sudah rapi kembali dengan atribut kantornya.


"Biya, ayo kita makan" ajak Bara mendekati istrinya yang sedang duduk mengeringkan rambutnya.


"Nanti, Mas. Aku mau mengeringkan rambutku dulu" tolak Sabiya karena rambutnya masih setengah kering. Kalau mama mertuanya tahu rambutnya basah, malu deh ketahuan habis bercinta di siang hari.


"Nanti dilanjutkan lagi kalau aku sudah pergi" ujar Bara sedikit memaksa. Sabiya pun akhirnya menurut. Dia menyambar jilbab langsungnya. Kenapa di dalam rumah saja dia masih memakai hijabnya?. Karena di rumah itu ada suami Bik Leha dan Bik Mia yang tinggal di sana.


Mereka berdua turun bersama menuju ke meja makan. Mama Bara melihat anak dan menantunya itu baru mau makan siang padahal sudah satu jam mereka berada di dalam kamar.


"Baru mau makan" ledek mama Bara melihat rambut anaknya yang terlihat basah. Bara hanya tersenyum sambil memegang tengkuknya. Dia salah tingkah sendiri. Mamanya pasti bisa menebak apa alasan Bara pulang sebentar. Dasar pengantin baru.


"Mama makan duluan. Kalian sih, lama sekali di dalam kamar" sindir mama Bara sambil melirik menantunya yang tampak tersipu malu. Pasangan itu saling pandang dan melempar senyum.


"Ya, sudah. Makan sana. Energi sudah banyak keluar harus banyak makannya" ucap mama Bara sambil melenggang meninggalkan pasangan yang sedang dimabuk asmara itu.


"Ini semua karena ulah Mas tahu nggak" omel Sabiya sambil menarik kursi.


"Eh, karena ulah kamu semalam juga, makanya aku pulang" Bara tidak mau disalahkan.


"Nggak usah ngomel kalau sama-sama menikmatinya. Ayo, makan" lanjut Bara tersenyum sambil mengambil nasi.


"Aaaa!!" Sabiya malu sendiri lalu mencubit pinggang Bara.


"Biya, hentikan!!" jerit Bara. Sabiya tertawa kecil lalu menyodorkan piringnya agar Bara mengambilkannya nasi juga.


Setelah makan siang, Bara pun kembali ke kantor. Sementara Sabiya masuk kembali ke kamarnya. Wanita muda itu menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.


Sabiya memejamkan matanya karena teringat kembali momen ketika Bara mencumbunya. "Aaaa!!!. Ternyata begini rasanya kalau sudah halal" teriak Sabiya malu.


Sabiya menutup wajahnya dengan bantal karena bayangan tubuh seksi Bara melintas di pikirannya. Meskipun usianya sudah kepala tiga, tubuh Bara tetap bugar dan padat berotot. Itu karena Bara rajin nge-gym setiap waktu weekend.


Keesokan harinya


Mama Bara sudah pulang ke rumahnya. Dia merasa senang karena anaknya menikah juga meskipun secara dadakan. Sebelum pulang dia berpesan kepada Bara untuk mempersiapkan rencana resepsi pernikahan mereka. Bagaimana pun juga semua orang harus tahu kalau Sabiya sudah menikah walaupun dia masih kuliah.


Sikap Sabiya yang masih manja sangat Bara maklumi. Dia anak semata wayang almarhum sahabatnya. Bara pun tidak segan-segan untuk memanjakan istrinya itu. Sabiya masih saja bersikap malu-malu dengannya. Mereka pun tampak seperti pasangan yang sedang pacaran saja padahal sudah halal.


Hingga suatu waktu, Elsa tanpa sengaja melihat keduanya sedang berciuman di dalam mobil ketika Bara menjemput Sabiya di kampus.


"Biya, aku mau bicara sebentar" ujar Elsa menarik tangan temannya itu.


"Ada apa, El?" tanya Sabiya penasaran kenapa Elsa sampai menarik-nariknya begitu. Mumpung mereka belum bertemu dengan Irma dan Suci.


"Kamu dengan Om Bara pacaran, ya?" selidik Elsa dengan tatapan mengintimidasinya.


"Ti ... tidak, kok" elak Sabiya gugup. Bagaimana Elsa bisa menduganya begitu.


"Tidak?. Tapi kenapa kalian berciuman di dalam mobil?" pertanyaan Elsa benar-benar menohoknya. Sabiya langsung teringat Bara menciumnya ketika menjemputnya pulang.


"El ... sebenarnya aku dan Om Bara sudah ..." cerita Sabiya ragu.


"Sudah apa?" Elsa semakin penasaran karena Sabiya tidak menyelesaikan ucapannya.


"Ketika papaku masih di rumah sakit, Om Bara menikahi aku karena pesan terakhir papa. Dan setelah ijab qabul itu papaku menghembuskan napas terakhirnya" jawab Sabiya jujur dengan raut wajah sedih.


Elsa kemudian menyunggingkan senyuman. "Kamu mencintai Om Bara sejak kapan?" selidik Elsa.


"Tidak tahu" Sabiya menggendikkan bahunya. "Mungkin setelah aku menikah dengannya. Entahlah." Sabiya juga bingung menjawabnya.


"Aku akan memberitahu Irma dan Suci, ya. Pasti ada yang patah hati" Elsa terkekeh sendiri.


"Kamu itu, ada-ada saja" ucap Sabiya malu.


"Biya, kamu udah tidur bersama dengan Om Bara?" tanya Elsa kepo. Sabiya hanya mengangguk.


"Wah, pasti enak banget tidur di dalam pelukan laki-laki tampan bertubuh atletis seperti Om Bara" seru Elsa sambil mengedipkan matanya.


"Elsa!!" teriak Sabiya malu. Elsa hanya cekikikan melihat Sabiya tersipu malu.


"Hei, kalian berdua kenapa?" teriak Irma berjalan bersama suci. Mereka melihat Elsa tertawa sementara wajah Sabiya sudah bersemu merah.


"Kalian tahu nggak? Teman kita ini, ternyata sudah menikah dengan si ganteng, Om Bara" celetuk Elsa.


Mulut Irma dan suci menganga. Mereka berdua terkejut bukan main. "Kamu bercanda kan, El?" tatap Suci ke arah Elsa.


"Bercanda kan, Biya?" giliran Irma yang menatap ke arah Sabiya.


Dari mulut Elsa mengalirkan cerita bagaimana Sabiya sampai bisa menikah dengan Om tampan itu.


"Ya, Allah, Biya. Aku turut berduka cita dengan meninggalnya kedua orang tuamu" ucap Suci sedih. Begitu juga dengan Irma meskipun dia sudah tahu sebelumnya. Suci memang patah hati, tapi membayangkan Sabiya yang tidak memiliki orang tua lagi. Dia pun mengikhlaskan rasa cinta kepada Bara menguap begitu saja demi temannya. Suci bersyukur masih memiliki orang tua yang masih lengkap.


"Biya, aku nggak nyangka kamu nanti akan menjadi mama muda" ujar suci menggoda Sabiya agar suasana tidak larut dalam kesedihan.


"Ah, kalian apaan, sih. Aku belum mau punya anak, tahu nggak!" elak Sabiya. Gimana nggak mau punya anak, Sabiya tidak sadar bahwa Bara tidak pernah memakai pengaman.


"Astaga, nih anak. Kalau kalian sedang gituan. Om bara pakai pengaman nggak?" tanya Elsa.


"Pengaman apa?" tanya Sabiya lugu.


"******, Biya!!!" teriak mereka bertiga gemas dengan pertanyaan polos Sabiya.


Sontak beberapa mahasiswa yang berada di sekitar mereka menoleh ke arah empat gadis itu, ralat, tiga orang gadis dan satu orang sudah menikah. Mereka menatap ke arah Sabiya dan teman-temannya dengan tatapan heran.


"Ssst. Mulut kalian, tuh pada ngelihatin kita semua" bisik Sabiya malu.


Sabiya berpikir dan mengingat aktivitas intim mereka. Rasanya Bara tidak pernah menggunakan alat tersebut.


"Nggak apa juga, Biya. Kalau kamu menunda punya anak, Om Bara keburu tua sementara kamu masih muda" ucap Suci.


"Benar, asalkan tidak mengganggu kuliah kamu. Aku rasa nggak apa juga masih kuliah udah punya anak. Om Bara kan kaya jadi bisa pakai baby sitter untuk mengasuh anak kalian nanti" Irma juga setuju dan mendukung Sabiya.


Sabiya belum memikirkannya hal itu. Sebenarnya tidak ada dalam bayangannya menikah diusia muda. Dia ingin fokus belajar. Namun keadaan yang mengubah segalanya.


"By the way, enak nggak punya suami?" tanya Suci.


"Enaklah. Kalau tidur ada yang ngelonin" jawab Elsa. Sabiya menonjok pelan pundak Elsa.


Mereka bertiga tertawa sambil berjalan menuju ke kelas mereka. Sabiya pun tak luput digoda terus oleh teman-temannya itu.